IKN NUSANTARA DAN ATURAN PAJAKNYA YANG BARU

Kalian ngerasa nggak sih, kalau sekarang ini harga kebutuhan pokok meningkat. Yaa, yang tampak naiknya sih, minyak goreng dan BBM. 

Pasti di antara kalian ada yang bilang “Lah, kan tiap hari gak nggoreng juga kan? Halah, yang naik kan pertamax bukan pertalite.” Heh! Kalian yang masih punya pikiran kayak gitu, fix main mu kurang jauh, kopimu kurang kentel dan pulangmu kurang malam. 

Kok bisa ya, harga minyak melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi? Bukannya itu merupakan SDA Indonesia? Jangan-jangan sengaja dinaikin buat ngebangun rumah tangga baru? Eh, maksudku ibukota baru? 

Hahaha, pertanyaan aneh. Itu pasti yang tanya orang yang minim ilmu, kayak aku gini nih. Eh, kok jadi ngebahas perminyakan sih. Udah, ah. Nggak usah ngebahas, takut diculik. Aku kan cantik, wahahaha. 

Sebenernya aku mau mencurahkan isi hatiku tentang IKN Nusantara. Iya, ibu kota negara yang baru. Kalian masih ingat kan, tentang IKN Nusantara? Pliss, jangan dilupakan dong. Rasanya dilupain tuh, sakit lho. Serius. 

Kamu nggak mau kan, menyakiti Pakde Jokowi? Makanya kita harus ngebantu pakde mikirin pembangunan Nusantara. Beliau sudah jauh-jauh sampe space X ketemu Mas Elon. Inget ya, kalau IKN Nusantara ini kesepakatan kita, bukan semata-mata keputusan pakde loh! Walaupun kamu nggak inget,  ya nggak papa sih. Wong yo,  kamu tetap tinggal di riverside kan? Hahaha.

Eh, tapi jangan biarin pakde mikir sendirian dong. Ya, meskipun jajarannya juga mikirin sih. Paling tidak sebagai warga negara harus peduli terhadap kemajuan bangsa dan harus ikut serta, seperti ikut serta mengkritik misalnya. 

BACA JUGA: ADA APA UDARA DI JAKARTA? KOK DI GUGAT?

Tapi aku kagum banget sama kinerja pemerintah dan pakde. Sat, set, sat, set, banget gaes. Bayangin aja, dalam waktu sekitar 4 (empat) bulan semenjak RUU IKN disahkan, udah ada lima peraturan turunan. 

Bisa bayangin gak tuh, betapa stresnya pakde. Mungkin karena itu, pakde ketemu Mas Elon kali ya. Yaps, mau healing plus Qtime bareng bestie sambil nonton roket di spaceX dan test drive mobil Tesla.

Hehehe, back to topic yaa. Dari lima peraturan turunan tadi yang menurutku paling menyita perhatian sih, PP Nomor 17 tahun 2022 tentang pendanaan dan pengelolaan anggaran dalam rangka persiapan, pembangunan dan pemindahan ibu kota negara serta penyelenggaraan pemerintahan daerah khusus ibu kota Nusantara. 

Yaps, ini yang banyak membuat kegaduhan di masyarakat. Peraturan ini menyebutkan adanya pajak dan pungutan khusus Otorita IKN.

Ha? Udah bayar pajak masih dipungut?

Eits, jangan panik dulu. Gini-gini, jadi pajak khusus IKN adalah kontribusi wajib kepada Otorita IKN yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan IKN bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 

Nah, di Pasal 43 disebutkan tuh, jenis pajak khusus IKN, pajak kendaraan bermotor; bea balik nama kendaraan bermotor; pajak alat berat;  pajak bahan bakar kendaraan bermotor; pajak air permukaan;  pajak rokok; pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan; bea perolehan hak atas tanah dan bangunan; pajak barang dan jasa tertentu; pajak reklame; pajak air tanah;  pajak mineral bukan logam dan batuan; pajak sarang burung walet.

Sedangkan, pungutan khusus IKN adalah pungutan otorita Ibu Kota Nusantara sebagai pembayaran atas pelayanan atau penyediaan barang dan/atau jasa dan pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Otorita IKN  untuk kepentingan orang pribadi atau badan. 

Kalau untuk jenis pungutan khusus IKN sih, sesuai dengan peraturan tentang retribusi daerah. Dan pungutan ini dilakukan berdasarkan pelayanan yang diberikan otorita IKN, kayak pelayanan umum, penyedia/pelayanan barang dan/atau jasa, pemberian ijin tertentu.

Nah, jadi objek dan subjek antara pajak dan pungutan itu beda ya. Jadi nggak usah khawatir bakal ada pungutan kalau mau ngurus surat/administrasi di kantor pemerintah, kayak di wakanda. 

BACA JUGA: APAKAH PEMINDAHAN IBUKOTA KE NUSANTARA SIAP SECARA HUKUM?

Kalau ngomongin pajak emang bisa gila, karena udah mulai naik tanpa kita sadari. Walaupun sadar juga harus bayar, kan wajib. 

Kenapa sih, pajak harus naik? Walaupun naik ya, jangan kroyokan gitu dong. Satu jenis pajak aja gitu yang naik. Eh, tapi kalau nggak gitu ya nanti dana IKN jadi dikit dong ya, kan pajak bakal masuk ke APBN nih. Sedangkan berdasarkan PP tersebut sumber pendanaan IKN salah satunya dari APBN.

Duuuh, bener-bener definisi yang miskin makin miskin deh, kalau kayak gini. Duit habis buat bayar pajak. Kalau nggak bayar pajak kok, dibilang bukan warga negara yang baik. 

Mbok ya tolong dong, pak buk kalau bikin kebijakan tuh, lihat kondisi masyarakat yang luas. Bukan masyarakat golongan tertentu. Jangan sampai ada drama Ngeluh bayar pajak, tapi kok antri beli baju.” Lagian belinya pakai uang sendiri kok, bukan uang rakyat. Dan harganya juga nggak sampe 43M sih.

Hhmmm, menyuarakan keluh kesah kayak gini mungkin bisa dibilang sia-sia. Kan suara rakyat tuh, nggak berlaku kecuali pas pemilu. Lagian percuma bersuara, ‘mereka’ nggak bakal denger. Lah, wong ‘mereka’ hadir lewat baliho. Tapi kalau lewat tulisan gini, walaupun nggak didengar, paling nggak dibaca lah. 

Tapi mana sempat baca tulisan nggak bermutu gini, lebih menarik baca peluang 2024. Hahaha, udah ah, takut tiba-tiba hilang. Aku kan, cantik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum.id