ASAL MUASALNYA, BAJINGAN!

“Hey, Pun. Bajingan og koe ki, sido meeting ora, e? 

“Kesehatanmu kui loh Pun, madang kono.” “Bajingan og koe! Pancen bajingan koe Pun!”

Kek gitulah, umpatannya Pak EL-Presidente ke gue. Dan itu sering terjadi. Gue gak pernah tersinggung, karena umpatan tersebut gue anggap sebagai wujud perhatian dan simbol keakraban sesama laki-laki sejati. 

Umpatan, pisuhan, makian ‘bajingan’ mungkin udah jadi default autotext Pak EL yang khas keluar dari mulut manis berkumis lebat bak Polisi India. 

Siapa sih, gak pernah dengar kata bajingan? Kata bajingan dianggap memiliki konotasi negatif di masyarakat. Namun demikian, kata ‘bajingan’ jika dikatakan ke temen akrab dan sebaya dengan tulus, malah bisa menjadi simbol keakraban dan kedekatan. Sebaliknya, kalo dikatakan pake nada agak nyolot, maka bisa menyakiti hati. Ujung-ujungnya bisa dilaporkan ke polisi atas kasus Penghinaan Ringan (Pasal 315 KUHP).

Ngatain bajingan ke orang yang gak akrab, bisa membuat orang tersebut tersinggung. Ngatain ke temen akrab, tapi temennya gak biasa dengan kata-kata seperti itu juga mungkin bisa bikin si temen tersinggung dan marah.

Kata ‘bajingan’ dianggap sebagai kata-kata yang mengejek dan menyakitkan. Kek ngatain, tiiit (suara sensor) lo! Tiiiiiit (suara sensor) lo! Tiiiiiiit (suara sensor) lo. Bajingan lo! Sundel dan sebagainya. Yah, banyak bangetlah kata umpatan. Udah kek kuman kalo disebut satu per satu. 

BACA JUGA: PERTENGKARAN HINGGA JADI PENGHINAAN KEPADA TUKANG SATE

Dari mana sih, sebenernya kata ‘bajingan’ ini berasal? Yang pasti asal muasalnya bukan dari mulut manis berkumis Pak El. Doi hanya lebih mempopulerkannya di kantor redaksi klikhukum.id. Yuk, kita bredel (buku kaleee dibredel) asal usulnya kata bajingan yang sangat kasar ini. Uuuugh!

Versi 1. 

Alkisah pada jaman dahulu kala, jaman kolosal, jaman kakeknya kakek buyut gue belum sunat, ada seorang pengembara.  Beliau mengembara dengan menunggangi, berteduh, bobok dan istirahat di atas kendaraan beroda dua horizontal, alias nyamping kanan dan kiri yang ditenagai dan ditarik oleh sapi moo. 

Pengembara ini punya nama Bajingan, memakai baju khas berbahan kain goni dan bertopi caping anyaman bambu. Suatu hari, Mas Bajingan (selanjutnya kita panggil dengan Mas Baj) singgah di suatu desa, sebut saja Konoha (purak-puraknya). 

Mas Baj ini terlihat punya unggah-ungguh, sopan santun dan berperilaku baik, sehingga disenangi warga Desa Konoha. Karena Mas Baj adalah seorang pengembara, ya jelas gak punya pekerjaan tetap lah.  Pekerjaan Mas Baj serabutan, kalo jaman sekarang disebut freelancer. Biar gaul gitu. 

Sehari-hari Mas Baj sering dapat proyek jadi supir pedati untuk mengangkut hasil panen para warga desa. Mas Baj dengan senang hati menjadi supir pedati, lumayan upahnya bisa untuk bertahan hidup dan buat modal mengembara lagi. Oii, freelancer baru kedapetan proyek gitu looch!

Suatu waktu Mas Baj berkunjung atau nongki ke rumah Pak Lurah. Pak Lurah pun ngasih respek dengan apa yang udah dilakukan Mas Baj untuk warga desanya. Karena Pak Lurah udah sukak, beliau gak ragu lagi mempersilakan Mas Baj untuk tinggal sementara di rumah Pak Lurah. 

