INDONESIA MERDEKA 75 TAHUN, KAMU UDAH NGAPAIN AJA?

INDONESIA MERDEKA 75 TAHUN, KAMU UDAH NGAPAIN AJA?

5 menit

Buat para pemuda dan pemudi harapan bangsa, apa yang telah kalian lakukan untuk menjaga kemerdekaan Indonesia di usia ke 75 tahun ini? Ngutip kata Paman John F Kennedy yang terkenal itu. “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!” Bukan malah dibalik ndes, apa yang telah negara berikan kepadamu. Ntar kamu tergolong kepada barisan sakit hati lo. Kerja, kerja, kerja … tipes!

Para founding father bangsa ini telah menempuh perjuangan panjang untuk kemerdekaan Indonesia melalui semua lini. Mulai dari niat (yo jelas kan semua itu berawal dari niat), duit, darah, air mata, keluarga, sampek bambu runcing. Hal-hal luar biasa yang belum tentu bisa dilakuin oleh generasi sekarang. Trus, apa aja yang udah kamu lakukan untuk negara?

Sejarah panjang sebuah wilayah yang kemudian dikenal menjadi cikal bakal NKRI dimulai dari sekitar tahun 1500-an masehi, ketika pelaut dan penjelajah ulung bernama Alfonso de Albuquerque menginjak daerah Maluku demi mengejar rempah-rempah, kemudian berturut-turut negara Eropa seperti Spanyol, Prancis, Inggris dan Belanda terus ditutup oleh sodara jauh, yaitu Jepang tempat asalnya kakek Sugiono berusaha mencaplok Indonesia di tahun 1942-1945. Saat itu deretan kepulauan Nuswantoro memang terkenal di kalangan negara-negara Eropa sebagai jamrud khatulistiwa, mutu manikam, the lost paradise. Daerah yang membentang sepanjang garis khatulistiwa dengan pemandangan luar biasa indah dan tentu saja tempat di mana sumber bahan-bahan eksotis berasal, justru mengundang rasa iri hati negara lain.

Puncak perjuangan para bapak pendiri bangsa terjadi pada hari Jumat 17 Agustus 1945. Peristiwa yang ditandai dengan dibacakannya proklamasi oleh sang karismatik Ir. Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta bertempat di sebuah rumah hibah dari Faradj bin Said bin Awadh Martak di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

BACA JUGA: DARAH MUDA DARAH MERDEKA

Apakah semua perjuangan selama ratusan tahun selesai hanya sampai dengan pembacaan teks proklamasi itu ndes? Apa iya, setelah proklamasi kemerdekaan 75 tahun yang lalu. Apakah generasi sekarang yang menerima warisan kemerdekaan ini gak perlu ngapa-ngapain?

Kalo kata Bung Karno, perjuangan para pemuda dan pemudi Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus 1945 bakalan jauh lebih berat ndes. Beliau sang karismatik udah ngeramalin ini lewat kutipannya yang berapi-api, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.” Berjuang melawan musuh yang rupa dan fisiknya sama, hidungnya mirip, rambut dan kulitnya nyaris serupa, yang ngebedain cuma niat dan wataknya aja.

Benerkan perjuangan sekarang lebih susah? Saat ini musuh kemerdekaan Indonesia berasal dari dalam, musuh dalam selimut. Susah ngebedain mana kawan, mana lawan. Kan sama-sama dalem selimut, yang walopun anget, tapi gelap. Ngoahahahahahaha, ena-ena.

Zaman dulu, nenek moyang Indonesia terkenal sebagai penghasil kopra terbesar, sampek terkenal dengan nama beken emas hijau. Saking bekennya komoditas kelapa saat itu, Ismail Marzuki sampe menciptakan lagu “Rayuan Pulau Kelapa.” Tapi semua berubah sekitar tahun 90-an, saat industri kelapa nasional tersungkur dan tak bangkit lagi karena dihajar black campaign produsen minyak nabati dunia dengan alasan mengandung lemak jenuh tinggi.

Pada sekitar tahun 1930-an, ketika negaranya Bang Fidel Castro merajai dunia per-gula-an, Indonesia boleh berbangga hati karena berada di urutan kedua penghasil gula terbesar dunia. Sayangnya kondisi sekarang bertolak belakang, pabrik gula di mana-mana tutup, petani gula merugi, sedangkan pemerintah hobi buka kran import gula gede-gedean. Sama halnya dengan garam asli Indonesia, meskipun punya garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada,  garam asli Indonesia juga akhirnya harus melambaikan bendera putih akibat digempur habis-habisan garam import beryodium. Belum lagi soal produk berbahan rempah-rempah dan tanaman obat asli Indonesia yang diklaim oleh perusahaan obat Jepang bernama Shiseido, Co.Ltd (Kompasiana.com).

