DARAH MUDA DARAH MERDEKA


Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan tanggal spesial bagi negara kita. Hari ini menyimpan berbagai macam cerita heroik layaknya Tony Stark yang menyelamatkan alam semesta  dalam film Avangers End Game. Kalo kita baca buku sejarah gaes, banyak perjuangan yang harus dilalui oleh para super hero negeri ini. Salah satunya ketika Jepang menyerah kepada sekutu akibat adanya ledakan bom atom terhadap kota Nagasaki (9 Agustus 1945) dan Hiroshima (6 Agustus 1945) oleh Amerika.

Dari baca bukunya Dr. Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional halaman 138 di ceritakan bahwa Jepang juga menjanjikan bangsa ini sebuah kemerdekaan. Mendengar berita tersebut tanggal 12 Agustus 1945 para super hero kita yaitu Soekarno (Bung Karno), Mohammad Hatta (Bung Hatta), dan Radjiman Wediodiningrat) langsung diterbangkan ke Dalat, Vietnam untuk menjemput janji manis tersebut. Dalam pertemuan tersebut Jepang menjanjikan kemerdekaan pada tanggal 24 Agustus 1945 untuk Indonesia.

Tanggal 14 Agustus 1945 setiba di Jakarta Bung Karno dan Bung Hatta, dipaksa oleh para pejuang muda agar hari itu juga memimpin mereka angkat senjata untuk merebut kemerdekaan sebelum nantinya Jepang menyerahkan Indonesia kepada sekutu. Namun, Soekarno tidak menuruti desakan dari para pemuda pejuang yang berdarah panas itu.

BACA JUGA : JANGAN SAKITI KOCHENG!

Angkatan muda yang sedang berapi-api gak sabar pengen segera mendeklarasikan kemerdekaan, pengennya pake cara cepat aja yaitu dengan kontak senjata. Sedangkan angkatan tua, pastinya karena lebih sabar dan lebih berpengalaman, memilih cara pendekatan diplomatis terhadap penguasa militer agar dapat membiarkan rakyat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan dengan caranya sendiri. 

Desakan demi desakan dilakukan oleh kaum muda ke Bung Karno agar hari itu juga mendeklarasikan kemerdekaan. Jadi gaes angkatan muda ini dipimpin oleh Wikana dan Sukarni. Adanya desakan tersebut menimbulkan perdebatan sengit yang akhirnya membuat Bung Karno naik darah juga. Konflik ini sebenarnya dikisahkan dalam buku biografinya Bung Karno “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.

Wikana sebagai juru bicara pemuda mendesak Bung Karno untuk sesegera mungkin mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

“Bung Karno !! Saya perwakilan golongan muda menginginkan pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan sesegera mungkin. Kalau perlu besok pada tanggal 16 Agustus harus sudah dilangsungkan kemerdekaan tersebut. ”, ucap Wikana.

“Ooohh.. tidak semudah itu Ferguso, eh Wikana, Jangan aku diperintah. Engkau harus mengerjakan apa yang kuingini. Pantangku untuk dipaksa menurut kemauanmu”, ucap Bung Karno.

 Bung Karno masih harus mendiskusikan hal tersebut kepada golongan tua lainnya karena dia gak bisa ngambil keputusan sendiri.

Pernyataan dari Bung Karno tersebut membuat Wikana dan kawan-kawan pemudanya mengizinkan para golongan tua untuk memikirkan desakan dari golongan muda tersebut di rumah. Tak lama kemudian Bung Hatta keluar “Golongan tua enggan memproklamasikan kemerdekaan secepatnya dikarenakan menunggu penyerahan kekuasaan dari bala tentara Jepang”. Nah selanjutnya terjadilah percakapan antara Bung Hatta dan Wikana. Gini kira-kira dialognya gaes.

“Kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggup, cobalah! Sayapun ingin melihat kesanggupan saudara-saudara..”, ucap Bung Hatta.

