DORAEMON, FILM ANAK-ANAK LEGENDARIS PENUH BULLYING

Aku suka sekali nonton serial kartun. Salah satu serial kartun favoritku dari kecil sampai tua kayak sekarang ini, adalah film Doraemon. Inget banget, jaman dulu susah mau nonton film dan serial premium kaya gini. Gimana gak premium, jaman dulu RCTI cuma bisa ditonton lewat siaran parabola. Sedangkan di rumahku, boro-boro parabola, TV pun gak punya. Hahaha.

Dulu kalo mau nonton Doraemon, kudu numpang ke rumah tetangga. Tapi serius, itu masa-masa yang menyenangkan, karena punya alasan main ke rumah tetangga. Siapa sih, yang gak pernah nonton serial Doraemon, aku rasa semua rentan usia pasti gak asing dengan serial satu ini. Cuma sayangnya dari aku kecil sampe aku tua, si Nobita masih aja di kelas lima. Hahahaa, gak naik-naik kelas rupanya.

Ini film legend banget dah. Bayangin aja, tayang sejak tahun 1979, hebatnya masih eksis sampe sekarang. Kalo gak banyak pecintanya, gak mungkin bisa bertahan dari dulu sampe sekarang. 

Serial Doraemon ini menceritakan tentang kisah hidup seorang anak pemalas yang bernama Nobita Nobi.  Jadi karena pemalas dan gak jelas, katanya sih masa depan Nobita suram banget. Karena itulah di masa depan, Nobita bakal miskin dan melarat sampe ke cicit-cicitnya.

Nah, untuk menghentikan nasib buruk yang akan menimpa ke anak cucu, cicit dan keturunan Nobita, maka cicit dari cicit Nobita dari abad ke 22 mengirimkan Doraemon untuk menjaga dan melindungi Nobita. Harapannya ya, tentu saja untuk mengubah nasib dan masa depan Nobita dan keturunannya.

BACA JUGA: ANAK BUKAN PROPERTI ORANG TUANYA

Setiap hari Doraemon selalu membantu Nobita dengan alat yang ada di kantong ajaibnya. Meskipun Doraemon memperingatkannya untuk tidak terlalu bergantung pada alatnya, tapi Nobita setiap saat merengek meminta bantuan Doraemon, bahkan terkadang menyalahgunakan alat tersebut.

Sosok Nobita ini mempunyai sifat pemalas, lemah, manja, pelupa, ceroboh dan selalu dibully oleh temannya. Teman yang sering membully Nobita adalah Giant dan Suneo.

Hampir di setiap episode, Nobita mendapatkan bullying. Malangnya bukan hanya bullying dalam bentuk verbal, Nobita juga mendapatkan bullying dalam bentuk fisik. Seandainya Nobita ini hidup di Indonesia, aku yakin sih, emaknya bakal sering berkunjung ke kantor polisi buat bikin laporan polisi.

Bullying itu banyak bentuknya, di antaranya yaitu bullying fisik dan bullying verbal. Bullying fisik misalnya menonjok, mendorong, memukul, menendang dan menggigit. 

Sedangkan bullying verbal antara lain menyoraki, menyindir, mengolok-olok, menghina dan mengancam. Selain itu ada juga bullying tidak langsung, antara lain berbentuk mengabaikan, tidak mengikutsertakan, menyebarkan rumor/gossip dan meminta orang lain untuk menyakiti. 

Nah, kebayang gak, hampir semua contoh bullying yang aku sebutin di atas dialami si Nobita. Gak cuma menangis, sedih dan tertekan, Nobita juga sering babak belur karena digebukin si Giant.

Mari berandai-andai. Seandainya si Nobita hidup dan tinggal di Indonesia, Nobita pasti mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum ketika mendapatkan bullying dari teman-temannya. 

Meskipun teman-temannya juga masih tergolong anak, tapi hukum tetap mengakomodir kepentingan dan keadilan buat Nobita. Apalagi bullying yang dialami Nobita sering terjadi, jadi pasti jalur mediasi kekeluargaan gak bakal mempan untuk Giant dan Suneo. 

Setidaknya perbuatan Suneo dan Giant yang melakukan kekerasan secara fisik kepada Nobita bisa dijerat dengan Pasal 80 UU No. 35 Tahun 2014 Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Dalam Ayat (1) disebutkan ancaman hukumannya adalah pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan atau denda paling banyak Rp72 juta rupiah.

BACA JUGA: BULLYING ITU JAHAT

Selanjutnya dalam Pasal 80 Ayat (2) disebutkan jika kekerasan menyebabkan luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100 juta. Mantab yaaaaa, sanksi hukumannya.   

Sayangnya nih, Nobita hidupnya di Jepang, jadi hukum pidana yang berlaku di Indonesia gak bisa dipakai dan digunakan si Nobita. Padahal kasian banget loh, si Nobita ini, bukan cuma sering dibully Suneo dan Giant, kadang pak guru dan ibunya juga sering melakukan kekerasan verbal dan fisik kepada Nobita.

Kalo dipikir-pikir, sebenarnya serial Doraemon ini kurang baik ditonton oleh anak-anak. Harus ada pengawasan khusus dari orang tua, agar anak mendapat penjelasan serta pengawasan ketika menonton serial ini. Jadi anak bisa mendapatkan pengarahan, mana sikap yang boleh ditiru ataupun sikap yang harus dihindari oleh anak.

Untungnya aku suka serial ini, jadi aku gak bakal bete sih, nemenin anak nonton. Setidaknya anak dan emak sama-sama terhibur. Ya, kan? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum.id
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!