NOKTAH MERAH PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA, SEBUAH RANGKUMAN BILIK HUKUM.

5 menit

Pie ndes, kalian-kalian pada nonton acara live Facebook di fanspage klikhukum.id kemarin gak? Bilik Hukum yang ditayangin hari Jumat tanggal 7 Agustus 2020 jam 20.00 WIB, ngangkat tema kekerasan pada anak dengan judul, “Realita Hukum Perlindungan Anak di Indonesia.” Kalo belum nonton, buruan deh nonton sana ndes, biar wawasanmu yang sempit itu kebuka.

Di Bilik Hukum episode itu si pembawa acara Mbak Nana Iguana dan tentunya saya sendiri Mas Foxtrot yang berbudi luhur, ngobrol seputar dunia perlindungan anak ditemeni relawan dari Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak ( Satgas PPA) Yogyakarta, Mas Argo dan Mbak Tata.

Saat itu sekelas Foxtrot yang ganteng ini kaget ndes, bayangin Foxtrot aja kaget apalagi kalian. Ternyata kekerasan anak di Indonesia ini udah masuk dalam tahap gawat darurat (dan menyeramkan kalo boleh nambahin). Untungnya Yogyakarta sebagai provinsi dengan masyarakatnya yang sangat heterogen dengan segala latar belakang budaya, ternyata aware banget dengan kasus-kasus kekerasan pada anak. Buktinya Yogyakarta sebagai provinsi yang pertama kali mempunyai relawan dan satgas khusus yang peduli terhadap perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan. Banyak juga lembaga swadaya dan instansi yang bergerak bersama untuk memberikan perlindungan pada perempuan dan anak yang mengalami kekerasan.

Minjem slogan 7/24-nya Mcd, kayaknya pas banget ngegambarin jam kerja para relawan ini ndes. Tujuh hari dalam seminggu dan 24 jam dalam sehari, itulah jam kerja relawan-relawan ini, warbyasak emang. Lemah teles, Gusti Allah sik mbales mas dab dan mbak berow.

Gimana, udah ditonton belum? Jaminan kalian pasti mbrebes mili ndes habis nonton acara itu, kalo enggak, ya udah buruan periksa kesehatanmu ke psikolog terdekat sana.

BACA JUGA: KILL ME HEAL ME, REFLEKSI KEKERASAN PSIKIS PADA ANAK

Menurut Mbak Tata yang udah teles kebes (basah kuyub) di dunia perlindungan anak sejak medio 90-an akhir, kejahatan berupa kekerasan pada anak di Indonesia saat ini bener-bener udah masuk fase gawat darurat. Kalian-kalian semua harus sadar dan peduli dengan anak-anak di lingkungan sekitarmu ndes!

Oiya, kata Mas Argo, kalo kita ngomongin kejahatan berupa kekerasan terhadap anak, berarti kita ngomong soal kejahatan yang (bisa jadi) pelaku dan korbannya adalah manusia dengan usia di bawah 18 tahun ya ndes.

Awalnya dalam bayangan Foxtrot, kekerasan pada anak itu hanya berbentuk perkelahian seperti klithih yang marak beberapa saat lalu, ato pol mentok kekerasan yang dilakukan bapak ke anaknya. Ternyata bayangan itu salah, kekerasan pada anak jauh, jauh, jaaauuuuuuhhhhhh lebih buruk daripada sekedar klithih dan bapak mukul anak. Ngeri ndes, kayak dibilang Mbak Tata itu tadi, kalo Indonesia sekarang udah masuk fase gawat darurat kekerasan seksual.

Banyak banget ndes contoh nyata kejadiannya, kuatkan hatimu ndes. Misalnya ada anak yang udah dicabuli sama bapak kandungnya dan setelah bertahun-tahun kemudian baru terungkap, itu pun dapet perlawanan dari lingkungan masyarakat sekitar. Lingkungan dan beberapa tokoh masyarakat sekitar tempat tinggal korban pengennya masalah ini diselesaikan baik-baik tanpa melibatkan aparat penegak hukum, mereka beranggapan masalah tersebut ‘hanya’ masalah biasa dalam keluarga. Masalah biasa kepalamu itu Pak! Mereka malah pingin ibu dan si anak korban kekerasan seksual ini yang diusir keluar dari kampung tempat tinggalnya. Edan to ndes.

