KISAH DUA HAKIM YANG DI ‘BUNGKAM’ SELAMANYA

Akhir-akhir ini, saya sedang tergila-gila dengan kehidupan mafia. Gara-garanya, belum lama ini saya menghabiskan waktu dengan menonton seluruh trilogi film The Godfather, film tentang keluarga mafia yang dibintangi oleh aktor-aktor dengan nama besar macam Marlon Brando, Al Pacino dan Robert de Niro tersebut digadang-gadang sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa.

Iya, iya, saya tahu itu film lama. Film keduanya saja bahkan dirilis di tahun yang sama dengan tahun kelahiran ibu saya. Selain itu, film tersebut sudah pernah tayang beberapa kali di stasiun televisi, sebelum sensor bedebah itu membuat orang-orang semakin malas menonton televisi.

Hanya saja, menonton di usia sekarang membuat saya memahami betapa kerennya film tersebut, hingga akhirnya saya melakukan browsing mengenai sejarah mafia. Salah satu orang yang menarik perhatian saya adalah seseorang bernama Giovanni Brusca, yang terkenal karena keterlibatannya dalam pembunuhan hakim legendaris bernama Giovanni Falcone.

Membaca profil Brusca membuat saya terhenyak, karena mengingatkan saya kepada … Hakim Syafiuddin Kartasasmita, hakim yang dibunuh dengan cara ditembak karena sepak terjangnya dalam menjebloskan putra mahkota Cendana alias putra bungsu Pak Harto yang bernama Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto itu.

FALCONE DAN KEBENCIANNYA PADA MAFIA

Giovanni Falcone merupakan pria kelahiran Sicilia, daerah yang disebut-sebut sebagai tempat asal kelompok mafia yang merajalela di kota-kota besar Amerika Serikat. Menghabiskan masa kecil di sana, Falcone tumbuh menjadi pribadi yang membenci mafia dan segala praktik terkait dunia mafia.

BACA JUGA: DILARANG MAIN HAKIM SENDIRI

Ketika sudah dewasa, Falcone bersama Paolo Borsellino, konconya sesama hakim dari Sicilia yang membenci mafia, memimpin Antimafia Pool, sebuah tim yang ditugasi untuk menyeret Salvatore Riina ke penjara, sebuah tugas yang saat itu terbilang tidak ringan karena saat itu Riina dikenal sebagai ‘bos dari semua bos mafia.’

Dengan status Riina yang demikian, Falcone pun menggunakan berbagai strategi agar dapat menangkapnya, termasuk menggunakan jasa pentiti alias whistleblower dari kalangan mafia yang bersedia bekerjasama dengan penegak hukum agar mendapat keringanan hukuman. Salah satu pentiti tersebut adalah Tomasso Buscetta.

Berkat informasi dari Buscetta tersebut, sebanyak 474 anak buah Riina berhasil ditangkap dan 338 di antaranya dinyatakan bersalah. Gara-gara itu, pemerintah sampai membuat Maxiprocesso, penjara khusus untuk menampung para tahanan tersebut. Prestasi inilah yang membuat pamor Falcone dan Borsellino melejit. Khusus Falcone, dia digadang-gadang menjadi Ketua Pengadilan Palermo dalam sebuah pemilihan.

Sialnya, Falcone kalah dalam pemilihan tersebut, dan pemenangnya diketahui memiliki kedekatan dengan Riina. Walhasil, para anak buah Riina yang ditahan di Maxiprocesso tersebut dibebaskan dan Riina mengutus Giovanni Brusca untuk menghabisi nyawa Falcone dan Borsellino.

Caranya? Brusca memasang bahan peledak di jalan yang akan dilalui Falcone. Begitu mobil Falcone diketahui mendekati jalan tersebut, Brusca memencet detonator sehingga Falcone tidak dapat menghindari ledakan dan tewas di tempat. Sedangkan untuk Borsellino, Brusca menanam bom di mobil Borsellino dan meledakkannya ketika Borsellino berada di dalam mobil tersebut.

Kematian kedua hakim tersebut membuat rakyat Italia muntab dan memburu Riina serta komplotannya. Pada akhirnya, Riina dan Brusca berhasil ditangkap. Khusus Brusca, dia pun menawarkan diri menjadi pentiti untuk mendapat keringanan hukuman dan salah satu informasi yang dia bocorkan adalah keterlibatan Menteri Dalam Negeri Italia waktu itu, Nicola Mancino atas pembunuhan Falcone.

SYAFIUDDIN DAN KASUS-KASUS ORDE BARU

Apakah terdapat kasus yang sama dengan yang menimpa Hakim Falcone di Indonesia? Saya tidak bisa bilang sama, tetapi kasus Hakim Syafiuddin saya rasa mirip dengan kasus yang menimpa Hakim Falcone di Italia sana, karena keduanya menjadi korban akibat ketegasan mereka.

Sekilas cerita tentang Hakim Syafiuddin. Beliau merupakan Hakim Agung yang sering sekali mengadili kasus-kasus yang berkaitan dengan Orde Baru. Sebut saja, kasasi yang diajukan oleh Bob Hasan, pengusaha yang dekat dengan penguasa Orde Baru tersebut. Selain itu, masih ada kasus lain seperti dugaan korupsi terkait yayasan milik sang mantan penguasa.

Karena sering mengadili kasus-kasus yang melibatkan orang-orang dekat penguasa rezim Orde Baru tersebut, berbagai cara dilakukan untuk ‘melunakkan’ sang pengadil. Salah satunya adalah dengan mencoba menawari uang sebesar Rp20 miliar agar Syafiuddin sedikit melunak. Akan tetapi, Syafiuddin sama sekali tidak bergeming.

Jengkel dengan kiprah Syafiuddin, Tommy memilih ‘melunakkan’ Syafiuddin dengan cara lain. Dia menyewa dua orang untuk mengeksekusi Syafiuddin. Imbalannya juga tidak sedikit, yakni Rp100 juta. Ingat, peristiwa pembunuhan Hakim Syafiuddin terjadi pada 26 Juli 2001. Uang sebesar itu sampai sekarang belum bisa dibilang ‘sedikit,’ apalagi waktu itu.

BACA JUGA: PROBLEMATIKA KEPULANGAN HABIEB RIZIEQ

Tommy akhirnya ditangkap, diseret ke pengadilan dan diganjar pidana 15 tahun penjara di tingkat pengadilan pertama. Hanya saja, di tingkat kasasi, hukuman berkurang menjadi 10 tahun penjara dan Tommy bebas lebih cepat karena beberapa kali mendapat potongan masa tahanan. Tommy bebas pada 1 November 2006.

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN

Falcone dan Syafiuddin merupakan hakim yang menjadi korban pembunuhan karena sikap tegas mereka. Melihat nasib mereka, saya setuju kalau tidak ada pekerjaan yang aman di dunia ini. Toh, bekerja sebagai penguji kasur juga tidak membebaskanmu dari risiko serangan jantung, kan?

Akan tetapi, perbedaannya adalah apabila sampai akhir hayatnya Riina masih mendekam di penjara dan Brusca hingga detik ini juga masih meringkuk di balik jeruji, hal itu tidak berlaku bagi Tommy. Ha piye? Sekarang saja Tommy sudah bisa makan enak di restoran mewah sambil membahas strategi-strategi politik yang akan dijalankan oleh dirinya maupun partai politik yang didirikannya.

Memang, orang Indonesia itu sangatlah pemaaf.

2 thoughts on “KISAH DUA HAKIM YANG DI ‘BUNGKAM’ SELAMANYA

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum.id