“Jika besok siang belum juga diumumkan, kami, para pemuda akan bertindak dan menunjukan kesanggupan yang saudara kehendaki”, ucap Wikana.

Gejolak gelora kepahlawanannya kian membara untuk menghendaki adanya proklamasi dari golongan muda. Para pejuang muda, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni dan Wikana setelah berdiskusi dengan Datuk Tan Malaka yang tergabung dalam gerakan bawah tangan udah habis kesabaran.

Pada dini hari  tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda bersama Shodanco Singgih salah seorang anggota PETA membawa Bung Karno dan Bung Hattta bersama Fatmawati dan Guntur yang masih berumur 9 bulan ke Rengasdengklok. Hal ini dilakukan agar Bung Karno dan Bung Hattta tidak terpengaruh oleh Jepang dan meyakinkan bahwa tentara Jepang bener-bener telah menyerah serta para pejuang siap untuk melawan Jepang, apapun resikonya sekalipun nyawa sebagai taruhannya.

BACA JUGA: SURAT TILANG MILLENIAL

Sedangkan di Jakarta Wikana melakukan perundingan dengan salah seorang dari golongan tua yaitu Mr. Ahmad Soebardjo, hasilnya Mr. Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Sehingga diutuslah Yusuf Kunto mengantarkan Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta.

Setibanya di Jakarta Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke rumahnya masing-masing, mengingat bahwa hotel Des Indes tidak dapat lagi digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka datanglah tawaran dari Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat rapat PPKI. Selanjutnya Mr. Ahmad Soebarjo telah berhasil meyakinkan para pemuda agar tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Malam harinya Bung Karno dan Bung Hatta meluncur menuju Laksamada Maeda (saat ini terkenal dengan jalan Imam Bonjol No.1) untuk melakukan rapat menyiapkan teks proklamasi. Penyusunan teks tersebut dilakukan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Soebardjo, disaksikan oleh Soekarni, B.M Diah, Mbah Sudiro dan Sayuti Melik. Setelah konsep proklamasi dibuat Sayuti Melik mengetik teks tersebut dan Soekarni menyarankan agar yang menandatangani teks proklamasi ini Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 sebelum teks proklamasi dibacakan, ternyata Bung Karno mengalami sakit. Diperkirakan Bung Karno kelelahan akibat begadang dengan super hero lainnya untuk menyusun teks proklamasi, dan atas perintah  dokter pribadinya, Soekarno pergi tidur di kamarnya, semua orang dilarang mengganggunya.

Berita bahwa Soekarno akan mendeklarasikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia udah tersebar dong gaes, jadi pas jam 9 teng sekitar 500 orang sudah mengepung dan melindungi rumah Soekarno. Orang-orang sudah gak sabar, sambil berteriak-teriak

“Sekarang juga bung, sekarang! Nyatakanlah sekarang kemerdekaan….. hari sudah panas….. rakyat sudah tidak sabar lagi”, teriakan masyarakat.

Namun, Bung Karno masih belum mau membacakannya. Tepat pukul 10.00 WIB Bung Karno bersama Bung Hatta membacakan Teks Proklamasi, “Dengan ini bangsa Indonesia telah merdeka”. Setelah teks Proklamasi dibacakan bendera Merah-Putih untuk pertama kali dikibarkan, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.

Dari rentetan sejarah, terbukti bahwa kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan panjang dari super hero – super hero Indonesia yang pantang menyerah. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus bersyukur karena kemerdekaan yang kita rasakan saat ini tidaklah lepas dari tetesan-tetesan darah dari para pahlawan kita. “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya” itu kata Bung Karno. Jadi, mari kita teruskan perjuangan kita dengan cara yang berbeda, kita harumkan nama bangsa dengan prestasi yang membanggakan Indonesia.  Dirgahayu negeriku, Selamat merayakan hari kemerdekaan.