PANDUAN PACARAN SESUAI ATURAN HUKUM YANG BERLAKU

Februari dikenal sebagai bulan kasih sayang. Untuk terwujudnya kasih sayang setidaknya minimal ada dua frekuensi yang dialirkan. Yaitu, rasa mengasihi dan menyayangi dilakukan oleh kedua belah pihak. 

Mumpung hari kasih sayang (valentine) masih empat hari lagi, sejak tulisan ini diterbitkan. Buat kamu-kamu yang mau nembak (peristiwa menyatakan cinta) gebetannya di momen valentine, saran saya simak dulu artikel unik satu ini.

Tujuannya adalah supaya dalam menjalin hubungan asmara dalam kontek pacaran, kamu tidak salah langkah. Masih mending salah langkah, kalo sampai salahnya melawan hukum, kan malah bahaya.

Tapi sebelumnya saya mau tanya dulu nih.

Sejatinya di era generasi sandwich seperti sekarang ini, momen menyatakan cinta masih penting gak sih, menurut kalian ?

Which is, kalau saya pribadi ngapain coba harus menyatakan cinta dan pacaran. Jika masih bisa menjalin Friend With Benefits. Tau sendiri kan, kalo sistemnya orang pacaran itu bagaimana, salah langkah bisa toxic relationship. Parahnya mereka bisa sampai cutting. Kan sangat gak banget, buat mental health kita pren.

BACA JUGA: TUTORIAL MEMBUAT GUGATAN CERAI

Literally saya sih, tetap memegang teguh ideologi “Say no cutting, say yes to cuddling.” 

Tapi tak apalah, sekaligus tulisan ini saya persembahkan buat kamu yang masih pengen merasakan apa itu romansa percintaan. Bagaimana terasa spesialnya kalo dalam setiap momen ada yang ngingetin. Dan kali aja kamu juga pengen merasakan culture problematika ribut memilih menu makanan.

Ini saya kasih panduannya yah pren, tata cara memilih pacar atau berpacaran sesuai aturan hukum yang berlaku. Tulisan ini saya sajikan special serta terkhusus buat kamu.

Pertama, pastikan pacarmu berbeda jenis kelamin.

Ini merupakan prinsip dasar sih, sebelum kamu memutuskan untuk menerima cinta yang dia ungkapkan, pastikanlah bahwa jenis kelamin kalian itu berbeda. Misalnya, kamu posisi perempuan, berarti yang harus nembak kamu yaitu laki-laki. 

Panduan ini merupakan pedoman dasar atau legalstanding kalo istilah hukumnya. Which is bukannya saya anti terhadap mereka yang merayakan konsep LGBT. Cuma kalo ngomongin masalah hukum, faktanya jenis kelamin harus berbeda jika mau menjalin suatu ikatan percintaan.

Kalo gak percaya coba deh, buka UU Perkawinan No. 1 tahun 1974. Kan puncak pacaran adalah menikah, sedang dalam UU tersebut yang boleh menikah adalah mereka yang jenis kelaminnya berbeda. So, gak salah dong, saya memasukkan konsep ini sebagai dasar pedoman untuk menjalin hubungan percintaan sesuai aturan hukum.

Kedua, pastikan pacarmu sehat secara mental.

Syarat kedua juga merupakan syarat wajib. Selain kelaminnya harus beda, kamu harus memastikan bahwa calon pacarmu sehat secara mental atau tidak masuk ke kategori ODGJ.

Kenapa demikian, karena kalo dapat dibuktikan bahwa ternyata pacarmu mengalami gangguan mental (ODGJ) maka dipastikan doi tidak cakap hukum. 

Misalnya nih, kamu dipukul, diludahi atau digelitikin sampe pingsan bahkan kejang-kejang, kamu tidak bisa menuntut dia. Soalnya dia tidak cakap hukum. Kalo kamu gak percaya, bisa dibaca Pasal 44 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Ketiga, jangan pacaran sama suami/istri orang lain.

Jika kalian tidak ingin dituduh melakukan zina, sebaiknya hindari menjalin suatu hubungan asmara atau percintaan dengan suami/istri orang lain.

Saya yakin pacaran kalian sehat, tapi jika kalian ngotot melakukannya. Waah, sangat riskan dituduh zina. Makannya sebelum kamu mengatakan “Iya” untuk berpacaran, pastikanlah pacarmu itu bukan milik sah orang lain.

BACA JUGA: SANKSI HUKUM UNTUK PACAR YANG GAK BERTANGGUNGJAWAB

Kalo gak percaya apa yang saya omongin, kamu bisa buka Pasal 284 KUHP tentang perzinaan. kira-kira ada celah gak pasal tersebut untuk menjerat kamu ketika ngotot berpacaran sama suami/istri orang lain.

Keempat, jangan pacaran sama keluarga terdekat (sedarah).

Nah, kalo ini konyol lagi. Masa iya, kamu mau pacaran sama ponakan atau sama saudara dari ayah dan ibumu. Lakyo gak masuk akal dong.

Emang sih, sekarang lagi era pandemi dan momentum bertemu orang lain sangatlah jarang, tapi ini bukan menjadi dasar alasan buat pacarin sodaramu sendiri.

Kui jenenge koe kuper pren. Secara UU Perkawinan menikah dengan saudara terdekat faktanya dilarang, kalo sampe menikah pun secara medis itu bermasalah loh. Kalo kata halodoc. com resikonya jika anak lahir  bisa cacat mental atau memiliki imun yang sangat lemah.

Nah, cukup jelaskan, prinsip kenapa kamu harus jeli memilih pacar. Pacaran, apalagi menikah bukan hanya dilandasi hubungan suka dan menyukai antar kedua belah pihak, namun juga harus tetap memperhatikan aturan dan kaidah hukum yang berlaku. 

One thought on “PANDUAN PACARAN SESUAI ATURAN HUKUM YANG BERLAKU

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum.id