MENJAWAB PERTANYAAN KAPAN NIKAH VERSI ORANG HUKUM

Buat kalian para mahasiswa hukum yang baru lulus, sebenarnya di momen lebaran tidak usah takut ketika ditanya “Kapan nikah?” Which is itu bukan jenis pertanyaan yang abuse of privacy dan mengganggu mental health, apalagi harus healing menikmati lara ke Bali.

Karena saya yakin orang hukum mental healthnya kuat dan tidak akan tumbang apalagi dengan pertanyaan temen-temen seputar nikah atau kawin. So, kalian tenang aja. Tidak perlu merasa judge mental atau privasi kalian terganggu.

Buktinya adalah saya sendiri, di umur mendekati 30 tahun, berprofesi sebagai lawyer, belum kawin pula.

Tapi jika ada pertanyaan seputar kapan kawin, saya biasa aja. Masih bisa menikmati tawa dalam lara, sambil mbatin.

“Jigur! Ngopo yo, saya belum nikah-nikah.” Ya wajarlah sedikit grundel dalam hati, tapi tidak perlu ditangisi. 

Tujuan Perkawinan

Sebelum saya membagikan jawaban yang biasa saya terapkan ketika menjumpai pertanyaan kapan kawin, mari kita luruskan dulu sebenarnya tujuan perkawinan itu apa sih? Kalo di luar sana saya masih bisa FWB’an. Hiyaaah ….

Tujuan perkawinan sebenarnya sangatlah simpel, jika mengacu kepada aturan hukum. Yaitu sebagai berikut.

“Membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” jika merujuk kepada UU Perkawinan. 

BACA JUGA: CURKUM #113 PERBEDAAN NIKAH SIRI DAN NIKAH RESMI

Sedangkan jika menurut Kompilasi Hukum Islam tujuan suatu perkawinan yaitu, “Untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Sejalan dengan UU Perkawinan”

Poinnya tujuan perkawinan yaitu menciptakan kebahagian dalam menjalin keluarga. Jadi, unsur bahagia itu yang utama ya pren. Walaupun tiap bulan bingung akan cicilan rumah, motor, smartphone, pinjol, beli popok anak, susu formula dan sebagainya.

Makanya FWB’an aja woi …. Gak ding, becanda. Huehuehue.

Jika sudah satu frame memahami tujuan perkawinan dan jika kamu termasuk golongan orang hukum yang belum kawin, ketika ditanya seputar kapan kawin, bisa menerapkan jawaban yang biasa saya lakukan ketika ditanya seputar hal tersebut.

Jawaban Ketika Ditanya Kapan kawin?

Jenis jawaban yang biasa saya lontarkan sebenarnya rada nyeleneh sih. Jadi jika dirasa tidak cocok untuk kamu, gak usah ditiru gak papa kok. Kamu bisa membuat jawaban yang lain.

1. Saya Masih Mencari Jodoh yang Sefrekuensi

Ini sebenarnya jawaban yang cukup absurd sih, dan kerap saya praktekkan ketika yang menanyakan kapan kawin temen satu circle. Soalnya dia pasti ngeh, yang dimaksud sefrekuensi itu apa.

Tapi jika yang tanya pakde, bude, om, tante, paman, bibi, uwa atau saudara tua kamu, jangan dijawab masih menunggu jodoh yang sefrekuensi ya. Takutnya malah dibalas.

“Emang frekuensinya FM apa AM dik?” Hmmm, dikira radio apa yah.

Jujurly, saya pernah mendapatkan pasangan sefrekuensi, tapi ternyata kita beda gelombang dong. Saya Jumatan doi Mingguan. Duh, loro pren.

2. Emang kamu ada calon, tanya saya kapan kawin?

Kalo ini jenis jawaban rekonvensi, pasti orang hukum tau apa itu rekonvensi. Artinya gugatan balik ato gampangannya jika ada orang tanya ke kamu kapan kawin, langsung aja dijawab.

“Aku belum kawin, emang kamu ada calon buat saya?”

Saran saya ketika menjawab ini dengan serius ya, kalo bisa tatapan matanya langsung mengarah si penanya. Jadi kamu tau dia tujuan bertanya itu mau basa-basi atau memang merasa iba dan sudah menyiapkan calon karena belum kawin.

Kalo faktanya dia sudah menyiapkan calon kan lumayan tuh, bisa langsung sat set sat set. Gaskeeen, yakan.

BACA JUGA: CURKUM #131 CERAI TANPA BUKTI PERSELINGKUHAN

3. Emang kamu sudah merasakan kebahagiaan perkawinan?

Sebenarnya ini jawaban sekalian pertanyaan balik sih, artinya sebagai orang hukum gak ada salahnya dong, mengorek dikit info dari temen yang sudah kawin. Apakah tujuan perkawinan sudah dirasakannya.

Tapi saran saya, jika kamu jawab begini harus divibes yang pas yah. Karena sejatinya pertanyaan kapan kawin merupakan jenis pertanyaan basa-basi.

Cuma kalo kamu bisa meroasting balik, malah bisa jadi temen kamu itu sebenarnya mau curhat soal rumah tangganya. Karena kita sebagai orang hukum, jadi dirasa pas curhat kepada kita.

Kali aja dia tanya begitu sebenarnya mau cerita, kalo lagi pusing mikirin cicilan rumah, motor, smartphone, pinjol, beli popok anak, susu formula dan sebagainya. 

Mungkin dia bahagia sih, bersama pasangannya. Cuma sebahagia-bahagianya berumahtangga jika bulanannya banyak cicilan kan bingung juga pren.

Jadi, itulah jawaban yang biasanya saya lontarkan ketika ada teman atau kerabat yang bertanya, “Kok, saya belum kawin.” Terkhusus buat kalian yang sering menanyakan kapan saya kawin, tenang aja.

Kawin kok, kawin. Saya ini bakalah kawin. Cuma ya, gak harus sat set sat set dalam waktu yang singkat dan dalam tempo sesingkat-singkatnya pula dong.

Semua butuh proses, masalahnya kini saya lagi disuruh Tuhan menikmati roses itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.