Gayung pun bersambut. Ya, jelas Mas Baj mau, wong rumahnya Pak Lurah megah abees. Pak Lurah juga menyediakan tempat pakir gerobak dan bahan bakar engine sapi.

Pagi pun tiba, Pak Lurah bangun dari tidurnya yang kepluk, lantaran semalam suntuk mabuk minum tuak bersama Mas Baj sambil curhat tentang konspirasi elite global. Pak Lurah mencari Mas Baj, namun Mas Baj udah tidak ada di rumah Pak Lurah. 

Mas Baj menghilang bersama sapi, pedatinya, kalung, keris, cincin akik, uang di bawah Kasur Pak Lurah, hasil panen, beberapa upeti dan burung Pak lurah pun juga hilaaang. 

Pak Lurah sangat emosi, lalu lari ke depan rumahnya, sambil teriak “Woo … pancen asu, si Bajingan!!”  Dari peristiwa Pasal 362 KUHP tentang pencurian tersebut, warga pun jadi ngegosip dan nyinyirin si Bajingan. Berita tersebut menyebar luas ke penjuru desa, lama kelamaan Bajingan menjadi trending topik. Banyak yang ngomong, ooohhh pencurinya si Bajingan to? Dasar Bajingan!!!!!!

Sejak itulah kata ‘bajingan’ maknanya bergeser menjadi negatif bor. Dasar bajingan!

-Sumber cerita dari embah gue alias engkong gue-

Versi 2. 

Bajingan adalah sebuah istilah yang muncul di tanah Jawa untuk menunjuk seorang pengendara atau sopir gerobak sapi, alias pedati. Dahulu kala jaman menjelang kemerdekaan bangsa Indonesia. Yaa, sekira tahun 1940an di daerah Golden Water alias Banyumas, pedati menjadi sarana transportasi utama kaum menengah untuk ke kota guna menjual hasil bumi. 

BACA JUGA: STOP, VERBAL ABUSE!

Pedati ini berspesifikasi roda dua kanan dan kiri, bermesin twin sapi (sapinya dua) ada juga bermesin single (satu sapi) kecepatan rata-rata CP (Cow Power) adalah 4 kilometer/ jam. Cukup kencang bukan?

Bajingan selalu ditunggu-tunggu oleh para penumpangnya. Karena sering terlambat dan tak punya jam dan jadwal yang pasti kapan lewat, kadang penumpang menjadi kesal. Untuk mengungkapkan kekesalannya, akhirnya muncul kalimat dari penumpang nyinyir “Bajingan, suwe tenan to tekane” (Bajingan kok lama banget datengnya), “Bajingan dienteni ora teka-teka” (Bajingan ditungguin gak dateng-dateng). 

Lama-lama kata ‘bajingan’ mengalami pergeseran makna ke konotasi yang negatif. Seperti, “Suwe tenan koe, koyo Bajingan” (lama sekali kamu kayak bajingan). Ya, semacam itulah. Ada rumor juga bor yang tercatat, si Bajingan ini suka nyolong alias ngutil barang bawaan penumpangnya yang ngantuk. Ya, gimana gak ngantuk, jalannya aja pelan banget.

-sumbernya indopers.id dan Wikipedia- 

Wah, sebenernya masih banyak versi yang lain ya bor, tapi itu dulu yak. Gara-gara bahas asal muasal kata ‘bajingan,’ jadi muncul satu pertanyaan yang menggelitik dan sulit dijawab sendiri nih.

Di Sleman itu masih banyak pengendara pedati, bahkan ada juga Festival Bajingan yang dihadiri oleh para bajingan di penjuru desa.

Pertanyaan gue nih, khusus dan spesial buat penulis curkum yang lagi bertugas. Kalo gue ketemu sama sopir pedati yang lagi mengendarai pedatinya, lalu gue menyapa doi “Oii Bajingan, apakabs?!” Itu gue bisa dilaporin dan kena pasal penghinaan gak? Jawab yak! Kalo gak jawab berati emang bajingan lu, hahaha. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klikhukum
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!