“Bang, infoin gua bikin hampir 40 rb lapangan pekerjaan ga ada yang kerja gimana ya?” – Lavender Kaito, di Theotown Community of Indonesia, Facebook.
Disclaimer, ini artikel nggak dibayar atau bantuin ngiklanin developernya, simply for fun.
Have u ever kejebak macet berjam-jam atau melihat tumpukan sampah di pinggir jalan, trus ngebatin, “Coba gue yang jadi pejabatnya, pasti nggak bakal seberantakan ini!”
Rasa penasaran itulah yang belakangan membawa ribuan netizen Indonesia ‘pindah’ kota ke sebuah dunia digital bernama TheoTown. Game simulasi pembangunan kota dengan tampilan pixel art sederhana ini mendadak viral.
Saking masifnya gelombang pemain baru, server game ini sempat dikabarkan down, karena tidak kuat menampung jumlah calon ‘wali kota’ dadakan.
But, did you guys also wonder, apa sebenarnya yang membuat TheoTown terasa begitu personal bagi netizen Indonesia?
Let’s dive into it. It’s game time, let’s gooooo!
Jadi ‘Pejabat’ di Kota Sendiri!
Saat pertama kali membuka TheoTown, kamu hanya akan melihat lahan kosong yang hijau. Di sini, kamu adalah pusat segalanya. Kamu punya kuasa penuh untuk membangun jalan raya, menarik kabel listrik, hingga menentukan di mana warga boleh tinggal.
Namun, kesenangan itu biasanya hanya bertahan lima menit. Setelah warga mulai berdatangan, realita pun menghantam. Kamu akan mulai merasakan apa yang dirasakan para pejabat di dunia nyata: Complexity.
Tiba-tiba, ada notifikasi bahwa warga butuh air bersih. Begitu air mengalir, mereka komplain soal sampah yang menumpuk. Saat sampah sudah beres, mereka protes soal polusi suara, karena kamu membangun pabrik terlalu dekat dengan perumahan.
This is the core selling point of the game, TheoTown bukan sekadar membangun gedung, tapi mengelola konflik kepentingan.
BACA JUGA: 5 KEJAHATAN DALAM SQUID GAME
Kenapa Theotown Itu, Feels Like Real Life?
Banyak pemain Indonesia yang menggunakan TheoTown sebagai media social commentary. Mereka tidak membangun kota impian yang sempurna ala negara maju, melainkan kota yang “Indonesia banget.”
Berkat dukungan plugins dari komunitas, kamu bisa memasukkan aset-aset yang beneran Indonesia banget, kayak gedung kementerian, minimarket di semua perempatan, sampe pedagang kaki lima yang penuh di trotoar.
Di titik ini, TheoTown menjadi tempat simulasi yang praktis untuk memahami aturan main di negara kita.
- Spatial Planning (Tata Ruang): Kamu belajar bahwa memisahkan kawasan industri dan pemukiman itu krusial. Jika salah urus, kota kamu bakal penuh asap dan warga bakal stres.
- Budget Management: Di pojok layar, angka anggaran terus berjalan. Kamu dipaksa menentukan skala prioritas. Pilih bangun taman kota yang cantik atau memperbaiki jalan yang rusak? Di sini kamu sadar bahwa uang pajak warga (PAD) ada batasnya.
- Waste Management: Sampah adalah “Bos terakhir” di game ini. Jika sistem pengangkutannya chaos, seluruh kotamu bisa mati dalam sekejap. Ini adalah tamparan kecil bagi kita yang sering meremehkan urusan manajemen lingkungan.
It’s more than a ‘game’
Mengapa TheoTown viral di Indonesia? Karena game ini memberikan rasa empowerment. Di saat kita sering merasa tidak berdaya melihat kebijakan publik di dunia nyata yang mungkin kurang sreg, TheoTown memberikan kendali itu kembali ke tangan kita.
Kita bisa bereksperimen, mencoba menjadi pejabat yang ‘bersih’ dan teratur, atau justru mencoba seberapa hancur kota jika kita hanya mengejar keuntungan pajak se
mata. Lucunya, banyak pemain yang akhirnya curhat di media sosial bahwa ternyata mengurus satu kecamatan saja susahnya minta ampun, apalagi satu provinsi.
BACA JUGA: GAME GACHA HANYALAH SEBUAH PERJUDIAN LEGAL TERSELUBUNG BERKEDOK GAME
Berikut Beberapa Momen Lucu yang Ada di Komunitas:





Kamu bisa cek full keseruannya di Theotown Community of Indonesia, or you can just search it on ur preferred social media.
Criticism is Easy, Execution is Hard
Viralnya TheoTown adalah bukti bahwa netizen Indonesia punya minat yang besar pada cara kerja sebuah sistem. Lewat grafik kotak-kotak yang simpel yang sebenernya nggak enak banget di mata, kita belajar soal kebijakan fiskal, dampak lingkungan, hingga birokrasi.
Jadi, kalau kamu merasa punya solusi brilian untuk masalah kemacetan atau sampah di kotamu, bisalah coba dulu di TheoTown.
Siapa tahu kota digitalmu bisa jadi bukti kalau kamu memang punya bakat jadi pemimpin masa depan—atau setidaknya, kamu jadi lebih paham kenapa jalanan depan rumahmu banyak lubangnya.
CYA, GGS!
“Tolong dong, ini kenapa warganya pada minggat?? 😭😭😭” – Lizzy Eliza, di Theotown Community of Indonesia, Facebook.


