LIKA-LIKU JADI PENGACARA

Ketika pertama kali mendengar kata advokat, pasti deh, yang terbesit pertama kali di pikiran kita aroma-aroma kemewahan, mobil keren, pintar, sekretaris yang cantik dan aduhay, pokoknya yang necis dan mbois. 

Stigma kebanyakan orang terhadap profesi advokat, seakan jauh dari kemiskinan. Padahal kenyataannya dompet kita juga sering mengandung bawang. 

Huh, banyak sekali orang yang pengen menjadi seorang advokat, hanya karena melihat permukaannya saja. Hmm, belum tau dia, beratnya hidup jadi advokat. 

Kalian tahu gak, di balik images gemerlapnya profesi advokat, sistem kerjanya itu tidak mudah lho. Teruntuk kalian yang lemah, gak kuat fisik dan mental, jauh-jauh sana deh. Seperti kata Spiderman, “Dalam kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar.”

Setelah menandatangani surat kuasa, maka beban permasalahan hukum klien beralih kepada advokat. 

Seorang pengacara harus berpikir keras bagaimana cara membela hak-hak hukum kliennya agar permasalahan yang dihadapi klien bisa terselesaikan dengan baik. 

Ingat, diselesaikan ya, jangan ditambah penderitaannya! 

BACA JUGA: APA AJA RESIKO JADI PENGACARA? YA, JELAS BANYAK

seorang advokat harus siap siaga 1×24 jam untuk dihubungi. Misalnya saja dalam kasus pidana, klien bisa tiba-tiba, ujug-ujug, mak bedunduk telepon dan minta didampingi.

Contohnya gini, jika ada penangkapan seorang klien tengah malam dan butuh pendampingan, maka seorang advokat harus siap untuk mendampingi klien dan memastikan hak-hak klien yang sudah dijamin dalam KUHAP bisa terpenuhi dan tidak ada yang dilanggar. 

Selain itu seorang advokat harus siap untuk menjadi pendengar yang baik ketika si klien curhat tentang masalah-masalahnya. Apesnya, kadang klien over left dan curhat masalah pribadi di luar perkara yang ditangani sama si advokat.  

Ya, wajar sih, karena curhat dengan advokat itu bikin nyaman. Terkadang klien juga menganggap seorang advokat adalah orang yang serba tahu. Makanya seorang advokat sebisa mungkin harus cosplay tegar dan antusias dengerin curhatan klien, walaupun terkadang kita anggap curhatan klien itu gak penting.

Jadi seorang advokat juga dituntut untuk bijak dan berpikiran dewasa walaupun kita masih muda. Kenapa gitu? Karena dalam prakteknya kadang-kadang seorang advokat harus bisa menasehati klien, walaupun secara usia si klien lebih tua dari si advokat.

BACA JUGA: MASUK JURUSAN HUKUM BISA KERJA APA?

Biasanya advokat akan menasehati kliennya, khususnya jika si klien menjadi terlapor atau tersangka dalam perkara pidana. Ya, setidaknya biar gak mengulangi lagi perbuatannya. Sok-sok bijak begitu sih. 

Kadang advokat juga harus menasehati kliennya yang baru diputus cerai oleh pengadilan.  Yaaa, semacam menasehati klien yang baru menyandang status sebagai janda atau duda agar bisa segera move on dan segera mendapatkan gantinya yang lebih baik. 

Seorang advokat juga wajib punya fisik yang sehat, walaupun gak harus sixpack juga sih. Yaa, yang penting advokat itu harus sehat, biar bisa fokus ketika mendampingi pemeriksaan klien yang umumnya menghabiskan waktu berjam-jam. Apalagi jika sedang sidang tipikor (tindak pidana korupsi) dengan agenda pemeriksaan saksi. Dahlahh, itu bisa sidang dari pagi sampai malam. Padahal hal tersebut belum tentu tuntas dan masih lanjut agenda sidangnya di kemudian hari. So, fisik yang sehat juga menjadi hal yang utama ketika menjadi advokat. 

Gimana, berat kan jadi advokat? Kamu gak bakal kuat, biar aku aja. Tapi, kalo kamu tertarik menjadi advokat? Semangat mencoba yaa. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum.id