JENASAH KOK DIJADIKAN TERSANGKA, INI DUNIA NYATA BUKAN SINETRON SIR!

Seperti biasa, cerita ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan latar belakang cuma kebetulan semata, suer ndes! Tapi kalo mau disamain ya gak papa dink.

Once upon a time (biar kek film box office jaman dulu), kek biasa Foxtrot dan Gombloh baru asik nongkrong di burjo langganan. Burjo Maharasa yang rasanya mirip burjo lainnya, tapi banyak cabangnya.

Kebetulan si Aak Burjo sedang muterin tayangan ulang sinetron Ikatan Cinta yang dibintangi mas-mas yang gantengnya selikur-rolikur (21-22) sama Foxtrot ini.

Alhamdulillah wa syukurillah Trot, Mbak Andin sama Mas Al gak jadi cerai.” Kata Gombloh.

Alhamdulillah, itu yang namanya hidayah dari Gusti Pangeran Mbloh, karena sesungguhnya satu-satunya hal yang halal tapi sangat dibenci oleh Allah SWT itu hanyalah perceraian Mbloh.” Sambut Foxtrot sambil nyruput Es Joshua (extra joss campur susu dikasih es batu).

Baru asyik-asyiknya nyruput es, tiba-tiba meja Foxtrot dan Gombloh didatengin Mbak Ika yang cantiknya gak konsisten itu.

Assalamualaikum Mas Fox, malem-malem kok minum es to?” Suara Mbak Ika melantun merdu kayak alunan puisi aliran pujangga lama.

Waalaikumsalam Mbak Ika … ho oh kui Mbak, Foxtrot emang angeng kandanane (susah dikasih tahu).” Jawab Gombloh spontan. Uhuiy.

Byangane, sik ditakoni sopo, sik jawab sopo Mbloh!”

“Hahahaha, maafin Gombloh ya Mbak. Doi emang suka nyerocos gak jelas kalo udah lewat waktu maghrib. Biasa kerasukan jin google translate Mbak.” Kata Foxtrot.

“Iya Mas gak papa, orang sekampung kan udah paham soal kekurangan Mas Gombloh ini.”

“Oiya Mas, Mas Fox sama Mas Gombloh itu kan pengacara ya, Ika mau tanyak dikit nih Mas, boleh?” Tanya Mbak Ika kalem, suaranya kayak sprite ndes. Nyatanya nyegerin.

“Wah, ha jelas boleh lah Mbak. Kayak sama siapa aja lo Mbak Ika ini. Yok, silakan tanya, dijamin jawabannya mangkus, lugas dan jelas. Kayak moto firma hukum kami, ngatasin masalah tanpa masalah.” Jawab Gombloh.

Wo telo, kui motone pegadaian Mbloh!” Ketus Foxtrot.

“Lah, ho oh po Trot? Trus moto kantor kita opo Trot? Tanya Gombloh penisirin.

“Gak adalah, la wong pancen gak punya kantor kok. Mabuk es marimas po koe Mbloh??!” Maki Foxtrot.

“Malah pada berantem lho ah, Ika pulang nih gak jadi tanya!” Sahut Mbak Ika manja, manggil dirinya pake nama sendiri biar kayak yutuber Fiki Naki.

“Gini Mas … Mas semua, kan baru rame ini di dunia maya soal penetapan TSK terhadap enam orang pengawal HRS yang sebenere udah meninggal setelah bentrok dengan aparat kepolisian. Rasa-rasanya kok aneh ya, udah meninggal tapi statusnya jadi tersangka. Trus nanti sidangnya gimana? Hakimnya juga bakalan susah meriksa terdakwa yang uda jadi mayat to Mas? Lama-lama kayak sinetron deh.” Panjang lebar Mbak Ika mengungkapkan keresahan hatinya, sambil mesen minuman ke Aak Burjo.

“Woi Aa’k, capucino panas hiji!” Teriak Mbak Ika jantan.

“Gak pake lama Aa’k!” Sambung Gombloh.