Last but not least, kretek sebagai warisan luhur yang mencerminkan keelokan dan kearifan nenek moyang bangsa Indonesia, saat ini juga memasuki tahap mengkhawatirkan akibat diserang kepentingan asing milik kekuatan konspirasi global (Hell yeah Lord Jrinx!). Kretek dengan segala kandungan lokal, baik tembakau dan cengkeh berkualitas memiliki sejarah panjang, mulai dari folktale Nyai Roro Mendut dan Tumenggung Wiraguna di masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, hingga cerita soal kretek buatan H. Djamhari dan pabrik rokok pertama rintisan Nitisemito di Kudus.

Kretek juga turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia lo ndes. Saat itu kretek klobot jadi lambang perjuangan para pemuda-pemudi Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri. Kretek sebagai lambang perjuangan karena penuh dengan unsur dan nilai ke-Indonesia-an yang saat itu diperjuangkan mati-matian. Bahkan K.H. Agus Salim, bertempat di Buckingham Palace, sekitar tahun 1950, sambil merokok kretek di depan para bangsawan Eropa berujar, “Inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negara kami.”

Tuhkan, dalam sebatang kretek dan hembusan asapnya banyak nilai luhur bangsa Indonesia. Termasuk sekarang, sadar gak sih, kalo kretek memberikan sumbangsih untuk membangun negara melalui cukai yang jumlahnya selalu naik tiap tahunnya. Gih, coba cek Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 152/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, PMK tersebut mengatur soal besaran cukai yang harus dibayar perusahaan rokok sebagai salah satu bentuk penerimaan negara, yang fungsinya digunakan untuk kemaslahatan bersama rakyat Indonesia.

Belum lagi ngebahas soal peran kretek lewat cukainya untuk nambal defisit BPJS sebagaimana diatur di Peraturan Presiden (Perpres) No.82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, tepatnya penjelasan Bab XII mengenai Dukungan Pemerintah Daerah Pasal 99 Ayat (6) huruf D yang bunyinya, “Dukungan lainnya sebagaimana dimaksud dilaksanakan melalui kontribusi dari pajak rokok bagian hak masing-masing daerah provinsi/kabupaten/kota,” yang pasti bakal bikin kegaduhan pro dan kontra. Ya gak ndes?

Yang terbaru kretek melalui cukai rokok ikut menanggulangi pandemi covid-19 seperti diatur di Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 19/PMK.07/2020. Nah ndes, kurang apalagi perjuangan kretek dalam 75 tahun kemerdekaan Indonesia.

Sekarang coba pikirkan, mau jadi apa kalo semua warisan nenek moyang Indonesia yang diperjuangkan mati-matian oleh para pejuang kemerdekaan bersama founding father rame-rame dikuasai dan diklaim agen-agen negara lain?

Indonesia udah 75 tahun merdeka, kamu udah ngapain aja ndes? Daripada mumet mendingan nyanyi lagu Indonesia Raya itung-itung latian buat upacara 17-an tingkat RT nanti ndes.

BACA JUGA: ANAK INDONESIA DILARANG BERMIMPI

Indonesia Raya,

3 stanza

by : Wage Rudofl Soepratman.

Indonesia tanah airku;

Tanah tumpah darahku;

Di sanalah aku berdiri;

Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku;

Bangsa dan tanah airku;

Marilah kita berseru;

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku;

Hiduplah negeriku;

Bangsaku, Rakyatku, semuanya;

Bangunlah jiwanya;

Bangunlah badannya;

Untuk Indonesia Raya.

Indonesia, tanah yang mulia;

Tanah kita yang kaya;

Di sanalah aku berdiri;

Untuk selama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka;

Pusaka kita semuanya;

Marilah kita mendoa;

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya;

Suburlah jiwanya;

Bangsanya, Rakyatnya, semuanya;

Sadarlah hatinya;

Sadarlah budinya;

Untuk Indonesia Raya.

Indonesia, tanah yang suci;

Tanah kita yang sakti;

Di sanalah aku berdiri;

Jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri;

Tanah yang aku sayangi;

Marilah kita berjanji;

Indonesia abadi.

“Selamatlah rakyatnya”;

“Selamatlah putranya”;

“Pulaunya, lautnya, semuanya”;

“Majulah Negerinya”;

“Majulah pandunya”;

“Untuk Indonesia Raya”.

#REFF :

“Indonesia Raya”;

“Merdeka, merdeka”;

“Tanahku, negeriku yang kucinta”;

“Indonesia Raya”;

“Merdeka, merdeka”;

“Hiduplah Indonesia Raya”.

#Tulisan ini terinspirasi dari buku berjudul “Membunuh Indonesia, Konspirasi Global Penghancuran Kretek” karangan Abhisam DM, Hasriadi Ary dan Miranda Harlan.

Salam Kemerdekaan!

Jogjakarta, 14 Agustus 2020

Foxtrot, Sang Pencinta Keindahan Wanita

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!