KOMITMEN KAMI RASA TAK PERNAH BOHONG

Komitmen mudah diucapkan tapi susah dilakukan, karena komitmen pada dasarnya bersifat resiprokal. Saling timbal balik, berbalas-balasan, apapun namanya, yang jelas komitmen itu gak bisa dilakuin sendirian. Ketiadaan satu sisi, maka komitmen jadi sego kucing tanpa karet a.k.a ambyarketawang.

Kayak lagunya Mas Dhani Ahmad yang liriknya bilang, kalo cinta bertepuk sebelah tangan maka hancur hatinya Mas Dhani, remuk juuummmm!! Nah, kayak gitulah komitmen. Gak mungkin komitmen hanya dilakuin satu sisi wae ndes. Komitmen adalah sebuah reaksi daripada apa yang dinamakan aksi. Kalo cintamu bertepuk sebelah tangan, mari angkat sekali lagi gelasmu kawan.

Sama seperti halnya dengan hubungan rakyat dan negara, konstitusi kita bilang kalo negara melindungi hak asasi tiap-tiap warga negaranya, jadi negara harus melaksanakan komitmennya untuk ngelindungi hak warga negaranya. Di sisi lain, negara juga butuh dukungan sebagai imbal baliknya, kewajiban berupa kepatuhan terhadap hukum misalnya. 

Kita ambil aja contoh hukum pajak. Biar pada taat bayar pajak, maka keluar jargon, “Orang bijak taat bayar pajak” iya to ndes. Selain dari utang luar negeri, duit yang dipake buat bayarin belanja negara itu yo sekoduitmu juga ndes. Termasuk juga uang untuk membangun fasilitas umum yang suka dirusak para pendemo anarkis. Yaaa, itu juga hasil dari duit kalian juga. Ngrusak kok ngrusak miliknya sendiri, iki pie sih.

BACA JUGA: AUTRAN THRIFTING, ORANG MISKIN DILARANG NGGAYA?

Kalo dalam hukum perdata, ada prinsip agar seseorang dapat menuntut haknya atas sesuatu, maka dia juga harus menuntaskan kewajibannya. Tidak ada wanprestasi tanpa pemenuhan hak dan kewajiban para pihak secara adil dan seimbang. Wong kok njaluk menange dewe, kowe kui uwong opo The Great Gama je ndes.

Begitulah, prinsip wellfare state pun menuntut balasan berupa peran serta dan kepedulian warga negaranya agar setiap warga negara taat hukum. Wellfare state bakalan jadi jauh panggang dari Wonosari api, kalo tingkat kejahatan masih tinggi dan perilaku abuse of power dari penguasa masih terjadi di sana-sini.

Cita-cita luhur para begawan hukum soal keadilan, kepastian dan kemanfaatan pun jadi hil yang mustahal kalo jenjang antara sultan dan sudra masih menganga, masyarakat masih dilanda kesusahan mencari makan dan banyak angkatan kerja yang gak kebagian kursi dari para pemberi kerja. 

Gimana mau sejahtera, sekarang mau berwirausaha pun kebijakan pemerintah gak mendukung. Dorong grobak angkringan jam 4 sore, eh jam 8 udah disuruh tutup Satpol PP. Harusnya karantina kesehatan dan pemerintah nanggung hidup warganya yang terkarantina, eh diakalin pake istilah aneh-aneh yang tujuannya biar masyarakat diem di rumah gak ke mana-mana, tapi kebutuhan gak dijamin sama negara. Repot Jum. 

Mungkin negara harus belajar komitmen dari sebuah kecap. Kecap Bango dengan mantab berkomitmen, bahwa “Rasa tak pernah bohong.” Untuk menegakkan komitmennya, Kecap Bango jelas-jelas membutuhkan partisipasi warga masyarakat khususnya para petani kedelai. 

Perjuangan panjang Kecap Bango dimulai sejak tahun 1928. Proses pembuatan yang mengutamakan tradisi, dilakukan dengan sepenuh hati, akhirnya menghasilkan kecap dengan kualitas tinggi. 

BACA JUGA: BEDAH MASALAH PERLINDUNGAN KONSUMEN

Di awal tahun 2000-an, Kecap Bango bekerjasama dengan UGM ngenalin local pride bangsa ini lewat kedelai hitam Mallika kepada para petani kedelai seantero nusantara. Fakta membuktikan, meskipun pada awalnya para petani masih gak percaya sama kedelai hitam manise asli nusantara ini, perlahan tapi pasti justru sekarang si Mallika jadi kunci kesuksesan Kecap Bango. Dalam setiap kemasan Bango terdapat kelezatan asli masakan Indonesia yang disadari atau tidak, telah berkontribusi nyata meningkatkan taraf hidup petani. 

Saking seriusnya ngegarap kedelai lokal ber-genre Mallika ini, setiap petani disarankan untuk merawat seperti ngerawat anak sendiri. Buat yang gak bahagia sama ortunya di rumah, mending kamu jadi Mallika wae ndes, biar dirawat seperti anak sendiri.

Dengan resep turun temurun yang dibuat sejak Kongres Pemuda II digelar dan jadi tonggak sejarah, Kecap Bango pun jadi penanda jaman dengan resepnya berupa kacang kedelai hitam pilihan, gula kelapa, garam dan air. Kecap Bango berhasil merajai per-kecap-an duniawi nusantara. Menjadi kecap nomor satu, jauh meninggalkan kecap-kecap lain yang serupa-tapi-tak-sama lainnya.

Untuk para pria sejati penggemar kolesterol tinggi, asah belatimu karena hari ini adalah Hari Raya Idul Adha 1442H. Daging sapi, unta dan kambing bertebaran di seantero pelosok negeri. Daging yang siap diolah dengan resep turun temurun Kecap bango, hingga mengeluarkan aroma kelezatan asli masakan Indonesia.

Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan pada emakmu apakah Kecap Bango sudah siap tersedia di rumah untuk mengawal Hari Raya Kurban tahun ini.

Karena rasa tak pernah bohong, dan Bango benar-benar kecap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik Hukum
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!