HAL YANG MUNGKIN KALIAN LEWATKAN MENGENAI ATURAN FLEXING HARTA KEKAYAAN DI CHINA

“Saya mendapat ulasan beragam tentang warna bugatti saya. Beberapa orang menyukainya, beberapa orang tidak menyukainya. Jadi saya berkata, ‘Apa warna bugatti Anda?’” – Andrew Tate, Top G.

This is it, the kind of news I like to hear.

As you all aware, beberapa platform media sosial di Cina mengumumkan bahwa mereka berkomitmen untuk menindak konten negatif such as memamerkan kekayaan dan mempromosikan materialisme. Bagi akun yang ditemukan melanggar aturan, bakal dikenakan penghapusan dan pemblokiran.

Langkah ini merupakan upaya yang lebih luas untuk mempromosikan nilai-nilai konsumsi rasional dan menciptakan ekosistem online yang sehat.

Tiongkok telah mengkampanyekan larangan memamerkan kekayaan di akun media sosial dari beberapa influencer yang kerap melakukan flexing dan memblokirnya.

Pada bulan April, China’s internet watchdog, meluncurkan kampanye “Clear and Bright” untuk menghapus konten yang tidak diinginkan media sosial. Mereka bersumpah akan menindak influencer yang menciptakan “Kepribadian mewah untuk memenuhi kebutuhan vulgar dan dengan sengaja menampilkan gaya hidup glamour yang diisi dengan uang” atau biasa disebut si tukang flexing. 

Pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir berusaha memperketat pengendalian sosial media para influencer yang menyalahi aturan. Bahkan beberapa pihak berwenang sering mengkritik konten-konten yang berbau ‘flexing.’

BACA JUGA: 4 CARA MELAPORKAN KASUS CYBERBULLYING

So, what are the reasons for this ban?

Douyin, aplikasi video pendek yang sangat populer di Cina mengumumkan bahwa ada enam jenis konten termasuk “Memamerkan kekayaan” yang sekarang telah dilarang di platform, karena mempromosikan “Nilai-nilai yang tidak sehat.”

Enam kategori serupa diidentifikasi termasuk mempromosikan pemujaan uang, menggunakan anak di bawah umur dalam video terkait menggunakan produk mewah dan memamerkan status sosial seseorang dengan cara yang tidak pantas, mencakup mengolok-olok orang miskin.

Here is the thing, hal-hal di atas selaras dengan slogan CCP, Chinese Communist Party. Yaitu, kemakmuran umum atau Common Prosperity.

Yes, that’s the actual reason in my opinion, untuk kemakmuran bersama. Memamerkan konten flexing harta kekayaan dimana terdapat kesenjangan sosial luar biasa bukan merupakan hal yang bisa diterima jika tujuannya adalah untuk meratakan kemakmuran.

Which is makes sense, dengan pamer kekayaan di sosial media, kamu bisa menjadi kaya dengan endorse dan sebagainya. Belum lagi jika melakukan live di sosial media. Trus, disawer sama followernya yang lets just say, lebih miskin dari mereka.

BACA JUGA: REUNI MERUPAKAN AJANG UNTUK FLEXING

Si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Tahu kan arahnya ke mana, ban macam ini? I believe you guys could connect the dots.

Inisiatif “Common Prosperity” Presiden Tiongkok Xi Jinping mengurangi ketidaksetaraan ekonomi dengan cara  menghasilkan denda besar-besaran bagi influencer yang melakukan acara langsung. Salah satunya, “Ratu streaming langsung” China, Viya, yang dipaksa membayar denda 204 juta dollar USD untuk penggelapan pajak.

Now, let’s dive into it further

Aku bilang di awal bahwa pemerintah China mengambil langkah ini sebagai bagian dari upaya mempromosikan nilai-nilai konsumsi rasional. Here is the question, beneran bisa gitu nggak?

Terdapat sebuah studi yang dipublish dalam International Journal of Advanced Science and Technology yang  di dalamnya menjelaskan bahwa, well, Imma just quote it:

“The current research proved a significant relationship between the attraction of celebrities endorsed and an increase in the level of materialism. It indicates that youngsters are more attracted to the glamorous lifestyle of celebrities. They are fascinated with the idealised picture of celebrities portrayed in advertisements.”

Okay, gampangnya seperti ini.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa daya tarik selebriti dalam iklan meningkatkan materialisme. Remaja lebih tertarik pada gaya hidup glamor selebriti yang ditampilkan di iklan.

Dapat disimpulkan bahwa langkah China melakukan larangan flexing harta dapat mengurangi un-rational spending. Jangan salah, endorse juga merupakan sebuah iklan. Iklan yang ditampilkan influencer di sosial media berbeda dengan iklan yang ditampilkan di TV atau di tengah-tengah video YouTube.

Memakai baju, sepatu, perhiasan, minum, makan dan naik kendaraan apa, itu juga termasuk ke dalam sebuah iklan. Walaupun mereka termasuk soft selling ya.

BACA JUGA: GA USAH IRI LIAT ORANG FLEXING, BISA AJA FLEXING HARTA HASIL KEJAHATAN KAN?

What is my take about this?

Banyak sekali konten sampah yang isinya cuma memamerkan harta tanpa ada substansial apapun selain bertujuan untuk flexing. Larangan macam ini juga sudah banyak di Indonesia, walaupun bukan specifically ke flexing. Contoh, kasus mandi lumpur. You guys know what happens.

Currently, aturan yang melarang konten flexing kekayaan secara spesifik belum diterapkan di Indonesia. Meskipun demikian, perhatian terhadap konten yang tidak bermutu dan tidak mendidik mulai meningkat di kalangan masyarakat dan pemerintah. 

Tanpa adanya regulasi yang jelas, berbagai konten pamer harta dan gaya hidup mewah masih banyak beredar di media sosial, yang dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku konsumsi masyarakat, terutama generasi muda. This shows that Indonesia mungkin perlu mempertimbangkan kebijakan serupa untuk mengatur dan mengawasi konten di platform digital demi menciptakan ekosistem online yang lebih sehat dan berimbang.

My comment is, well, Indonesia cuma butuh waktu aja buat nerapin hal kaya gini. Hal yang aling penting sebelum mengatur orang-orang yang bermain sosial media adalah mengatur sosial medianya terlebih dahulu. CYA.

“Broke people try to make money because they want to buy things.” – Andrew Tate, Top G.

Pratama Nugraha Purwiyatna
Pratama Nugraha Purwiyatna
Web Master Klikhukum

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id