SUPER APPS LAHIR DARI ATURAN DATA PRIBADI

E-Commerce atau lebih tepatnya bisnis berbasis teknologi di Indonesia telah memasuki babak baru. Kalo kata Pak Bhima Yudhistira, selain era bakar uang start-up Indonesia telah berakhir, penyebab lainnya adalah bahwa telah bergabungnya dua raksasa teknologi Indonesia.

Yaap, Tokopedia dan Gojek resmi bergabung. Yah, bukan berita baru juga sih, hal ini. But here is what’s new. Bergabungnya Gojek dan Tokopedia atau Tokek GoTo bukan cuma planing iseng-iseng atau cuma berusaha ngelambungkan saham perusahaan. Merger ini berusaha memberikan layanan baru yang bahkan dunia barat belum mengimplementasikannya, or rather susah mengimplementasikannya. 

As you know, Tokopedia merupakan perusahaan E-Commerce yang mendapatkan pengguna lewat marketplace mereka. Sedangkan, Gojek seperti kita tahu berawal dari ride-hailing yang kemudian merambah ke banyak lini produk, kayak Go-Food, Go-Massage dan lain-lain. Merger mereka bukan karna cuma untuk konsolidasi untuk mencari efektifitas, tapi untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Ehem.

Munculnya GoTo membuka babak baru dalam E-Commerce, bukan cuma dari segi ekonomi tetapi dari segi teknologi dan juga hukum. Here is why.

BACA JUGA: YANG SERING DILUAPAKAN, TERMS AND SERVICE DAN PRIVACY POLICY

GoTo yang membawahi Tokopedia dan juga Gojek dibentuk karena adanya suatu solusi terhadap permasalahan masyarakat Indonesia. Solusinya yang dimaksud adalah aplikasi atau dalam hal ini service. Gojek sudah memiliki banyak sekali layanan dan layanan itu digunakan secara masif oleh masyarakat Indonesia. At least ada sekitar 100 juta pengguna Gojek dan Tokopedia. Dengan banyaknya jumlah masyarakat yang menggunakan layanan mereka, arah jasa penyedia layanan pun berubah. 

Dalam beberapa waktu ke depan, kita akan mulai melihat raksasa teknologi yang ada di Indonesia akan menyediakan semua jasa layanannya dalam satu aplikasi. Contohnya Shopee yang sudah menyediakan ShopeeFood di aplikasinya. ShopeePay dapat digunakan di banyak tempat untuk membayar apapun.

Shopee bagi para penggunanya adalah sebuah aplikasi yang mereka gunakan setiap hari, entah itu untuk mencari makan, menjual dan membeli barang, main game, ikut undian, bayar tagihan ataupun hutang ke teman. I know, I used Shopee too. Shopee dalam hal ini merupakan apa yang disebut dengan SuperApps.

SuperApps adalah all-in-one apps. Sebuah aplikasi yang memiliki berbagai jenis layanan. But, Shopee berasal dari Singapura dan bukan Indonesia. Nah, mergernya Tokopedia dan Gojek membuka lembaran baru yaitu ada sebuah SuperApp dari Indonesia. 

Why it is a big deal? Well, konsep SuperApp sudah ada dari beberapa tahun lalu dan konsep ini banyak digunakan di beberapa negara di dunia. SuperApss banyak muncul di Asia. China memiliki WeChat dan Alibaba, Singapura ada Grab dan Shopee, Indonesia ada GoTo, Korea Selatan memiliki Kakao, India ada platform pembayaran PayTM. 

Munculnya SuperApps berbanding lurus dengan pertumbuhan pengguna Internet di suatu negara. Indonesia, Jepang, India dan China memasuki daftar dari 10 negara dengan penggunaan smartphone terbanyak. China dengan jumlah pengguna smartphone yang melebihi angka 800 juta manusia dapat mengimplementasikan konsep SuperApps karena memang kondisi pasar yang luas, but it’s not the whole reason. Salah satu alasan kenapa China memiliki SuperApps adalah karena hukum di sana. Yup, hukum. 

China as we know, China merupakan negara yang memiliki hobi nge-ban aplikasi dan layanan dari negara lain. Whatsapp, Twitter, Facebook dan Google diblok oleh pemerintah China. Ini membuat peluang yang lebih besar bagi perusahaan China seperti WeChat untuk mengambil potongan ‘makanan’ yang lebih besar. Dapet makanan yang lebih banyak, ya otomatis bakal lebih cepet gede. Yakan. 

