WAKTU INDONESIA BAGIAN PEKERJA

4 menit
survey

Seorang teman saya lagi sambat, kita sebut saja dia Kumbang (biar gampang nyebutnya). Nah jadi ceritanya beberapa minggu yang lalu Kumbang diterima kerja di sebuah cafe. Pas keterima sih doi excited banget, secara Kumbang lagi butuh uang buat ketemu pacarnya yang jauh di sana. Terus kenapa sambat yak??

Begini asal muasal sambatnya, Kumbang sepakat bekerja di cafe dengan gaji sejumlah Rp. 1.2 juta, padahal nih UMK Jogja aja ude Rp. 1.8 juta lebih dikit. Dalam satu hari Kumbang kerja selama 12 jam, dimulai dari jam 7 pagi sampe jam 7 malem, tanpa ada hari libur. Artinya Kumbang kerja seminggu full dari Senin sampe Minggu, (btw itu kerja apa dikerjain yak). Sampe di sini Kumbang masih oke, setuju dan ga komplain.

Pas hari pertama kerja, meskipun udah 12 jam bekerja, ternyata Kumbang masih disuruh angkut-angkut barang yang menyita waktu kurang lebih 1.5 jam-an lagi. Walaupun cape dan berat banget, awalnya Kumbang coba bertahan karena udah komitmen. Sadisnya meskipun kerja dengan waktu yang sangat panjang, pekerja cafe tersebut dilarang beristirahat untuk makan dan sholat lebih dari 30 menit. Katanya nih pekerja yang istirahatnya lebih dari 30 menit kena pinalti potong gaji. Bahkan di hari Jum’at pun, pekerja dilarang untuk sholat Jumat (kalo maksa sholat Jum’at, sanksinya potong gaji). Saya jadi penasaran dengan perusahaan ‘lucknut’ kaya gini. Apakah ini semacam perbudakan modern? Adakah pembaca Klikhukum yang senasib dengan si Kumbang?

Setelah seminggu bekerja, Kumbang gak kuat lagi dan mengajukan resign. Si bos gak ngasih izin dan ga mau bayar upah Kumbang selama seminggu. Duh jiann, mesakke nasibmu Mbang, wes jatuh ketimpa tangga, ehh keambrukkan batu bata. Ambyarrrr.

Jadi gaes, buat kalian yang mau cari kerja, atau bahkan sudah bekerja, fixss kalian wajib baca artikel ini secara berkelanjutan. Kalo ngebahas kasus Kumbang di atas, ada banyak hal yang harus dibahas satu per satu. Mulai dari perjanjian kerja, jam kerja, hak dasar untuk cuti, libur, istirahat, upah, jaminan sosial, hak untuk beribadah dan printilan-printilan hak-hak pekerja lainnya. 

Kali ini saya mau share tentang hak-hak pekerja terkait jam kerja ya, mon maap soalnya ga bisa semua dibahas dalam satu artikel. So, mohon dibaca dengan seksama, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Hak dan kewajiban pekerja sebenarnya sudah diatur secara tegas dalam UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

BACA JUGA: KONTRAK KERJA & PRAKTEK TAHAN MENAHAN IJAZAH

Btw apakah cafe, restoran atau usaha-usaha sejenis lainnya dapat disebut sebagai perusahaan? jawabannya ya, cafe dan usaha sejenisnya masuk dalam kategori perusahaan. Ketentuan Pasal 1 angka 6 huruf a UU Ketenagakerjaan secara nyata menjelaskan bahwa perusahaan adalah “Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain”.

Dari penjelasan Pasal 1 angka 6 huruf a UU Ketenagakerjaan tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun tidak berbadan hukum dan milik perseorangan, usaha seperti: cafe, restoran, warung dan usaha-usaha sejenis itu disebut sebagai perusahaan dan tunduk pada UU Ketenagakerjaan ya gaes.

Pasal 77 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan mengatur bahwa setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. Selanjutnya dalam Ayat (2) diatur bahwa, waktu kerja meliputi:

  • Untuk 6 (enam) hari kerja dalam seminggu (Senin sampe Sabtu), maka waktu kerjanya adalah 7 jam sehari atau 40 jam seminggu.
  • Untuk 5 (lima) hari kerja dalam seminggu (Senin sampe Jum’at), maka jam kerjanya adalah 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

Jadi tergantung ya, perusahaannya kerja sampe hari Sabtu atau cuma sampe hari Jum’at aja.

Waktu kerja dalam sehari bisa 7 atau 8 jam, yang penting dalam seminggu gak boleh melebihi 40 jam. Dalam praktiknya, waktu kerja sehari biasanya ditambahkan dengan waktu istirahat dan sholat, sehingga waktu kerja yang tadinya 7 jam nambah jadi 8 jam atau yang tadinya 8 jam nambah jadi 9 jam, bergantung berapa lama waktu istirahat yang diberikan.

Meskipun demikian, ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2) gak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu, misalnya pekerjaan di pengeboran minyak lepas pantai, sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan di kapal (laut), atau penebangan hutan.

Perusahaan boleh aja mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja, tapi ada syarat dan ketentuannya. Syarat yang dimaksud diatur dalam Pasal 78 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan, yaitu:

  1. Ada persetujuan pekerja yang bersangkutan; dan
  2. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.

Selanjutnya dalam Ayat (2) dijelaskan bahwa untuk pengusaha yang mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur.

Jadi gaes, penjelasan Pasal 78 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan mengamanatkan bahwa mempekerjakan lebih dari waktu kerja sedapat mungkin harus dihindarkan, karena pekerja harus mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat dan memulihkan kebugarannya. Tapi kalo emang ada kebutuhan yang mendesak yang harus segera diselesaikan, maka pekerja boleh saja bekerja melebihi waktu kerjanya, namun ingat ya perusahaan ga boleh mengurangi atau menghilangkan hak-hak pekerja, serta wajib untuk membayar upah kerja lembur.

BACA JUGA: PENGEN JADI BOS

Terus gimana sanksinya jika perusahaan melanggar ketentuan tentang jam kerja ini?

Hati-hati, pengusahanya bisa kena sanksi pidana kalo ga mau ngasih dan bayar uang lembur, ketentuan Pasal 187 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan menyatakan bahwa jika ada pengusaha yang melanggar ketentuan Pasal 78 Ayat (2), akan diberikan sanksi berupa pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit sepuluh juta rupiah dan paling banyak seratus juta rupiah.

Intinya membayar upah lembur pekerja itu wajib hukumnya, bagi pengusaha yang melanggar bisa kena sanksi pidana.

Nah udah tau kan sekarang hak-hak pekerja terkait jam kerja, kalo ada pengusaha yang memberikan jam kerja ga sesuai aturan, maka kalian bisa komplain dan sampaikan argumen dan dasar hukumnya. Ojo gelem mung dadi sapi perah, semangaaadddd.  

Btw tunggu kelanjutan pembahasan kasus di Kumbang tadi ya gaes, next time kita akan bahas hak-hak pekerja yang lainnya. Sampai jumpa.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!