4 BENTUK WANPRESTASI DALAM BERPACARAN

Temen-temen yang lagi ngambil matkul hukum acara perdata, pasti gak asing dong dengan istilah wanprestasi. Seingetku pas ngambil matkul hukum acara perdata, pak dosen sering banget dah, ngasih tugas bikin gugatan wanprestasi. 

Sebenernya wanprestasi itu apa sih?

Secara sederhana, wanprestasi dapat diartikan sebagai perbuatan ingkar janji. Jadi gak ada wanprestasi, kalo gak ada janji.  Gampang kan dipahami. 

Semua perjanjian yang dibuat secara sah, akan mengikat para pihak yang membuatnya (pacta sunt servanda). Baik itu perjanjian tertulis atapun lisan, ada hak dan kewajiban yang harus dilakukan. Kalo sampe salah satu pihak lalai atau sengaja tidak melakukan kewajibannya, maka bisa dibilang pihak tersebut sudah ingkar janji alias wanprestasi.  

Aku yakin seyakin-yakinnya, aku, kamu dan kalian semua pernah jadi korban wanprestasi. Wanprestasi itu sering kok,terjadi di sekitar kita. Wanprestasi itu bisa karena disengaja, lalai atau karena alpa. 

Wanprestasi itu ada empat macam. Biar gampang ngebayanginya. Nih, aku kasih beberapa contoh wanprestasi ketika berpacaran.

BACA JUGA: REALITA CINTA DAN SANTET

Pertama, salah satu bentuk wanprestasi yang paling sering terjadi adalah “Tidak melakukan apa yang sudah disanggupi untuk dilakukan.” Misalnya, pacar kamu udah janji nikahin, tapi ujung-ujungnya cuma ghosting. Abis tuh, pergi entah kemana. 

Kedua, “Melakukan apa yang diperjanjikan tapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan.” Misalnya gini, pacar kamu janji mau ngajak soping-soping di mol. Eh, gak taunya cuma diajak muter alun-alun beli cilok. Nah, ini juga wanprestasi, karena antara janji dan realitanya gak sama. 

Ketiga, “Melakukan apa yang sudah diperjanjikan tapi terlambat.” Misalnya, pacar kamu janji, pas anniversary pertama mau ngasih hadiah berlian. Tapi ternyata berliannya baru dikasih pas anniversary ketiga. Telat dua tahun wooii, hahaha. Tapi ga papa sih telat, daripada nggak sama sekali. 

Keempat, “Melakukan sesuatu yang oleh perjanjian tidak boleh dilakukan.” Misalnya, pacar kamu udah janji setia sehidup semati, gak bakal pernah selingkuh. Eehh, baru aja pacaran, dia udah selingkuh!!!! Waah, jelas ini wanprestasi.

Sebagai mahasiswa hukum, kamu jangan mau dong, hak-haknya terlanggar. Hahahaha. Kalo pacar wanprestasi, segera somasi. 

Eeeeeh, btw, apa tu somasi?? 

Jadi gini, menurut ketentuan Pasal 1238 KUHPerdata, seseorang dinyatakan wanprestasi, jika sudah pernah diberikan peringatan/teguran. Sederhananya, kalo salah satu pihak ingkar janji, maka pihak yang dirugikan terlebih dahulu harus memberikan surat peringatan/surat teguran kepada pihak yang telah ingkar janji. 

Kalo dalam bahasa gaulnya, surat peringatan/surat teguran semacam ini disebut dengan istilah somasi. Kalo udah dikasih somasi/surat peringatan setidak-tidaknya dua kali, namun diabaikan. Fixs sih, dia wanprestasi. 

Pihak yang merasa dirugikan akibat wanprestasi, dapat mengajukan gugatan ganti rugi kepada pihak yang telah melakukan wanprestasi. Kalo berdasarkan ketentuan Pasal 1246 KUHPerdata, ganti rugi terdiri dari, biaya, rugi dan bunga.

Contoh-contoh yang aku kasih di atas itu, sekedar contoh wanprestasi sederhana. Gak semuanya bisa digugat dan dimintakan ganti kerugian ya. Untuk mengajukan sebuah gugatan ganti rugi harus ada nilai nyata kerugian.

Misalnya, untuk kasus janji nikahin, tapi cuma ghosting tadi. Ketentuan Pasal 58 KUHPerdata jelas mengatur bahwa,“Janji kawin tidak menimbulkan hak guna menuntut di muka hakim akan berlangsungnya perkawinan, pun tidak guna menuntut penggantian biaya, rugi dan bunga, akibat kecederaan yang dilakukan terhadapnya. Segala persetujuan untuk ganti rugi dalam hal ini adalah batal.”

BACA JUGA: CINTA BERUJUNG KEMATIAN

Kalo cuma dibacotin, dijanjiin bakal dinikahi, terus tetiba orangnya hilang entah ke mana, artinya kamu cuma jadi korban wanprestasi, tanpa bisa meminta ganti rugi.

Lalu gimana nih, kalo udah terlanjur nyebarin undangan, udah booking gedung, katering dan lain-lain, jadi rugi dong. Malu pun sejagad raya.

Nah, kalo kasusnya begini, mengingat perkawinannya sudah diumumkan, maka hal ini dapat menjadi dasar untuk menuntut ganti kerugian. Menurut lanjutan ketentuan Pasal 58 KUHPerdata, masa kadaluarsa untuk menuntut ganti rugi tersebut adalah 18 bulan terhitung sejak pengumuman rencana perkawinan.

Korban wanprestasi ghosting model gini, nyata-nyata mengalami kerugian materiil dan immateriil. Makanya bisa mengajukan gugatan ganti rugi ke pengadilan. 

Jadi poinnya, kalo pacar wanprestasi, gak menuhi janji buat nikahi kamu, gak serta merta bisa digugat atas dasar wanprestasi ya gengs. Untuk menuntut ganti rugi atas batalnya perkawinan, harus dapat dibuktikan kerugian-kerugian nyata yang diderita oleh salah satu pihak. So, kalo cuma janji-janji buaya. Uda deh, gak usah dipercaya.

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

1 Comment

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id