TIPS PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA

  • 44
    Shares

Ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana sih cara ngajukan gugatan cerai di pengadilan agama?? jangan dibikin susah gaes, kasih aja surat kuasa ke pengacara (seperti saya), uda deh tinggal duduk manis nunggu akta cerai keluar. Hehehehehe ini bukan promosi.

Kalau lagi ribet, pake jasa pengacara adalah salah satu alternatif solusi yang efektif, tapi konsekuensinya ya harus siap bayar jasa pengacara. Buat orang yang selow alias punya waktu luang pluss suka dengan tantangan dan pengen punya pengalaman baru, gak ada salahnya coba ngurus proses cerainya sendiri di pengadilan. Ngomong-ngomong soal selow, mumpung saya lagi jadi cah selow (bukan karena lagi gak ada klien lho). Kali ini saya akan berbagi info tentang tata cara mengajukan gugatan cerai di ‘Pengadilan Agama’. Buat yang ga ada kepentingan cukup dibaca aja, ya sekedar untuk nambah pengetahuan, gak usah dicoba, apalagi kalau alasannya cuma pengen #2019gantipasangan.

Catatan penting gaes, ibarat mau perang, selain punya senjata, kita juga perlu mempersiapkan amunisi. Dalam hal ini amunisi yang dimaksud adalah semua persyaratan untuk mengajukan gugatan cerai. Semua syarat-syarat harus lengkap, karena kalau ada yang kurang, maka hasil akhirnya sudah bisa kita duga, tak lain dan tak bukan gugatan akan GATOT, alias gagal total.

Kalau mau ngurus cerai sendiri, syarat-syaratnya antara lain:

  1. Fotocopy KTP penggugat/pemohon
  2. Fotocopy surat nikah/buku nikah
  3. Izin dari atasan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS)
  4. Surat pengantar dari desa/kelurahan yang memuat keterangan untuk mengurus perceraian
  5. Surat gugatan/permohonan rangkap 8
  6. Membayar biaya panjer

Berkas nomor 1 dan 2 ditempelkan meterai 6000, dan diberi cap stempel pos ya gaes.
Syarat no. 4 di-skip aja jika kita menggunakan jasa pengacara, karena surat pengantar dari desa tidak digunakan.

Kalau amunisi uda lengkap, selanjutnya kita harus menentukan kompetensi relatifnya (wilayah hukum pengadilan agama yang berwenang). Caranya gimana?? pertama kita harus menentukan siapa yang akan menggugat cerai?? suami atau istri??

BACA JUGA : 7 ALASAN PERCERAIAN ANTI GAGAL

Jika suami yang ingin mengajukan cerai, maka prosesnya disebut dengan cerai talak, sedangkan jika istri yang ingin mengajukan cerai maka disebut dengan gugat cerai.

Begini caranya menentukan ‘Pengadilan Agama’ mana yang berwenang untuk memeriksa gugatan cerai yang kita ajukan:

  1. Apabila suami akan mengajukan cerai talak, maka permohonan cerai talak diajukan di pengadilan agama sesuai domisili atau tempat kediaman istri, bukan sesuai alamat KTP istri ya gaesss. Apabila istri yang akan mengajukan gugat cerai, maka yang berwenang untuk memeriksa perkara gugat cerai adalah pengadilan agama sesuai domisili atau tempat kediaman istri.
  2. Suami/istri dapat mengajukan permohonan cerai talak/gugat cerai ke pengadilan agama yang meliputi wilayah hukum suami, apabila istri secara sengaja meninggalkan tempat kediaman tanpa izin suami.
  3. Apabila istri bertempat tinggal di luar negeri (misalnya lagi jadi TKW) maka yang berwenang memeriksa adalah pengadilan agama yang meliputi kediaman suami.
  4. Apabila keduanya (suami istri) bertempat tinggal di luar negeri, maka yang berhak untuk memeriksa adalah pengadilan agama di wilayah hukum tempat pelaksanan perkawinan atau Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

Nah itu uraian tentang pengadilan agama mana yang berwenang untuk memeriksa perkara cerai talak/gugat cerai.

