SINETRON PREMAN PENSIUN DAN PESAN MORAL YANG MELEK HUKUM

Keberhasilan Kang Aris Nugraha, sang Sutradara Preman Pensiun tidak perlu diragukan lagi. Karena Preman Pensiun kini sudah memasuki season 7. Apalagi tayangan ini cukup mendidik, ada pesan moral yang disampaikan kepada penonton dan membuat melek penontonnya.

Saya termasuk penonton setia Preman Pensiun sejak zaman Kang Bahar memegang bisnis di jalanan, terminal dan pasar. Yang kemudian dialihkan ke Kang Mus dan kini diteruskan oleh Otang, Aos dan Taslim CS.

Kalau para penonton memperhatikan tayangan karya Kang Aris Nugraha ini secara mendalam, banyak tuntutan yang diajarkan di balik scene tiap tayangan itu, yang terkadang ada bumbu komedinya.

Bagi saya pribadi dan mungkin kalian juga mengakuinya kalau Kang Aris Nugraha selaku sutradara di sinetron ini,  sudah berhasil menyematkan pesan di dalam alur cerita sehingga bisa menjadi tontonan yang jadi tuntunan. Walaupun karakter tokohnya ada yang jadi mantan preman, preman yang masih aktif, mantan pencopet, pencopet aktif, penodong, penjambret bahkan tukang pukul profesional.

Namun dari karakter-karakter tokoh yang notabene sangat dekat dengan dunia kriminal, tak ayal tidak menjadikan sinetron Preman Pensiun ini hanya sebatas tontonan yang penuh kejahatan jalanan saja. Tapi banyak pesan bijak dan melek hukum yang bisa dipetik.

BACA JUGA: BISNIS PARKIR TIDAK SESIMPLE YANG DIPERKIRAKAN

Nah, berikut kumpulan pesan moral melek hukum yang dapat kalian lihat dari setiap episode Preman Pensiun menurut versi saya:

Preman Pensiun Mengajarkan Melindungi Wanita

Kalian ingat tidak dengan tokoh Maman Suherman, salah satu anak buah Kang Mus yang pernah dipanggil Kang Bahar di Markas Besar kemudian dikasih pelajar budi pekerti sehingga kurang lebih tiga tulang rusuknya patah.

Kejadian tersebut, karena ulah Maman Suherman yang menganiaya istrinya. Kemudian sang istri tersebut mengadu ke Kang Bahar, sehingga berujung pada scene Maman Suherman tersungkur di hadapan Kang Bahar karena tiga tulang rusuknya patah.

Pesan moral yang disampaikan Kang Bahar, sebelum Maman Suherman jatuh karena tiga tulang rusuknya patah yaitu:

Dulu saya pernah membaca syair, yang sampai sekarang saya masih ingat, “Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Bukan dari kepalanya untuk dijadikan atasannya. Bukan dari kakinya untuk dijadikan alasannya, tapi dari sisinya untuk teman hidupnya. Dekat dengan lengan untuk dilindungi. Dekat dengan hati untuk dicintai ….” 

Dari scene ini dapat dipetik pesan bahwa Kang Bahar saja yang dikenal sang legenda di dunia jalanan, mengajarkan untuk melindungi sosok wanita dan tidak ringan tangan bahkan melakukan kekerasan kepada kaum wanita.

Kode Etik Menyelesaikan Masalah ala Preman Pensiun

Selanjutnya, ada pesan menarik dari Kang Mus kepada Kang Cecep soal kode etik cara menyelesaikan masalah di jalanan, yang harus diselesaikan di jalanan juga. Jangan di rumahnya apalagi sampai tahu pihak keluarganya.

Bagi saya, pesan Kang Mus di sini semacam kode etik yang harus dipegang teguh oleh para tokoh Preman Pensiun. Walaupun kubu Bang Edi tidak memperhatikan kode etik tersebut dan cenderung arogan ketika merampungkan suatu masalah.

Namun tetap saja di sini jika ada masalah antara Bang Edi dengan Kang Cecep, Kang Murad dan Kang Ujang, kubu Bang Edi selalu kalah. Karena mereka merupakan orang-orang baru yang tidak tahu kode etik jalanan dan menyelesaikan masalahnya dengan brutal.

BACA JUGA: 10 NEGARA YANG TERKENAL DENGAN COPETNYA, INDONESIA BAGAIMANA?

Pemeran Preman Pensiun Mengajarkan Berkendara yang Taat Aturan

Walaupun Kang Ujang suka ngebut di jalanan, dia akan selalu minggir ke tepi jalan jika ada telepon yang masuk saat berkendara. Artinya pada tayangan Preman Pensiun sejatinya sudah ikut mensosialisasikan tentang cara berkendara yang aman dan tetap berkonsentrasi.

Dengan bukti tiap kali ada scene pemeran Preman Pensiun sedang berkendara lalu handphone berdering, mereka minggir ke bahu jalan dahulu lalu menerima telepon. Jadi tidak menerima telepon saat berkendara.

Artinya Kang Aris Nugraha sebagai sutradara sudah ikut bersosialisasi tentang “Stop mainan handphone saat berkendara, karena jika berkendara sambil telponan atau mainan handphone dapat membahayakan dan melanggar Pasal 106 Ayat (1) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.”

Itulah tiga pesan moral yang membuat melek hukum penontonnya versi saya karena gemar menonton serial sinetron yang faktanya bisa menjadi tuntunan dan merupakan cerita apik sekaligus layak untuk ditonton.

 

Mohsen Klasik
Mohsen Klasik
El Presidente

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id