homeJokpusGIMANA SIH, PENGALAMAN KKN AS AN ANAK HUKUM? SO,...

GIMANA SIH, PENGALAMAN KKN AS AN ANAK HUKUM? SO, INI PENGALAMANKU!

Menguak keseruan pengalaman KKN anak hukum dalam menghadapi realita regulasi desa, kejahatan remaja, hingga konsultasi kasus warga.

Kuliah Kerja Nyata, atau yang lebih akrab disebut KKN, adalah salah satu ‘ritual wajib’ yang bikin deg-degan sekaligus excited buat mahasiswa tingkat akhir. Nggak terkecuali aku. Sebagai mahasiswa hukum, aku sempat mikir, “Emang ilmu hukum bisa dipraktikkan di desa? Gimana caranya?” Ternyata, jawabannya jauh lebih seru dari yang aku bayangkan, guys!

Drama Pertama: Perdes vs Sosialisasi

Begitu sampai di lokasi KKN, hal pertama yang bikin pusing tujuh keliling adalah nentuin program kerja alias proker. Sebagai anak hukum, pilihan yang paling ‘kebayang’ ya, bikin Peraturan Desa (Perdes). Kedengarannya keren, kan? Bisa dibilang kontribusi nyata yang legal formal banget. Tapi setelah ngobrol sama perangkat desa dan observasi beberapa hari, aku sadar bahwa bikin Perdes itu nggak semudah bikin draft terus jadi. Prosesnya panjang dan harus benar-benar menjawab kebutuhan warga. 

Selain itu Perdes juga memiliki proses pembentukan sendiri yang harus melibatkan BPD, Kepala Desa, dan Masyarakat,  bukan sekadar proyek KKN yang kelar dalam sebulan lalu ditinggal pergi.

Setelah muter otak (dan sempat galau beberapa hari), aku akhirnya memutuskan buat fokus ke sosialisasi kenakalan remaja. Alasannya sederhana, karena di desa itu remaja-remajanya banyak yang masih awam soal batas hukum dari hal-hal yang mereka anggap ‘biasa aja,’ mulai dari tawuran kecil-kecilan yang berawal dari emosi, judi online, pinjol illegal, hingga maraknya miras yang dikonsumsi oleh remaja di bawah umur. 

BACA JUGA: DERITA MAHASISWA HUKUM SEMESTER AKHIR

Daripada bikin regulasi yang mungkin nggak sempat kelar dan dieksekusi, aku pikir lebih baik menanamkan pemahaman dari akarnya dulu. Kalau anak-anak mudanya paham konsekuensi hukum sejak awal, harapannya masalah yang lebih besar bisa dicegah.

Pusing Karena Kriminalitas Antara Ada dan Tiada

Salah satu hal paling menarik (dan bikin aku senyum-senyum sendiri) selama KKN adalah soal rasa aman di desa itu. Sebagai mahasiswa hukum yang sehari-hari mikirin kasus, pasal, sampai teori kriminologi, aku sempat kaget lihat kenyataan di lapangan. Bayangin aja, kunci motor digantung gitu aja di pinggir jalan, motornya diparkir depan rumah tanpa dikunci setang, dan itu semua aman-aman saja. Nggak ada yang kepikiran buat nyolong. 

Rasanya kontras banget sama apa yang biasa aku pelajari di kelas, di mana angka kriminalitas jadi bahasan serius tiap hari.

Bukan berarti desa itu benar-benar steril dari masalah hukum, ya! Ada juga gesekan atau kesalahpahaman antarwarga yang sebenarnya berpotensi masuk ranah hukum, tetapi sering kali diselesaikan secara kekeluargaan. Ini jadi semacam pengingat buat aku bahwa hukum itu nggak melulu soal pasal dan sanksi, tapi juga soal bagaimana nilai sosial dan kepercayaan antarwarga bisa jadi penjaga efektif selain aturan tertulis.

BACA JUGA: BAGAIMANA SEEKOR IKAN BISA BANTU MAHASISWA HUKUM LULUS TEPAT WAKTU?

Bonusnya Desa Wisata Dekat Pantai

Satu hal yang bikin KKN kali ini terasa kayak liburan berfaedah adalah lokasinya. Aku ditempatkan di desa wisata yang berada persis di kawasan pantai. Jadi selain sibuk ngurus proker, aku juga punya waktu buat menjelajahi keindahan alam sekitar. Yah, sesekali lah anak hukum yang tiap harinya ngomongin masalah hukum ini dapat pemandangan yang memanjakan mata, nggak cuma berita penganiayaan atau korupsi doang. 

Sore hari sehabis kegiatan, biasanya aku dan teman-teman posko jalan-jalan ke pantai, lihat sunset, atau sekadar duduk-duduk sambil ngobrolin rencana proker besok. Rasanya privilege banget bisa ngerasain KKN yang nggak cuma produktif secara akademis, tapi juga menyegarkan secara mental. Apalagi warga desanya ramah-ramah, jadi suasana kekeluargaan itu kerasa banget meskipun kami cuma numpang tinggal sebulan. 

Tapi dengan melihat pantai itu aku juga kepikiran, bagaimana hak-hak masyarakat atas pantai ini kalau-kalau nanti ada investor masuk kayak kasus di Bali? But, yah itu hanya lamunan sekelebat aja sih, semoga ke depan ada kelompok KKN yang bisa ngasih edukasi kepada masyarakat tentang desa wisata yang masyarakatnya melek hukum yah. 

BACA JUGA: ANAK HUKUM MAU KKN TAPI MASIH BINGUNG BIKIN PROKER APA? SINI-SINI, AKU KASIH IDE!

Jadi Tempat Tanya Hukum Dadakan

Ini nih, pengalaman yang kayaknya cukup relate buat anak hukum pas KKN. Begitu warga tahu aku kuliah hukum, entah kenapa langsung banyak yang mulai cerita dan bertanya masalah hukum sehari-hari. Ada juga yang ngajak ngobrol soal isu hukum yang lagi ramai di media sosial.

Nggak cuma warga, teman-teman satu unit yang lintas fakultas juga mendadak sering nanya, “Kalau kasusnya begini, secara hukum gimana?” Padahal ya, status masih mahasiswa, bukan pengacara keliling desa, gengs.

Dari situ aku malah sadar, ilmu hukum yang dipelajari di kelas ternyata nggak selalu harus keluar dalam bentuk pasal panjang atau bahasa yang ribet. Kadang yang dibutuhkan orang cuma penjelasan sederhana supaya mereka lebih ngerti posisi dan persoalan yang sedang dihadapi.

Dari Penulis

Terkaitrekomendasi
Artikel yang mirip-mirip

0 0 votes
Article Rating
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Dari Kategori