MARRIAGE STORY & KISAH PERCERAIAN

4 menit

Hai gaes, ini adalah artikel pertama setelah rubrik Refil resmi dipublikasikan. Ntah suatu penghargaan ato sebuah siksaan, saya didaulat untuk ngisi rubrik Refil ini. Saya sih curiga, dengan beban ngeresensi film sebulan sekali, buat saya slogan Kolektif Rumah Hukum, “Kami di RH ditempa bukan disiksa” berubah jadi sebaliknya.

Klikhukum.id sebenernya udah beberapa kali ngereview film, karena responnya positif, makanya terciptalah rubrik Refil ini. Mungkin ga semua film yang saya resensi adalah film-film baru nan kekinian, karena saya lebih tertarik untuk ngereview sisi hukum yang terkandung dalam sebuah film, ntah film baru ato film lawas.

Berdasarkan request dari pembaca setia Klikhukum.id mba Eka Nusa Pertiwi, kali ini saya mau ngeresensi film keren yang berjudul Marriage Story. Kenapa saya bilang keren? Tak lain tak bukan karena saya suka dengan pemeran utamanya. Saya suka banget dengan Scarlett Johansson. Bisa dibilang saya jatuh cinta dengan mba Jo gara-gara akting dia sebagai Natasha Romanova alias Black Widow, yang merupakan salah satu superhero yang ga punya kekuatan super, di Squadnya Avengers.

Kalo biasanya mba Jo main film action, maka di film Marriage Story ini mba Jo berakting lucu, tapi kadang menyedihkan. Film ini merupakan film garapan sutradara Noah Baumbach. Marriage Story menceritakan tentang drama panjang perceraian antara Nicole (mba Jo) dan Charlie (mas Adam Driver). Menurut saya filmnya bagus, karena akting mba Jo dan mas Adam yang sangat luar biasa. Belum lagi sinematografi yang gak kaleng-kaleng, jadi ya wajar aja kalo film ini dapet banyak penghargaan.

Alur cerita Marriage Story bikin saya geleng-geleng kepala, gimana nggak, proses cerai di Amerika digambarkan begitu ribet dan ruwet. Beda banget dengan proses cerai di Indonesia yang relatif sangat mudah. Mungkin kemudahan itulah yang membuat angka perceraian di Indonesia cukup tinggi.

BACA JUGA: TIPS PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA

Dalam Marriage Story, pengacara memainkan peran yang sangat penting. Gimana ga penting, mas Adam sampe kalang kabut nyari pengacara, karena mba Jo memutuskan pake jasa pengacara. Mas Adam juga terancam jadi gembel, karena harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar pengacara guna menghadapi gugatannya mba Jo. Hal itu harus mas Adam lakukan, karena ada suatu keharusan menyewa pengacara jika pasangannya pake jasa pengacara.

Marriage Story menggambarkan gimana pengacara-pengacara cerdas mencari celah dengan memilih pengadilan negara bagian Amerika yang legislasinya lebih menguntungkan untuk kliennya. Untuk kepentingan kliennya, Nora Fanshaw (pengacaranya mba Jo) ngotot ngajukan gugatan di Los Angeles, sebaliknya Jay (pengacara mas Adam) ngotot ngajukan gugatan di New York, ya walaupun akhirnya dicabut.

Marriage Story juga menggambarkan bahwa pengacara di Amerika sangat menjunjung tinggi kode etiknya. Saya bisa bilang begitu karena ada satu adegan di mana mas Adam ditolak oleh seorang pengacara karena mba Jo sudah pernah berkonsultasi dengan pengacara tersebut. Mas Adam sampe frustasi waktu denger info dari ibunya mba Jo yang bilang, mba Jo sengaja konsultasi ke banyak pengacara untuk mengurangi alternatif pengacara yang jasanya bisa dipake oleh mas Adam.

Peran pengacara penting banget dalam proses cerai di Amerika. Beda dengan di Indonesia yang semua gugatan, jawaban, dan tangkisan pake berkas tertulis. Marriage Story menggambarkan sidang cerai mba Jo dan mas Adam diwarnai banyak adu argumen dan debat kusir yang menguras banyak energi. Waw seru, aku ingin. Kalo di pengadilan Indonesia, pengacara debat kusir dan nyolot dikit, auto terancam contempt of court alias menghina pengadilan.

Btw, ada satu adegan yang bikin saya teringat dengan pengalaman saya ngurusin sidang cerai di salah satu Pengadilan Agama. Pengalaman yang selalu saya ingat sampe sekarang dan berkesan sampe ke ubun-ubun. Pagi itu saya udah berdandan cantik, pake baju putih, pake blazer warna hitam, celana hitam, dan high heels. Saya berangkat ke pengadilan dengan penuh keceriaan. Pas waktu sidang, salah seorang Majelis Hakim bilang,“Kamu pengacara, pake baju yang sopan dong, biar kaya pengacara beneran. Ohh mai got, emang kaya mana standar berpakaian pengacara beneran? Apakah saya nampak seperti mahasiswa yang sidang skripsi? Hahahahaha.

BACA JUGA: FILM KOREA JUROR 8, DAN RIWAYAT JURI PERADILAN PIDANA

Pengalaman saya ini bertolak belakang dengan pengalamannya Nora Fanshaw si pengacaranya mba Jo. Ada satu adegan waktu Nora Fanshaw lagi berdebat hebat dengan Jay (pengacara mas Adam) di ruang sidang pengadilan, tiba-tiba si Nora Fanshaw buka blazer-nya dan cuma pake tanktop doang. Hakimnya pun ga komplain atau marah, cuma mantuk-mantuk sambil bilang, “sudah jangan berdebat.”

Saya bisa bilang, proses cerai mba Jo dan Mas Adam cukup fair dan bener-bener bisa memberikan keadilan buat keduanya. Untuk menentukan hak asuh anak, hakim memerintahkan peksos (pekerja sosial) buat memberikan penilaian terhadap kelayakan orang tua untuk mengasuh anak. Mba peksosnya melakukan kunjungan dan pengamatan hubungan antara mas Adam dan Henry (anak mba Jo dan mas Adam), juga mba Jo dan Henry. Coba kalo di Indonesia, jangan harap mas Adam dapat hak asuh Henry, ya kecuali mas Adam bisa buktikan bahwa mba Jo itu gak layak jadi seorang ibu.

Nonton Marriage Story ini bikin saya banyak belajar secara visual tentang perbandingan proses perceraian di Amerika dan Indonesia. Ya semoga aja, apa yang digambarkan di film ini ga hoax. Hahahahaha, soalnya saya sering banget nonton sinetron Indonesia yang menggambarkan proses sidang perceraian bisa kelar dalam satu hari. Itu sidang, apa sulap pak Tarno. Prok, prok 🙂

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!