KALAU DITODONG SAJAM, INGAT PEMBELAAN TERPAKSA

Haloo, sahabat setia pembaca Jokpus. Kali ini aku mau sedikit sharing pengalaman pribadiku yang menyebalkan dan bikin trauma. Jadi pas awal-awal aku sebagai mahasiwa, aku diajak sama temanku berkeliling melihat kota tempat aku kuliah. Kami cuma muter-muter gak jelas dan sebenernya, kami pergi gak jauh-jauh amat dari kosanku.

Sewaktu di perjalanan, sekitar jam 21.00 wib, pas lagi enak-enaknya ngerasain angin malam. Tiba-tiba di persimpangan, aku melihat segerombolan anak muda bergaya ala-ala oppa Korea. Rambutnya dicat, tapi masalahnya mereka gak ganteng.  

Aku menatap mereka. Kejulidan aku sebagai wanita muncul. Ada rasa penasaraan dengan apa yang mereka lakuin saat itu. Rupa-rupanya mereka lagi ngitung uang. Yah, otomatis dong, aku langsung kepikiran kalo itu uang hasil curian (maklum, kebiasaan ngeliat orang dari covernya).

Setelah kepo-kepo dikit, aku ngelanjutin perjalanan. Udah agak jauhan, aku baru sadar kalo salah-satu dari mereka ngikuti kami dan mulai ngebut. Wahh, panik dong. Panik dong, masak enggak!!!! Reflek, aku langsung nyuruh teman aku untuk ngebut dan secepatnya cari tempat yang rame. Kebetulan aku yang dibonceng, karena aku gak bisa nyetir motor. 😉

BACA JUGA: BUI BUI SAJAM

Akhirnya, berhentilah kami di sebuah taman. Kemudian pelaku juga berhenti mendekati kami, sambil ngacung-ngacungi pisau yang diambil dari jok motornya. Mak, seketika kami gemetaran. “Ngapa kau ciliak-ciliak tadi?” (bahasa Minang). 

“Apa itu ciliak ciliak?” Kutanya sama temanku. “Dia nanya, kenapa ngeliat ngeliat tadi”, begitu kata temanku. Tapi saat itu aku gak tau mau ngomong apa. Sambil ngeliat di sekeliling, aku memperhatikan kanan kiri sambil megang hp buat ngerekam (mana tau viralkan). Hahahaha.

Dia ngomong, “Apa yang kalian bawa!” Sambil liat tas kami dan hp yang aku pegang. Untung saja gak lama, ada orang yang mendekat dan memarahi pelaku, sehingga akhirnya pelaku bergegas pergi. 

Syukurlah, kami selamat wak. 

Nah, karena kejadian itu, aku trauma. Susah tidur dan jadi kepikiran yang macem-macem.  Misalnya waktu itu gak ada orang yang bantu, apa ya yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan diri. 

Waktu kejadian itu, awalnya aku udah siap-siap juga. Kalo udah kepepet, aku mau mengeluarkan jurus. Setidaknya aku mau tendang atau mau aku tonjok itu muka jeleknya. Kupikir-pikir kalo dia menyerang, sebisa mungkin aku bakal menghindar dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Entah, gimana pun caranya. Nah, repotnya kalo sampe si penjahat ini kenapa-napa pas aku lagi membela diri, gimana pulak nasibku kan. Malah aku pula nanti yang dilaporkan ke polisi.

Ohhh tenang, sebagai mahasiswa baru di fakultas hukum aku pernah baca tentang konsep pembelaan terpaksa. Pembelaan terpaksa itu diatur dalam Pasal 49 KUHP, “Barangsiapa terpaksa melakukan perbuatan untuk pembelaan, karena ada serangan atau ancaman serangan ketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sendiri atau orang lain, terhadap kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri, maupun orang lain, tidak dipidana.”

Pembelaan terpaksa merupakan suatu tindakan yang dilakukan dalam keadaan mendesak. Pembelaan terpaksa dalam istilah hukumnya disebut dengan noodweer.

BACA JUGA: MENGULANGI KEJAHATAN PIDANA BISA DIPERBERAT?

Oh ya kawan kawan, pembelaan terpaksa ini berlaku ketika korban tidak berdaya dan kekuatan korban tidak lebih besar dari pelaku ya. Misalnya, pelaku ingin membunuh korban dengan menggunakan pisau, tapi korban menghindar, lalu pelaku terpeleset dan akhirnya mati karena tertusuk pisau tersebut. 

Tapi pembelaan terpaksa gak segampang itu dibuktikan. Walaupun terlihat telah memenuhi unsur pembelaan terpaksa, namun hakim tetap mempunyai pertimbangan tersendiri untuk membuktikan bahwa orang yang melakukan pembelaan terpaksa itu bersalah atau tidak. Hakim tetap akan melihat fakta-fakta yang terungkap di persidangan.

Nah, apabila suatu saat kalian dihadapkan pada posisi jadi korban kejahatan kayak yang aku alami itu, usahakan untuk mencari bantuan biar gak mati atau gak ketemu jeruji besi. Sebaiknya segera cari tempat keramaian dan meminta pertolongan. Hindari kesunyian dan tempat yang rawan. 

Apabila keadaan tidak memungkinkan, cukup lumpuhkan saja pelaku tanpa harus membunuh. Kemudian mengalihkan kasus tersebut untuk diselesaikan oleh pihak kepolisian. 

Sekian cerita aku ya, semoga cerita tadi bisa menambah ilmu pengetahuan seputar hukum kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum.id