Langkah selanjutnya adalah membuat surat gugatan. Jika yang mengajukan pihak suami maka tulis perihalnya adalah permohonan talak, namun jika yang mengajukan pihak istri, perihalnya ditulis gugatan cerai. Surat gugatan harus memuat tiga poin penting, yaitu:

  1. Identitas para pihak
    Identitas para pihak terdiri dari nama suami/istri (jangan lupa bin dan bintinya), umur dan alamat. Identitas juga harus disertai keterangan tentang agama, pekerjaan dan status kewarganegaraan.
  2. Posita (dasar gugatan)
    Posita berisi kronologis sejak awal perkawinan sampai dengan terjadinya perselisihan, hingga  akhirnya ingin bercerai.
    Jangan lupa masukan informasi-informasi penting seperti lahirnya anak (jika ada) serta peristiwa penting lain yang
    berhubungan dengan alasan perceraian. Posita juga harus memuat alasan-alasan perceraian. Kalau bingung alasan cerai      apa saja yang benar secara hukum bisa cek disini 7 ALASAN PERCERAIAN ANTI GAGAL
  3. Petitum (tuntutan hukum)
    Petitum merupakan permohonan yang diajukan oleh pemohon atau penggugat kepada Majelis Hakim agar gugatannya dikabulkan. Misalnya menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat putus karena perkawinan.

Oh ya, sekedar info disetiap pengadilan agama umumnya ada ‘Pos Bantuan Hukum’ yang siap membantu jika kita bingung dalam memformulasikan gugatan yang baik dan benar.

BACA JUGA : PEMBAGIAN WARIS ISLAM

Jika berkas sudah lengkap, silakan datang menuju Meja I untuk meminta Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) biaya panjer perkara. Selanjutnya petugas akan meminta kita membayar biaya panjer perkara di bank yang ditunjuk oleh pengadilan agama tersebut. Siapkan biaya panjer perkara antara Rp. 500.000,- sampai Rp. 1.000.000,- karena biaya panjer perkara disetiap pengadilan akan berbeda, tergantung jarak panggilan para pihak.

Setelah membayar biaya panjer, lalu datang menuju ke Meja II dengan membawa bukti/slip pembayaran asli dan bendel berkas gugatan untuk didaftarkan. Setelah mendapatkan nomor register, maka acara daftar mendaftar gugatan cerai sudah selesai. Tinggal tunggu tahap selanjutnya yaitu panggilan sidang. Biasanya panggilan sidang akan kita terima kurang lebih dua atau tiga minggu, setelah pendaftaran.

Tahap persidangan akan dimulai pada saat panggilan pertama, pada sidang pertama ini Hakim akan berupaya mendamaikan dan meminta para pihak untuk melakukan mediasi yang ditengahi oleh mediator. Apabila mediasi tidak berhasil, maka proses persidangan dilanjutkan dengan membacakan surat gugatan, lalu jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan.

Setelah proses pembuktian selesai, majelis hakim akan meminta masing-masing pihak untuk membuat kesimpulan. Selanjutnya majelis hakim akan memberikan putusan. Putusan yang mungkin diberikan oleh majelis  hakim antara lain:

  1. Gugatan dikabulkan
  2. Gugatan ditolak; atau
  3. Gugatan tidak dapat diterima

Setelah putusan dikabulkan dan sudah memperoleh kekuatan hukum tetap maka Panitera Pengadilan Agama akan memberikan akta cerai kepada kedua belah pihak, selambat-lambatnya tujuh hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak.

Btw gaes, cuma mau ngasih tau aja sih, proses gugatan cerai ini memakan waktu yang cukup lama, apalagi kalau pihak tergugat/termohonnya ribet. Gak ada ceritanya sekali sidang terus ketok palu putus cerai kaya di sinetron-sinteron itu.

Jadi gaess, gak cuma kawin aja yang ribet ngurusnya, mau cerai juga ribet … belum lagi ada kurasan emosi dan air matanya. Info ini cukup diketahui saja gaess .. pliss jangan dicoba ya. Okeeeee …


  • 44
    Shares