homeEsaiRISALAH CINTA “SI BODAT” YANG KERAS KEPALA

RISALAH CINTA “SI BODAT” YANG KERAS KEPALA

“Cinta kelapa … awak cinta dianya enggak.”

Begitulah ujar Bodat (bukan nama sebenarnya) si anak Medan yang baru saja lulus dari Fakultas Hukum kampus ternama di Jogja dan kini ia magang di kantor klikhukum.

Sepertinya saya sudah lama tak menulis untuk media yang saya pimpin sejak tahun 2022 ini. Namun kali ini sepertinya saya harus menulis, karena ada satu hal yang sangat menggelitik di kantor akhir-akhir ini.

Cerita diawali dengan masuknya si Bodat sebagai anak magang, seorang pemuda yang nada bicaranya lantang, khas dialek anak Medan. Perawakannya kurus, tinggi ideal, lengkap dengan brewok tipis di dagunya yang bentuknya rada trapesium, kepalanya dipenuhi dogma-dogma idealisme kiri, buku bacaannya berat, sejenis Madilog karya Tan Malaka, tontonanya pun konten-konten Fery Irwandi, konsentrasi perkuliahannya HTN (hukum tata negara).

Entah kenapa semenjak anak ini bergabung, aktivitas nongkrong teman-teman (laki-laki) redaksi di luar jam oprasional, kantor redaksi vibenya menjadi lapo tuak khas pinggiran kota metropolitan, kadang-kadang juga vibenya seperti markas para aktivis kiri yang diskusi kenegaraan, mungkin kalau saya bayangkan seperti Soekarno dan Kartosoewirjo saat berdebat di rumah H.O.S. Tjokroaminoto.

Suatu waktu ia pernah menjumpai saya dengan kondisi sedikit gontai kemudian bicara dengan dialek khas medan.

“Mas, kau tahu tidak, Nyirorokidul itu rupanya asli Medan, ku jumpainya Nyiroro Kidul itu dalam mimpi awak siang tadi, sedang menarinya itu tor-tor.”  

Tentunya tak kutanggapi dengan serius, maklum saja, ia dalam kondisi tak berakal sehat. 

Lalu belum lama ini sebuah rahasia dari dalam hatinya terbongkar melalui mulutnya sendiri saat ia sedang kondisi gontai. Si Bodat naksir sama salah satu redaktur klikhukum, tentu saya sebagai pimpinan menjadi sedikit khawatir, takut kondisi kerja menjadi tak kondusif jika mereka berpacaran. Namun, syukurlah perempuan yang Bodat taksir tak membalas cintanya.

BACA JUGA: DRAMA DAN ADU GAGASAN POLITIK DI WA GRUP KELUARGA

Sebelum lebih lanjut menceritakan kisah cinta Bodat, mari kita sepakat saja untuk menamai perempuan ini dengan nama “Luna” seorang perempuan berusia genap 20 tahun dengan suara merdu, tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek juga, perawakannya cantik, anggun, kulit bersih dan glowing, tidak glamor, tidak menggunakan banyak aksesoris, cenderung berpenampilan sederhana yang dilengkapi senyuman manis khas perempuan Jawa lengkap dengan sifat lembutnya. 

Luna ini, menurut Bodat dalam diskusi tongkrongan bertema Konstitusi Cinta, merupakan representasi paling nyata dari, “Warga negara berakhlak baik,” sebagaimana imajinasi Bodat akan Luna jika diposisikan sebagai perancang undang-undang. Luna datang ke kantor tepat waktu,  pekerjaannya rapi, menyusun konten dengan sistematis dan yang paling penting, tidak pernah ikut ribut kalau teman-teman redaksi lagi berdebat ideologi yang seolah-olah sedang sidang konstituante jilid dua.

Kalau ditanya, hubungan mereka berdua di kantor seperti apa?

Secara hierarki, ya biasa saja. Bodat itu anak magang dan Luna redaktur muda. Secara hukum, kira-kira begini.

-Di depan aturan kantor, mereka setara sebagai pekerja media, tapi di depan perasaan, jelas Bodat kalah suara sejak awal- 

Semenjak ia naksir Luna, diskusi-diskusi konstitusi yang biasanya penuh nalar kritis, mendadak diselipi kalimat-kalimat yang tidak relevan dengan pasal mana pun.

Misalnya, saat kami sedang membahas Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 tentang 

kedaulatan di tangan rakyat, si Bodat tiba-tiba nyeletuk:

“Mas, menurut teori hukum, memanglah benar adanya, kedaulatan itu di tangan rakyat.

tapi menurut teori awak, kedaulatan hati awak di tangan Luna, Mas. Gimana kami mau revolusi, kalau kedaulatan hati saja sudah jatuh ke individu tertentu?”

Dalam hati saya berpikir, “Ini bahaya!” kalau dibiarkan berlarut. Dari cara Bodat  menatap Luna yang sedang konsentrasi bekerja saja sudah seperti aktivis  yang fokus memantau berjalannya sidang di gedung DPR, hanya saja yang dia amati bukan jalannya pembahasan RUU, tapi manis lesung pipi Luna yang munculnya terbatas. 

BACA JUGA: SUARAKU ADALAH KADO CINTA UNTUK TANAH AIR

Pernah suatu kali, Bodat mendatangi ruangan saya, ia menenteng buku UUD 1945 lusuh yang sampulnya sudah mulai lepas.

“Mas, kau tau Pasal 27 kan? Yang bilang segala warga negara itu sama kedudukannya di depan hukum?” ucapnya. 

Saya refleks mengangguk.

“Nah, masalahnya, di depan hukum mungkin kami sama. Tapi Mas, di depan Luna, awak rasa kedudukan kami ini masih sebatas objek sengketa, Mas. Belum naik kelas jadi subjek hukum yang punya hak istimewa di hatinya.” Tambah Bodat.

Saya hanya bisa menghela napas kesal, lengkap dengan sedikit rasa menyesal kenapa musti saya tanggapi. Namun beginilah kalau Cupatkai anak HTN jatuh cinta, metaforanya tetap saja berkutat di antara, “Hukum konstitusional” dan “relasi kuasa.”

Sebagai pimpinan, tentu saja saya harus menjaga agar suasana tetap kondusif. Namun sebagai manusia biasa yang pernah jatuh cinta, saya juga punya sedikit ruang empati. Andai kau membaca tulisanku ini Bodat, janganlah gegabah dalam urusan cinta terutama di kantor,  jangan buat wanita cantik yang kau kagumi itu menjadi merasa tidak aman dengan kehadiranmu. 

Sebagai orang yang mengamini Pasal 28A-sampai 28 I UUD 1945 dan segala hak asasi di dalamnya, kau tentu paham bahwa setiap orang berhak atas rasa aman. Biarkan Luna tetap punya hak konstitusionalnya untuk datang ke kantor tanpa rasa was-was, untuk bekerja tanpa harus menebak-nebak maksud di balik setiap perhatianmu yang sudah mulai diluar batas “wajar”. 

Dan kalau pun akhirnya kisahmu dengan Luna berakhir sebagai catatan kaki saja dalam sejarah cinlokmu ini, tak apa. Tidak semua draft RUU harus menjadi undang-undang. 

Dari Penulis

Terkaitrekomendasi
Artikel yang mirip-mirip

Pundi Pangestu
Pundi Pangestu
Suka nasi padang.
5 2 votes
Article Rating
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Dari Kategori

Klikhukum.id