“Kerja boleh hustle, tapi jangan sampe me-time ilang kayak eskopi yang kelewat diminum!” Sebelum kamu sign kontrak kerja yang bikin stuck 24/7 sama tuh, perusahaan. Ada beberapa hal yang wajib banget kamu perhatikan. Biar nggak nyesel gegara kerjaan toxic yang ngerusak kehidupanmu, yang cuma sekali ini. Mending simak ulasan berikut ini.
1. Jam Kerja, Jangan Sampai Jadi Budak Corporate
Hal pertama yang wajib kamu cek adalah pasal soal jam kerja. Menurut Pasal 77 UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan sebagaimana terakhir diubah dengan UU Cipta Kerja, jam kerja itu maksimal 40 jam/minggu (8 jam/hari untuk lima hari kerja atau 7 jam/hari untuk enam hari kerja). Kalo di kontrak ada kalimat “Dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan,” tanya detailnya! Jangan sampai kamu dikasih jam kerja yang melebihi ketentuan undang-undang tanpa kompensasi jelas. Selain itu tanya detail apakah jam kerja kamu sistemnya shift atau reguler. Gitaww, jangan cuman gaji doang yang dicek.
2. Overtime, Bayarannya Harus Setimpal
Lembur itu wajib dibayar, jangan sampe kamu cuman dapet makasih doang. Pasal 78 UU Ketenagakerjaan bilang, upah lembur dihitung per jam dan minimal 1,5 x upah normal untuk 1 jam pertama (Pasal 31 PP 35 tahun 2021). Plus, total lembur nggak boleh lebih dari 4 jam/hari atau 18 jam/minggu yah. Kalo di kontrak cuma nyebut “Perusahaan dapat memberi lembur sewaktu-waktu sesuai kebijakan perusahaan,” nah, kamu mesti nanya tuh, seminggu bisa berapa kali lembur dan maksimalnya berapa jam?
3. Cuti, Jangan Sampai Liburan ke Bali Cuma Jadi Mimpi
Cuti tahunan adalah hak, bukan hadiah. Pasal 79 UU Ketenagakerjaan menjamin cuti 12 hari setelah 12 bulan berturut-turut kamu kerja. Kalo perusahaan bilang “Cuti harus seizin atasan tanpa ketentuan jelas,” maka kamu mesti tanya kira-kira kapan bisa mengambil cutinya, karena cuti itu ada jangka waktu berakhirnya. Terus kudu inget, kalo lagi cuti, kamu tetep dapet gaji.
4. Fleksibilitas Kerja, WFH
Kalo kamu tipikal yang butuh remote work atau flexi time, pastikan kontrak ngejelasin opsi ini. Meski UU belum mengatur secara spesifik, Asas Kebebasan Berkontrak memberi kesempatan kepada para pihak untuk menentukan isi perjanjiannya. Tapi harus ingat, perjanjiannya nggak boleh melanggar hukum dan nilai moral dalam masyarakat. Jadi, kalo perusahaan maksa lo WFO 100% padahal janji di interview bisa kerja hybrid, kamu berhak mempertanyakan kebijakan perusahaan tersebut.
BACA JUGA: KERJA KOK HUSTLE CULTURE, PAHAMI HAK DAN KEWAJIBAN PEKERJA AGAR WORK LIFE BALANCE
5. Jadi Karyawan Kontrak Tapi Harus Ikut Masa Percobaan
Baca baik-baik yah, isi kontrak kerjamu. Kudu tahu persis, kamu itu karyawan kontrak atau karyawan tetap. Soalnya menurut ketentuan Pasal 58 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan bilang, “Perjanjian kerja waktu tertentu (kontrak) tidak dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja. Syarat masa percobaan itu hanya berlaku buat calon karyawan tetap. Jadi kalo kamu karyawan kontrak (yang perjanjian kerjanya ada jangka waktu), kamu nggak diwajibkan ikut masa percobaan yah. Ketentuan dari perusahaan yang mensyaratkan masa percobaan bagi calon karyawan kontrak itu batal demi hukum.
Catat yah, ges. Signing kontrak kerja itu kaya commit di relationship. Jangan sampai cuma baca judul doang, bisa-bisa kamu ditikung pasal terselubung dalam kontrak! Jadi, pastikan semua clause jelas, adil dan sesuai hukum. Kalo ragu, ajak HRD diskusi atau tanya temanmu yang mengerti hukum. Inget, kerja itu buat hidup, bukan hidup buat kerja. So be brave yahh.


