STOP, VERBAL ABUSE!

Saat itu sekitar pukul tujuh malam lebih sedikit, nek disingkat jadi ba’da Isya. Di buk (jembatan semen) yang terletak di sekitaran Jalan Kaliurang, tempat biasanya dua jenis manusia gak jelas nongkrong dan rasan-rasan melepas penat setelah seharian luntang-lantung gak ada perkara.

Kenapa dua manusia ini nongkrong di buk cor-coran, ya karena hanya buk cor-coran yang bakoh (kuat) menahan beban berat badan mereka, plus beratnya beban kehidupan yang dikempit di kelek (ketiak) mereka ndes. Ndadak tekon!

“Trot, njaluk (minta) rokokmu donk. Rokokku udah habis dari kemaren e Trot.”

“Waduh rokokku pas entek juga Mbloh. Perasaan baru aja matiin rokok koe Mbloh, trus tadi kamu ngrokok punya siapa Mbloh?”

“Hehehe, itu rokokmu yang aku ambil tadi pagi Trot. Kan tadi pagi pas aku minta, aku ambil enam batang sisan, biar sekalian gak minta berkali-kali gitu ganti roger.”

Hesjanyawes ke warungnya Lek Mijo wae yok, tumbas (beli) rokok Mbloh.”

Berjalanlah mereka berdua ke warung Lek Mijo yang terletak di seberang rumah Mbak Wagiyem. Setelah berjalan gak nyampek sak udud-an (waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan sebatang rokok) tibalah mereka di warung warna merah yang menjual beraneka ragam kebutuhan mulai dari pakan burung sampek sembako.

Sekitar 200-an sentimeter mereka berdua tiba-tiba menghentikan langkahnya karena sayup-sayup terdengar teriakan bersuara sengau khas Lek Mijo yang di kampung terkenal temperamental.

“Dasar kamu istri gak tau diuntung!” Kata Lek Mijo.

“Apa Mas? Arie Untung?!” Jawab sang istri gak mau kalah.

“Emang m*#yet bauk, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kir*k!!!” Maki Lek Mijo ngerasa jumawa dikira mirip Vino G Bastian.

“Salahku apa to Mas?” Sambung sang istri lirih sambil terisak.

“Jangan banyak alasan kau nyisanak, kanda tau kelakuanmu selama ini ketika daku sedang kulakan rokok di pasar. Diam-diam engkau merajut obrolan mesra dengan Cak Kadir, sainganku dalam berbisnis toko kelontong. Dasar istri murahan kamu dek!!!”

“B*&#**@!!!” Maki Lek Mijo (1).

“K¤!!!!” Maki Lek Mijo (2). Sambil membanting keras-keras blek (kaleng) bekas biskuit yang isinya rengginang.

BACA JUGA: TUTORIAL MEMBUAT GUGATAN CERAI

Braaakkkkk … klontang!!!!

“Weits, kenapa itu Trot? Jangan-jangan Lek Mijo sedang latian akting buat ikut audisi sinetron Ikatan Cinta versi 7.0 Trot,” kata Gombloh tiba-tiba sembari menahan tangan Foxtrot biar gak maju lagi.

Lambenya Mbloohhh, itu Lek Mijo baru berantem sama istrinya. Kasian istrinya dimaki-maki sampek kedengeran dari jalan gede Mbloh. Kita tolongin yok Mbloh.”

“Wah, jangan Trot. Itukan urusan rumah tangga mereka. Kalo kita ikut campur nanti kita dikira tetangga kepo ikut campur urusan rumah tangga orang lain Trot,” jawab Gombloh kuwatir.

“Wah, yo oro ngono Mas Gom, kalo udah kayak gini bukan lagi cuman urusan rumah tangga tok Mbloh. Ini udah masuk ranah kekerasan dalam rumah tangga kayak yang dimaksud di UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).”

“Tapi kan Lek Mijo cuman ngomong kasar wae Trot. Gak ada maen tangan, mukul ato kekerasan fisik lainnya.”

“Jangan salah Mbloh, UU PKDRT gak cuman ngatur kekerasan fisik aja lo.”

Kekerasan yang dimaksud dalam UU PKDRT itu bisa digolongin dalam empat jenis, yaitu: 1). kekerasan terbuka, kekerasan yang terlihat secara nyata/fisik seperti penganiayaan, pemukulan dll; 2). Kekerasan tertutup/psikologis, kekerasan yang tersembunyi, tidak terlihat secara nyata/fisik saja tapi berupa serangan terhadap psikologis korbannya seperti penghinaan, ancaman, pelecehan dan teror; 3). Kekerasan seksual, gak usah dibahas mesti pada ngerti; dan 4). Kekerasan ekonomi/finansial berupa penelantaran anak/istri/suami, tidak menafkahi, memanipulasi dan mengendalikan korban dengan tujuan keuntungan finansial.

