PENGHINAAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA

Emosi, kesal, marah, geram, mungkin itu yang dirasakan ketika identitas nasional kita dihina oleh orang lain. Baru-baru ini viral di media sosial masalah pelecehan Lagu Nasional Indonesia Raya yang diubah liriknya menjadi sangat tidak senonoh dan tidak etis. Isi liriknya berisi penghinaan secara langsung terhadap Indonesia. Nah, diduga pelakunya berasal dari Malaysia.

Memang negara Malaysia ini sering membuat keributan dengan Indonesia. Bisa dibilang keduanya kayak air dan minyak, kesannya gak pernah akur. Kalau kejadian yang paling saya inget sih, kejadian dalam pertandingan piala AFF tahun 2010 silam, saat team nasional kita diserang laser. Jahat banget kan? 

Lain dulu, lain sekarang. Kali ini Lagu Indonesia Raya dijadikan parodi oleh akun bernama MY Asean dan diunggah di Youtube. Pengubahannya gak kira-kira, aransement dan liriknya dirubah total menjadi kata-kata jorok dan kotor.

Video berdurasi 1,31 menit tersebut diunggah sekitar dua pekan lalu oleh akun berlogo bendera Malaysia yang kini tercatat lebih dari 35ribu penonton. Lirik lagu tersebut berisi penghinaan seperti, “Indonesia bangsa sial dan mundur,”bahkan dalam liriknya Presiden Jokowi dan Soekarno juga dipelesetkan sebagai, “Jokoko dan SoekaPORNO.” Wah, parah sih, keterlaluan banget kalo ini.

Munculnya parodi pelecehan terhadap lagu Indonesia Raya dan Presiden Jokowi yang diduga dilakukan oleh warga Malaysia tersebut mendapat kecaman dan perhatian publik di Indonesia. Sebab, dugaan pelecehan yang dilakukan warga negara Malaysia terhadap simbol-simbol negara Indonesia bukan kali ini saja terjadi.

“Jika benar bahwa konten tersebut diunggah oleh warga Malaysia, maka langkah tegas akan diambil oleh Pemerintah Malaysia sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” bunyi sikap resmi Kedubes Malaysia di Jakarta, dikutip dari Sindonews, Minggu (27/12/2020). Dan saat ini kasus tersebut sedang diselidiki oleh pihak berwenang di Malaysia.

Wah, agak repot sih, kalo terjadi ribut-ribut antar negara. Salah-salah bisa jadi perang kan.  Seharusnya ASEAN memiliki peran penting dalam menyelesaikan pertikaian antara anggotanya, karena tujuan utama dari ASEAN ialah untuk menciptakan kedamaian, keamanan, stabilitas dan kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara, dimana Indonesia dan Malaysia termasuk di dalamnya. 

Dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976 (TAC) menerangkan dalam Chapter I about Purpose and Principles Article 2d, Settlement of differences or disputes by peaceful means, yang berarti, penyelesaian perbedaan atau sengketa dilakukan secara damai, bahwa mekanisme penyelesaian konflik di kawasan Asia Tenggara yang dilandasi prinsip non intervency diplomacy, saling menghormati, konsesus, dialog dan konsultasi juga larangan kekerasan bersenjata itu disebut sebagai ASEAN Way. 

Bahwa berdasarkan penjelasan dalam piagam tersebut ASEAN mengakui bentuk penyelesaian sengketa baik secara konsiliasi, mediasi, arbitrase, serta penyelesaian sengketa berdasarkan instrumen-instrumen tertentu milik ASEAN

Namun hingga saat ini piagam tersebut tidak memiliki kekuatan hukum karena tidak adanya suatu ketentuan hukum dalam Organisasi ASEAN yang menjelaskan mengenai sanksi yang dapat dikenakan terhadap pelaku/negara ketika melakukan penghinaan terhadap simbol dan lambang negara anggota ASEAN lainnya, sehingga balik lagi ke hukum nasional, kesannya ASEAN di sini tidak begitu efektif.

Dalam pernyataannya, Pemerintah Malaysia mengutuk keras segala bentuk provokasi negatif dengan niat untuk memengaruhi hubungan bilateral kedua negara yang selama ini terjalin sangat dekat antara Pemerintah Malaysia dan Indonesia.

Sebenarnya sih, belum tentu pelakunya ada di Malaysia atau pelakunya adalah orang Malaysia. Jangan-jangan pelakunya justru orang Indonesia yang lagi kesal dengan kondisi Indonesia saat ini. Atau mungkin atau mungkin? Yaaa,sepertinya saat ini kita hanya bisa berspekulasi dan menebak-nebak saja siapa pelakunya.

Misalnya memang benar yang melakukan penghinaan adalah warga Malaysia, udah deh, mending kita calm aja, jangan melakukan tindakan balas membalas. Soalnya kalau kita membalas dengan cara menghina balik, lalu apa bedanya kita dengan mereka? Tidak sepantasnya kita juga ikutan menghina mereka, karena kalau kita membalas dengan hal yang sama, ya sama aja kan.  Sama sekali gak berkelas gaisss, mending balas dengan hal-hal positif lain yang bisa membuat mereka semakin iri. 

Inget ya, yang salah adalah orangnya. Jangan langsung menyalahkan negaranya. Memang warga negara adalah salah satu unsur dari negara suatu negara, selain wilayah tertentu, pemerintahan yang berdaulat dan kapasitas untuk berhubungan dengan negara lain. Kalau dianalogikan jika ada WNI yang suka ngehina orang/negara bukan berarti negara Indonesia sendiri adalah negara penghina.

Tapi nih, kalau benar pelakunya adalah orang Malaysia, maka dalam hal ini Kementerian Luar Negeri harus bersikap tegas dengan melakukan protes kepada negara Malaysia. Karena saat ini lumayan rame yang dinamakan perang Hibrida, dimana intinya mengadu domba antar negara. Sehingga di sini pelaku harus ditangkap dan jangan juga dianggap enteng.

Kalau pelaku berada di Malaysia dan memanglah WN Malaysia, maka yang berhak mengadili adalah otoritas penegak hukum Malaysia sendiri, karena ini menyangkut yurisdiksi mengadili dalam Hukum Internasional. Semua negara merdeka yang berdaulat memiliki yurisdiksi terhadap semua orang dan benda di dalam batas teritorialnya dan dalam semua perkara pidana dan perdata yang timbul di wilayah teritorialnya (Yurisdiksi Territorial).

Namun kalau pelaku ternyata berada di Indonesia, maka pelaku jelas akan dijerat dengan Pasal penghinaan tentang lagu kebangsaan sesuai dengan  UU No. 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Sooo, marah karena video penghinaan itu boleh dan wajar-wajar saja. Malah bagus lho, berarti kalian punya jiwa nasionalis, tapi bukan berarti kita harus membalas dengan hal yang sama ya. Toh, pelakunya juga masih belom jelas siapa. Jangan-jangan malah WNI yang ada di Malaysia, kan bisa zonk nanti, kita bakal malu sendiri. Intinya membalas dengan hal yang sama tidak selalu membuat kita menjadi kuat, tapi balaslah dengan cara yang elegan maka akan lebih baik.

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id