“Apa iya Mas, orang yang sudah meninggal bisa dijadikan tersangka? Padahal kan kalok orang udah meninggal putus segala urusan duniawinya, tertutup pintu tobat dan telah purna semua bagian rizqinya di dunia. Mosok ya masih harus diberatkan dengan urusan duniawi semacam proses pemidanaan sih? Ika jadi kasihan sama almarhum. Gimana ini Mas?” Sambung Mbak Ika setelah mesen capucino yang ternyata gak ada sipit-sipitnya babar blas (sama sekali).

“Ho oh bener kui Mbak, mosok daftar pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir nambah satu. ‘Apakah benar sodara yang melakukan kejahatan seperti yang didakwakan Penuntut Umum?’ Kan gak mungkin to Trot?” Gombloh ikutan nimbrung.

Njuk (terus/lalu) kuburan di sebelahnya nyaut ‘Keberatan Yang Mulia, Penuntut Umum mengarahkan jawaban terdakwa’ ngono yo Mbloh? Malah dagelan lo.” Jawab Foxtrot.

“Jadi gini Mbak, nek berdasarkan pasal 77 KUHP tentang gugurnya penuntutan yang bunyi lengkapnya adalah ‘Kewenangan menuntut pidana hapus, jika tertuduh meninggal dunia.’ 

Walapun pasal tersebut ngebahas soal proses penuntutan di sidang peradilan pidana, tapi kalo dilihat dari alurnya sendiri, maka proses penyelidikan sampai penuntutan adalah sebuah alur proses yang tidak terpisahkan satu sama lain.” Jelas Foxtrot.

“Jadi orang yang sudah meninggal itu gak bisa dituntut dalam proses peradilan, maka jelas gak bisa diperkarakan pidana melalui jalur hukum pidana manapun Mbak. 

R. Soesilo di bukunya yang berjudul ‘KUHP: Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal’ bilang bahwa penuntutan hukuman itu harus ditujukan kepada diri pribadi orang. Jika orang yang dituduh telah melakukan peristiwa pidana itu meninggal dunia, maka tuntutan atas peristiwa itu habis begitu saja, artinya tidak dapat tuntutan itu lalu diarahkan kepada ahli warisnya.” Kata Foxtrot bijak, padahal cuman ngutip pendapat Begawan Hukum Pidana Indonesia.

“Nah, bener kan, Ika juga bilang gitu Mas. Temen-temen Ika di grup tuh pada ngehebohin berita ini.” Kata Mbak Ika.

“Dalam hukum pidana, letak pertanggungjawaban pidana itu melekat erat dalam dirinya pribadi sebagai natuurlijk persoon. Sehingga ketika dalam proses penyelidikan sampai dengan persidangan, seorang tersangka/terdakwa meninggal dunia seharusnya proses tersebut otomatis berhenti, karena subyek hukumnya telah musnah/meninggal sehingga jelas gak mungkin dikenai pertanggungjawaban pidana.” Kata Foxtrot lebih lanjut.

“Yoi, betul yang Mas Foxtrot itu bilang Mbak, yang repot adalah statusnya sebagai tersangka yang akan melekat selalu, walaupun gak punya akibat hukum apapun karena subyeknya sudah meninggal. Biasanya yang kerepotan adalah keluarganya, yang berusaha memulihkan nama baik almarhum/almarhumah selepas kepergiannya. 

Untuk memulihkan nama baik almarhum/almarhumah yang ditetapkan sebagai tersangka, maka keluarga TSK tersebut bisa menempuh upaya pra-peradilan untuk mencabut status tersangka yang melekat dalam diri almarhum/almarhumah.” Sambung Gombloh.

“Nah, iya itu yang Ika mau tanyain Mas. Kasian ya keluarganya yang ditinggal mesti repot-repot ngajuin pra-peradilan untuk memulihkan nama baik yang udah meninggal.” Jawab Mbak Ika.

“Makasih ya Mas, udah dikasih pencerahan.”

“Halah, apaan to Mbak, cuman gini aja sih kecil Mbak.” Kata Gombloh menggebu.

Yak, begitulah sekelumit kisah maha di burjonan antara dua onggokan daging dan Mbak Ika yang cantiknya kadang-kadang.

AUTHOR NOTE :
Udah bulan Maret nih, kalian masih pada jomblo aja ndes?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik Hukum
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!