Ngeliat dari kejadian di atas bisa disimpulkan kalo ada yang salah dengan pola pikir sebagian masyarakat di sana, mereka abai terhadap kejahatan yang terjadi di lingkungannya. Padahal nih ya, Foxtrot kasih tau, gak perlu jadi penjahat untuk ikut melakukan sebuah kejahatan. Kalian diam saja ngeliat sebuah kejahatan yang sedang berlangsung di depan matamu, itu sama aja kalian ikut terlibat lo ndes. Kalo bukan kita yang sadar hal ini, trus siapa lagi yang harus sadar?

Kadang ada juga kasus kekerasan anak, yang mana korbannya tidak merasa menjadi korban. Seperti sebuah kejadian yang terjadi di sebuah kota di pulau Jawa bagian barat sana. Kata Mba Tata, ada sekelompok anak yang sebelumnya jadi korban kekerasan seksual oleh pelaku yang dianggap ‘kakak’ bagi para korban. Inget ada kata ‘sekelompok’ yang artinya anak korban ini bwuanyak ya ndes. Kemudian si kelompok anak korban ini patungan duit untuk diserahkan ke Pak Polisi buat ngebebasin ‘kakak’ tersebut dari tahanan. Kelompok anak korban tersebut gak ngerasa jadi korban ndes. Gila memang, pemerintah kudu turun tangan nih, karena gak cuma sel teroris aja yang perlu upaya deradikalisasi. Pakdhe, ini loh, banyak anak korban kekerasan perlu pendampingan dalam upaya meningkatkan kesadaran para anak korban.

Anak dengan criminal mind, apa bisa? Kenyataannya bisa ndes, ada anak yang setelah nonton acara bertema detektif yang berusaha mengungkap pelaku kejahatan, si anak malah belajar dari tontonan itu gimana caranya ngelakuin kejahatan biar susah untuk diungkap. Piye, mau komentar apa lagi ndes?

Belum lagi soal mata rantai di bidang kekerasan terhadap anak, faktanya banyak predator anak ternyata adalah korban kekerasan di masa lalunya. Jadi ndes, kalo anak korban gak ditangani secara menyeluruh, maka mereka berpotensi besar jadi pelaku kekerasan anak di masa depan. Padahal di pundak anak-anak tersebut terletak masa depan bangsa ini, bisa kamu bayangin gimana Indonesia di masa depan ketika generasi anak-anak jaman sekarang seperti ini ndes.

BACA JUGA: ANAK BUKAN PROPERTI ORANG TUANYA

Banyak faktor penyebab kekerasan terhadap anak, mulai dari ketidaktahuan (dan sikap tidak peduli) para orang tua dan orang di sekitar dalam mendidik anak, faktor lingkungan tempat tinggal, faktor kemajuan jaman (jaman sekarang anak mana yang gak pegang gadget), sampek dengan faktor ekonomi.

Bicara soal kekerasan terhadap anak berarti juga bicara tentang sulitnya pembuktian untuk mengungkap kejadian tersebut. Prinsip unus testis nulus testis susah banget diterapkan karena mayoritas kejadian terjadi di tempat yang privat dan sepi. Kendala bahasa juga seringkali dihadapi ketika memeriksa saksi anak korban kekerasan. Tapi apakah dengan segala keterbatasan dan kendala instrumen penegakkan hukum tersebut kemudian kekerasan terhadap anak terabaikan?

Apakah hukum perlindungan anak di Indonesia saat ini yang hanya menyoal kekerasan dalam rumah tangga? Apakah hukum perlindungan anak dan sistem peradilan pidana anak udah cukup? Foxtrot rasa hukum Indonesia dan instrumen penegakkan hukum yang ada saat ini masih belum mampu menanggulangi kejahatan terhadap anak secara menyeluruh, hanya parsial aja yang bikin jadi sia-sia. Realitanya korban-korban anak masih berjatuhan di mana-mana.

Sudah saatnya masyarakat terbuka mata dan hatinya, serta sadar kalo banyak predator anak di luar sana. Yuk, mari mulai sekarang lebih perhatian dengan kejadian di sekitar kita. Karena kalo bukan kamu, aku, saya, kalian yang berkumpul jadi ‘kita’ lalu siapa lagi?! Sayangi dan lindungi anak, karena anak adalah masa depan sebuah negara.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!