But that’s not all, perusahaan China dapat porsi besar juga karena tidak adanya beban regulasi yang banyak dari pemerintah untuk melebarkan sayapnya. Terutama aturan data pribadi. Regulasi data pribadi yang tidak begitu ketat dapat membuat data pribadi semakin mudah digali. Data pribadi ini seperti yang sudah sering dibahas, merupakan ‘oli’ dalam peradaban manusia saat ini, karena data pribadi merupakan bahan utama dalam pertumbuhan perusahaan teknologi.

Aturan tentang data pribadi yang kurang tegas dapat membuat perusahaan teknologi menambang lebih banyak data dari penggunanya, lebih dari yang seharusnya. It’s not like imposible untuk aplikasi negara barat dalam membuat SuperApps, technically. Masalah yang dihadapi adalah regulasi.

Kalian pasti tahu Donald Trump Jr kan?

Pada saat kampanye tahun 2016, Tim kampanye Donald Trump menggunakan data dari Cambridge analytica yang diambil sejak 2010 dari pengguna Facebook lewat platform Facebook’s Open Graph. Ini membuat kehebohan dalam dunia teknologi pada saat itu, sekarang pun ada film dokumenternya. 

Akibat mencuatnya kasus itu, FTC kemudian memberikan sanksi kepada Facebook berupa denda 5 miliar USD. For your info, FTC merupakan Federal Trade Commission yang merupakan badan pemerintahan US untuk melindungi hak dari konsumen (pengguna Facebook). Belum selesai, pada tahun 2020, FTC menuntut Facebook atas dasar monopoli pasar. Ini juga bukan yang pertama kali FTC menuntut sebuah perusahaan teknologi pakai aturan monopoli. Pada tahun 1994, Microsoft juga pernah dituntut atas dugaan monopoli terhadap OS di PC.

Nah, karena FTC dan aturannya itu, beberapa perusahaan teknologi di US pada kena mental.

TikTok juga pernah terkena masalah di US dan Eropa. BEUC pernah mempermasalahkan persyaratan hak cipta dari TikTok. Bukan cuma masalah hak cipta, BEUC juga memeriksa tentang bagaimana perlindungan data anak-anak pada aplikasi. Well, EU memang terkenal dengan aturan data pribadinya yang ketat sih. Apple Inc. juga telah membarui aturan pengambilan data di platform mereka. Pengguna produk Apple sekarang dapat memilih informasi apa yang dapat dishare ke penyedia aplikasi dan hal ini memicu perang antara Apple dan Facebook.

Lalu apa efeknya?

BACA JUGA: TUNDUKNYA INTERNET DIHADAPAN HUKUM

Yah, aturan yang ketat dan juga pemberian sanksi yang besar membuat penyedia layanan dan aplikasi di dunia barat gak bisa menerapkan prinsip monopoli. Oleh karena itu banyak perusahaan yang memilih untuk mengambil salah satu segmen pasar dan bukan keseluruhan segmen.

Coba aja perhatiin, facebook gak menyediakan layanan pesan antar makanan, amazon juga tidak menyediakan jasa pijat ataupun twitter yang gak menyediakan jasa pembayaran. Beda dengan GoTo, Shopee ataupun Grab yang menyediakan banyak sekali layanan.

Aturan data pribadi yang kuat dapat mencegah Start-up untuk menggali habis-habisan data pribadi kita, sehingga mereka gak bisa dengan seenaknya membuat layanan ataupun memberikan data kita kepada perusahaan lain. That’s why, aturan pribadi dalam sebuah negara dapat mempengaruhi pertumbuhan startup di negara tersebut.

Walaupun gak ada SuperApps, tapi jangan lupa di negara barat ada SuperTech kaya Apple dan Microsoft. Keren juga.

It’s not necessarily bad things, paling yang benar-benar berdampak pada kehidupan kita adalah jumlah aplikasi di smartphone kita aja. SuperApps dapat membuat jumlah aplikasi yang diinstall lebih sedikit. Walaupun keamanan data pribadi kita terancam. 

“Yeah, I mean technology companies rely on data, that’s their business model” – Arjun Kharpal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik Hukum
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!