STARLINK BUKANLAH SOLUSI, GA CUMA DARI SEGI PASAR TAPI JUGA ATURAN

“Starlink dirancang untuk menyediakan internet broadband berkecepatan tinggi ke lokasi-lokasi yang aksesnya tidak dapat diandalkan, mahal atau sama sekali tidak tersedia.” – Elon Musk, The Real-life Tony Stark.

Have you guys heard of this yet?

Starlink lagi bersiap meluncurkan layanan Direct to Cell, yang sudah ada infonya di situs resmi mereka versi Indonesia. Menurut Chief Corporate Affairs XL Axiata, Marwan O. Baasir, layanan ini bisa menjadi ancaman buat operator seluler, karena pengguna bisa langsung memakai SMS, telepon dan internet. 

Padahal operator seluler sudah berinvestasi dengan nilai besar. Jadi wajar sih, kalau mereka khawatir. 

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif, berharap layanan ini nggak jadi ada. Ya, karena bisa menghancurkan ekosistem telekomunikasi. Teknologi Direct to Cell bisa diimplementasikan, tapi masalahnya tinggal di frekuensi buat ngejalaninnya dan tergantung keputusan pemerintah.

Elon Musk, the honcho of SpaceX yang punya Starlink, bilang kalau Direct to Cell nggak bakal bersaing langsung dengan jaringan seluler yang sudah ada. Meskipun bagus buat lokasi tanpa jaringan seluler, dia yakin layanan ini nggak akan bisa mengalahkan jaringan seluler yang sudah ada.

BACA JUGA: TUNDUKNYA INTERNET DI HADAPAN HUKUM

Apakah benar demikian? Let’s dive into it, shall we.

Jumlah pengguna internet di Indonesia emang bisa bikin Starlink ‘ngiler’

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2024 mencapai 221.563.479 jiwa dari total populasi 278.696.200 jiwa pada tahun 2023, dengan tingkat penetrasi internet sebesar 79,5%. 

Dari sisi wilayah, daerah urban menyumbang 69,5% dari pengguna internet, sedangkan daerah rural menyumbang 30,5%.  Dengan jumlah angka sebesar itu, perusahaan mana yang nggak bakal ngiler coba?

Ya, walaupun pemain ‘dunia jaringan’ di Indonesia sudah banyak, bukan berarti menutup kemungkinan adanya pemain baru. Apalagi jika pemain baru memiliki teknologi yang canggih dan paling uptodate. Ya, nggak sih?

You wanna play here? Abide the rules!

Dilansir dari Habadaily, XL Axiata, melalui Head of External Communication, Henry Wijayanto, menginginkan pemerintah memastikan bahwa Starlink bersaing dengan operator seluler secara adil. 

Mereka meminta Starlink bekerja sama dengan operator seluler, bukan langsung menyediakan layanan kepada pengguna akhir. Mereka juga menyatakan bahwa masih menunggu arahan dari pemerintah terkait kehadiran Starlink di Indonesia.

Untuk menjadi Internet Service Provider (ISP) yang beroperasi di Indonesia, badan usaha harus mematuhi persyaratan. Seperti yang terdapat di Pasal 150 dan Lampiran II PP Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Selain itu juga harus melalui proses Uji Laik Operasi (ULO) dan mendapatkan keterangan laik operasi.

The good news is, Starlink udah lulus ULO. So, mereka sudah mengantongi  ‘license to play’ di Indonesia.

BACA JUGA: JANGANKAN MAU LIVE DI MEDSOS, BANDWIDTH KOSAN AJA KECEPATANNYA KAYA KOALA

There is a catch tho, aturan Indonesia masih lemah terkait satelit orbit rendah seperti yang digunakan oleh Starlink. What I mean with weak is, kita belum memiliki aturan terkait hal tersebut. In my opinion, pemerintah harus segera mengatur lebih detail tentang satelit orbit rendah, ya biar lebih jelas aturan mainnya.

Let’s just talk about it in the next article, karena akan terlalu panjang kalau sekarang hehe.

Operator Indonesia nggak perlu khawatir, toh juga di negara asalnya persentase penggunanya sedikit. 

Kehadiran Starlink di Indonesia memang membawa isu akan menggantikan layanan operator seluler. Still in my opinion, Starlink cuma bakal jadi suplemen yang melengkapi layanan operator seluler dan nggak akan sampai mendominasi pasar. Why

Hingga kini, hanya Selandia Baru yang mencatatkan persentase pengguna layanan berbasis satelit tertinggi.  Jumlah pengguna Starlink di Selandia Baru mencapai 40 ribu dari 5 juta pengguna internet. Yup, it’s only 0,8% dari total pengguna. 

Di Kanada pun Starlink hanya memiliki jumlah pengguna sebanyak 0,54% dari jumlah total pengguna internet.

Pengguna Starlink di Amerika Serikat sekitar 1,2 juta orang atau cuma 0,39% dari total pengguna internet yang berjumlah 300 juta. So, even though jumlah pengguna di Amerika Serikat adalah yang tertinggi di dunia, the number is still small dibandingkan total pengguna internet. 

With that, I can conclude that kehadiran Starlink di Indonesia hanya akan melengkapi layanan yang sudah ada, tanpa dapat mendominasi pasar.

BACA JUGA: BISNIS WIFI KOIN BISA BERUJUNG PIDANA

We on the other hands, masih tetap memerlukan infrastruktur untuk mendukung hal ini, karena even if sekarang sudah ada Starlink dan kita tetap membutuhkan infrastruktur yang diatur perusahaan dalam negeri sendiri.

The worse case, bisa saja kita mengalami kerugian besar jika hanya bergantung terhadap satu perusahaan, apalagi perusahaan luar. Although, dengan masuknya Starlink pastinya akan ada persaingan dan RnD lebih dalam terkait peningkatan layanan yang lebih terjangkau. Which is why I love it.

For that reason, even if it’s controversial, I know it is, kita masih perlu tower BTS untuk meratakan layanan internet dan seluler di Indonesia.

With a big note though, uangnya beneran buat bangun tower, bukan yang lain. CYA.

“Starlink berpotensi mengubah kehidupan miliaran orang. Starlink akan menghubungkan mereka yang belum terhubung dan menciptakan peluang baru dalam pendidikan, bisnis dan komunikasi.” – Elon Musk, The Mars Man.

Pratama Nugraha Purwiyatna
Pratama Nugraha Purwiyatna
Web Master Klikhukum

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id