HARI ANAK SEDUNIA, MOMEN MENATA KEMBALI MASA DEPAN ANAK

Udah pada tahu kan, ternyata dalam setahun ada tiga kali peringatan hari anak. Ada hari anak nasional yang diperingati setiap 23 Juli, hari anak internasional yang diperingati setiap 1 Juni dan ada hari anak sedunia yang diperingati setiap 20 November.

Pas banget nih, hari ini kita merayakan hari anak sedunia. Hari anak sedunia menjadi moment penting untuk mempromosikan hak-hak anak. Setiap tahunnya perayaan hari anak sedunia mengangkat tema yang berbeda. Kalo kita baca situs resmi UNICEF, Hari Anak Sedunia 2020 mengusung tema “A day to reimagine a better future for every child.”

Dengan kemampuan bahasa Inggrisku yang Cuma little-little’ ini, bisa aku maknai bahwa tema hari anak sedunia tahun 2020 ini adalah upaya untuk menata kembali masa depan anak.Gitu gak sih? CMIIW.

Lalu siapa sih, yang punya kewajiban untuk menata masa depan anak? Apakah cuma orang tua si anak?

Seharusnya sih, masa depan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Keluarga, pemerintah, sekolah dan masyarakat punya andil besar untuk mewujudkan masa depan seluruh anak di dunia. Semua pihak memiliki peran untuk mewujudkannya.

BACA JUGA: ANAK BUKAN PROPERTI ORANG TUANYA

Anak adalah individu yang unik. Sudah menjadi tugas kita memperlakukan anak sebagai ‘manusia.’ Sebagai ‘manusia’setiap anak punya hak-hak yang dilindungi secara hukum. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak.

Pemerintah Indonesia sudah sepakat untuk meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990.Ratifikasi tersebut merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam memberikan jaminan atas pemenuhan hak dan perlindungan seluruh anak Indonesia.

Konvensi Hak Anak telah mengatur 10 hak yang wajib dipenuhi, yaitu hak untuk bermain, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk mendapatkan nama (identitas), hak untuk mendapatkan status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan dan hak untuk berperan dalam pembangunan.

Masa pandemi seperti saat ini membuat hak-hak anak banyak yang terabaikan. Bahkan ironisnya, sebagian anak di Indonesia menghadapi ancaman ganda selama pandemi Covid-19. Selain terancam tertular virus Corona, anak-anak juga terancam mendapatkan kekerasan fisik dan psikis dari keluarga di rumah. Dikutip dari kompas.com (14/10/20), data menunjukkan bahwa angka kekerasan terhadap anak meningkat tajam selama masa pandemi.

Selain ancaman kesehatan dan kekerasan, anak juga menghadapi ancaman serius terkait akses pendidikan. Salah satu poin yang dikampanyekan oleh UNICEF dalam memperingati hari anak sedunia tahun ini adalah, “Memastikan semua anak belajar,termasuk dengan menutup kesenjangan digital.”

Yupe, akibat Covid-19, sekolah yang semula tatap muka, tiba-tiba berubah menjadi daring alias online. Rencana membuka kembali sekolah harus tertunda, entah ya sampai kapan. Kesulitan ekonomi terasa di sebagian besar kawasan Indonesia. Jangankan mau beli kuota buat belajar online, mau beli makan aja susah.

Di saat sekolah online berlangsung, banyak anak dan siswa yang merasakan kesenjangan digital. Ada yang gak punya henpon, ada yang gak punya kuota, ada juga anak yang gak bisa sekolah online karena di rumahnya gak ada sinyal. Fixs, berdasarkan pengalaman aku, sekolah online emang bikin stres orang tua dan siswa.

BACA JUGA: KILL ME HEAL ME, REFLEKSI KEKERASAN PSIKIS PADA ANAK

Selain kesenjangan digital,banyak anak yang menjadi korban sekolah online. Banyak anak yang stres akibat beban tugas yang berat selama sekolah online.Bahkan gak cuma stres, beberapa anak malah sampai nekat bunuh diri. Aku baca dari kompas.com (20/10/20), seorang siswi kelas XI salah satu SMA di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, meninggal dunia setelah menenggak racun serangga. Beban tugas sekolah online membuat siswi tersebut frustasi dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Covid-19 secara nyata sudah mengancam masa depan anak, bukan hanya anak Indonesia, tapi seluruh anak di dunia. Covid-19 bukan hanya mengancam kesehatan fisik dan mental anak.Ke depannya Covid-19 juga mengancam stabilitas pendidikan, gizi serta kesejahteraan anak dan remaja.

Fakta inilah mungkin yang menjadi alasan mengapa hari anak sedunia tahun ini mengusung tema, “Menata kembali masa depan anak.” Ini tugas kita bersama, bukan cuma tanggung jawab orang tua dan anak. Pemerintah, sekolah, serta masyarakat sipil wajib bertanggung jawab untuk membangun dunia yang lebih baik untuk anak.

So, selamat memperingati hari anak sedunia, sehat dan bahagia selalu anak-anakku.


MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id