TRADISI UNIK MASYARAKAT MADURA SAAT MERAYAKAN LEBARAN

Woyoo, lebaran sudah di depan mata. Ya, walau masih menunggu keputusan sidang isbat. Sesuai dengan ketentuan Pasal 52 A UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Pengadilan agama berwenang memberikan isbat kesaksian rukyatul hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun Hijriyah.

Ngiming-ngiming, kalian pada mudik ga? Kan udah dibolehin mudik nih, sama pakde. Kita bisa mengobati rindu dengan keluarga, setelah dua tahun ini kita dipaksa merayakan kemenangan dengan prihatin di perantauan. Jadi sedih, makanan lebaran pun hanya nasi sarden dan es nutrisari yang rasa kelapa muda. Uugh, sungguh derita yang dramatis.

Rindu banget rasanya dengan tradisi Lebaran di kampung halaman. Kalau you-you gimana? Saya yakin pasti demikian juga kan?  

Kali ini dalam perjalanan mudik naik bus menuju kampung halaman, ijinkan saya berbagi cerita tentang tradisi Lebaran di pulau Madura. Tepatnya di pulau Poteran. Ada yang pernah denger ga? (🎵Perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Huooo, huoo,o 🎵)

Oreng Madure (orang Madura) menyebut Lebaran dengan Tellasan.  

Tellasan bagi masyarakat Madura adalah momen sakral yang harus dirayakan secara meriah dan penuh suka cita. 

Karena begitu sakralnya Tellasan bagi masyarakat Madura, semua oreng Madure yang berada di perantauan, pasti punya keinginan besar untuk pulang ke kampung halamannya. 

Budaya mudik ini kami menyebutnya toron ka Madura.

Cekidotlah, saya spill  tradisi unik masyarakat Madura saat merayakan Lebaran.

Macam-macam tradisi Lebaran masyarakat Madura. 

BACA JUGA: NASIB DAN THR FREELANCER DI KALA LEBARAN

Tradisi Lebaran Madura Ter-ater

Ter-ater adalah tradisi memberikan makanan kepada tetangga dan sanak keluarga. Biasanya makanan yang diberikan adalah  berupa nasi putih dan chuko’ ajam (daging ayam) dan  chuko’ sapeh (daging sapi) yang diolah dengan bumbu rempah merah yang … eeem … mantab! 

Mereka biasanya membuat kue sesagun dengan kuah gula merah bercampur santan yang legit. Kalau di Jogja dikenal dengan nama kue serabi. Ya, mirip-mirip gitu lah bentuknya. 

Selain ke tetangga, ter-ater juga dilakukan ke langgar, masjid atau mushola yang menyelenggarakan sholat jamaah Idul Fitri. 

Nasi dari warga akan dibagikan kembali atau dimakan bersama di tempat setelah selesai sholat Idul Fitri.

Tradisi ter-ater tidak hanya dilaksanakan pada waktu Tellasan atau Idul Fitri saja, tapi juga pada Hari Raya Idul Adha serta bulan Rajab dan bulan Safar. Pada bulan Safar biasanya masyarakat Madura memasak bubur dengan sebutan massak tajin, yang kemudian dibagikan kepada tetangga. Tradisi ini sudah sangat melekat di kampung kami. 

Tradisi ter-ater bagi masyarakat Madura mempunyai makna filosofis yang memiliki arti kebersamaan, kepedulian tinggi antar sesama, kekeluargaan, tenggang rasa dan mempererat tali silaturahmi dalam bermasyarakat. 

Tradisi Lebaran Madura Amain Ka Tan Taretan 

Tradisi Madura amain ka tan taretan adalah berkunjung atau bersilaturahmi ke rumah sanak kerabat dan saudara.

Sejak kecil masyarakat Madura sudah diajarkan untuk bersilaturahmi dengan saudara, kiai, ustad, guru dan tetangga. Bagi masyarakat Madura hal itu merupakan hal mendasar dan wajib, yang harus dibekali sebelum dewasa. 

For your information, bahwa di Madura kiai dan keluarganya sangat dihormati oleh masyarakat. Mereka diakui sebagai penasihat masyarakat, panutan dan tuntunan di hampir seluruh lapisan kegiatan bermasyarakat. 

Out of the topic sedikit ya, kiai dan ustad harus dinyabisi atau dianggap paling penting dalam tatanan masyarakat Madura. Mereka adalah orang yang memberikan pengetahuan tentang Alif. Orang Madura berprinsip bahwa jasa guru Alif aka guru langger, aka guru mengaji itu tidak boleh dilupakan sepanjang hayatnya.

Back of the topic, tradisi Lebaran Madura amain ka tan taretan biasanya diurut dari keluarga yang paling tua sampai yang paling muda. Makanya Tellasan di sana dirayakan sampai beberapa hari ke depan.

Momen Tellasan bagi masyarakat Madura dijadikan sebagai kesempatan untuk  mempererat tali persaudaraan agar semakin harmonis.

Berbicara soal amain ka tan taretan, tak lengkap rasanya jika tidak membahas fashion style saat berlebaran. 

Jangan kaget kalau kalian main ke Madura terkhusus kampung saya di Talango yang berada di pulau Poteran. Biasanya pada saat amain ka tan taretan para kaum perempuan menggunakan perhiasan  yang too much alias berlebihan. Seperti kalung, gelang dan cincin semuanya dipakai layaknya toko emas berjalan. 

BACA JUGA: BAHAYA MUDIK DITENGAH BADAI CORONA

Tidak hanya satu, tapi sampai bertumpuk tumpuk. Entahlah, mungkin ingin flexing. Tapi hal ini sangat mengerikan, karena bisa memicu orang dengan jiwa jambret dan copet untuk melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 365 Ayat (2) KUHP dengan ancaman penjara paling lama 12 tahun. 

Sebuah tradisi yang penuh resiko bukan? 

Tradisi Lebaran Madura Entar Ka Koburan 

Tak lain adalah ziarah ke kuburan. Ziarah kubur masyarakat Madura menyebutnya dengan nyalase, budaya ziarah kubur sanak famili tujuh hari berturut-turut.

Biasanya, nyalase dilakukan setelah shalat Idul Fitri selesai. Mereka sekeluarga dari anak kecil sampai dewasa berbondong-bondong mengunjungi makam sesepuh dan mendoakannya. 

Tradisi nyalase merupakan bentuk bakti keluarga kepada saudara yang telah berada di alam barzakh dengan mendoakan agar Allah mengampuni segala dosa-dosa dan memberikan keselamatan di akhirat. 

Ziarah kubur tersebut merupakan kebiasaan turun-temurun sejak nenek moyang, khususnya bagi masyarakat Sumenep, Madura.

Itu saja sedikit cerita dari saya. Udah mau nyampe terminal nih, hehehe. 

Selamat Lebaran semuanya … 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.