“Yang dilakuin Lek Mijo ke istrinya itu termasuk kekerasan tertutup/psikologis Mbloh. Tanpa menampar ato menganiaya fisik istrinya, tapi akibat dari kekerasan verbal berupa makian dan hinaan Lek Mijo tadi, efeknya bisa jauh lebih buruk daripada kekerasan fisik. Si Korban bisa ngerasa rendah diri, gak berguna hidupnya dan putus asa. Bahkan ada beberapa kejadian kekerasan verbal memakan korban jiwa Mbloh,” jawab Foxtrot.

“Yuk, kita lerai Lek Mijo Trot biar gak bertindak lebih jauh,” kata Gombloh membara menegakkan keadilan.

“Barangnya siapa melihat kejahatan tapi tidak melakukan sesuatu, sama saja dia bertindak sebagai pelaku kejahatan itu sendiri Trot.”

“Nah, bener banget Mbloh. Kekerasan dalam rumah tangga bukan lagi hanya persoalan domestik rumah tangga yang bersangkutan, tapi juga jadi tanggung jawab masyarakat sekitar terdekat untuk turut mencegahnya.”

“Sekarang kita ke warungnya Cak Kadir buat bantuin istri Lek Mijo Mbloh.”

“Loh, kok malah ke warung kelontong Cak Kadir Trot? Bukannya ke rumah Lek Mijo ya?!” Tanya Gombloh heran.

“Ya iyalah, kita laporin ke Cak Kadir aja kalo demenannya sedang terancam sama suaminya sendiri. Biar mereka menggunakan karunia Sang Pencipta berupa tangan dan kakinya dengan maksimal untuk baku hantam. Kalo kita yang langsung melerai Lek Mijo, nanti malah kita yang bonyok Mbloh.”

Kemudian putar baliklah mereka menuju warung kelontong plus pertamini milik Cak Kadir untuk mengadukan kekerasan verbal yang menimpa istri Lek Mijo, yang kebetulan juga pujaan hati Cak Kadir.

Tetiba di tengah jalan, dari kejauhan lewatlah sosok mirip bidadari tanpa sayap, yang sayapnya disembunyiin Jaka Tarub, berjalan ke arah Foxtrot dan Gombloh dengan gemulai. Jalannya yang anggun dan memancarkan pesona mengundang tatapan iri setiap makhluk bernyawa di muka bumi. Sosok bidadari andalan yang jadi pujaan manusia sekampung yang terkenal akan kecantikannya yang gak konsisten, kadang cantik tapi lebih sering keliatan enggak cantik.

“Trot, coba deloken itukan Mbak Ika anaknya Ustadzah Imah guru ngaji TPA Masjid An Nur. Tambah ayu yo saiki, kui coba liat goyangan kakinya Trooottt.”

BACA JUGA: TIPS MENGGAGALKAN GUGATAN CERAI DI PENGADILAN

“Hush, ora sembarangan koe Mbloh!”

Hilih kintil, sok-sokan kamu Trot. Rejeki itu gak boleh ditolak tauk!”

Sit suiiit liu liu … assalamualaikum yaaa ugthyIcik kiwir prikitiuw.”

Si empunya yang disingsotin narik rem tangan mendadak dan segera balik kanan menghampiri Gombloh.

“Eh Trot, wonge mbalik Trot,” kata Gombloh sumringah.

Plaaaakkk … Plaaakk!!!

Waalaikumsalam ya ahli kubur Mas Gombloh.” Sembari matanya melotot, Mbak Ika menjawab salam Gombloh setelah menampar pipi kanan kiri Gombloh, mungkin biar imbang ditamparnya kanan kiri. Imbang bengkaknya.

Kemudian Mbak Ika yang berkawat gigi macam teralis ini berlalu begitu aja. Emang pantes ukhti ini jadi suri tauladan para jomblo kampung, mau nampar wae pake jawab salam dulu. Jaminan sakinah mawadah warahmah tenan ughteajenis kayak ini.

Dyaaarrr, koe Mbloh! Mulaknya dulu pas kuliah itu otak sama mulutnya dibawa biar ikutan pinter.”

“Nah, kalo yang mbok lakuin barusan itu namanya cat calling, salah satu bentuk sexual harrasmentJian tobat-tobat, goblok kok dipek dewe Mbloh!”

AUTHOR NOTE :
Eh, Warkum bikin kaos baru lo ndes!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik Hukum
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!