5 MACAM CUTI YANG WAJIB KAMU TAU

Aku tuh, lagi sebel banget sama pimred-nya Klikhukum.id. Masak, aku lagi liburan bentar, tetep aja disuruh nyambi kerja. Huuuu, bikin burnout aja. Padahal libur kerja adalah hak pekerja, yang dijamin Undang-undang. 

Sono, baca UU Ketenagakerjaan Jo UU Cipta Kerja. Setiap pekerja itu berhak dapet cuti untuk menikmati libur kerja. 

Tau gak lo, apa itu cuti??? 

Cuti itu adalah hak pekerja untuk gak masuk kerja, tapi perusahaan tetep harus bayar gaji. Jadi, kalo lagi cuti, ya jangan diganggu suruh sambi-sambi kerja. Pekerja bebas mau ngapain aja. Gak masuk kerja, tapi gajinya tetep dibayar utuh. Paham!!!  

Semua pekerja punya hak cuti. Ada banyak jenis cuti yang diatur dalam UU Ketenagakerjaan Jo UU Cipta Kerja dan PP 35 Tahun 2021. Ada cuti tahunan, sakit, melahirkan, cuti besar dan cuti karena alasan penting.

Mari kita bahas satu-satu.

BACA JUGA: PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN BAGAIMANA PENYELESAIANNYA

1. Cuti Tahunan

Cuti tahunan adalah hak pekerja untuk istirahat alias libur beberapa hari dari kerjaan, tapi tetep dapet gaji. Berdasarkan Pasal 79 Ayat (3) UU Ketenagakerjaan jo. UU Cipta Kerja, seorang pekerja yang udah bekerja selama 12 bulan secara terus menerus, ia berhak atas cuti tahunan paling sedikit 12 hari kerja.

Karena cuti tahunan adalah hak bagi pekerja yang udah bekerja minimal 12 bulan, maka pekerja baru berhak untuk dapet cuti tahunan setelah bulan ke-13 ya.

2. Cuti Sakit

Cuti sakit adalah hak pekerja yang sakit untuk mendapatkan waktu istirahat. Kalo kita baca ketentuan Pasal 93 Ayat (2) huruf a UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa perusahaan wajib untuk membayar upah pekerja yang sakit. Jadi, kalo pekerja sakit, ya ajukan aja cuti sakit. Asal memang beneran sakit ya. 

Ketentuan Pasal 153 Ayat (1) huruf a dan j UU ketenagakerjaan jo. UU Cipta Kerja mengatur larangan pengusaha untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena alasan pekerja berhalangan masuk kerja karena sakit. Yang penting sakitnya gak lebih dari 12 bulan secara terus-menerus. 

Kalo cutinya udah lebih dari 12 bulan, maka pengusaha baru dapat melakukan PHK. Ketentuan ini bisa dibaca dalam PP No. 35 Tahun 2021 yang merupakan peraturan pelaksana dari UU Cipta Kerja. Intinya disebutkan bahwa pengusaha dapat melakukan PHK terhadap pekerja yang sakit berkepanjangan setelah melampaui batas 12 bulan. Tapi tentu saja dengan syarat dan ketentuan berlaku tentang uang pesangon dan uang penggantian hak.

3. Cuti Melahirkan

Oke, kita lanjut ya. Buat pekerja perempuan, ada juga loh, hak cuti untuk melahirkan.

Ketentuan tentang cuti melahirkan itu diatur dalam Pasal 82 UU Ketenagakerjaan. Pasal tersebut menjelaskan bahwa pekerja perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 bulan sebelum saatnya melahirkan dan 1,5 bulan sesudah melahirkan, tentu saja sesuai dengan perhitungan dokter kandungan atau bidan ya. Jadi kalo ditotal, kurang lebih pekerja perempuan yang hamil mendapatkan hak cuti selama 3 (tiga) bulan.

Lebih lanjut ketentuan Pasal 84 UU Ketenagakerjaan mengatur bahwa setiap pekerja yang menggunakan hak cuti hamil dan melahirkan tetap berhak mendapat upah penuh.

BACA JUGA: SIAP !! PT.BERDIRI

4. Cuti Besar

Cuti besar adalah hak istirahat panjang untuk seorang pekerja yang uda bekerja lama di sebuah perusahaan. Dulunya dalam UU Ketenagakerjaan diatur bahwa setiap pekerja yang udah bekerja 6 (enam) tahun terus-menerus di sebuah perusahaan yang sama berhak untuk mengambil cuti besar. Di tahun ketujuh pekerja berhak mendapatkan cuti atau istirahat sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan, selanjutnya di tahun kedelapan pekerja berhak mendapatkan cuti masing-masing 1 (satu) bulan. 

Ah, tapi itu dulu, semenjak UU Cipta Kerja disahkan, maka ketentuan tentang cuti besar ikut berubah. UU Cipta Kerja jo PP No. 35 Tahun 2021 mengatur bahwa perusahaan dapat memberikan istirahat panjang yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. 

Itu artinya, ketentuan tentang cuti besar alias istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan udah dihapus. Intinya, ketentuan tentang istirahat panjang diatur oleh masing-masing perusahaan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

Jadi, kalo kamu gak mau rugi kehilangan hak untuk cuti besar, pastikan aturan perjanjian kerja, peraturan perusahaan atapun perjanjian kerja bersamamu mengatur tentang hak cuti besar ya.

5. Cuti Karena Alasan penting

Nah, kalo pekerja punya suatu kegiatan penting yang menyebabkan ia tidak dapat bekerja pada hari tertentu, maka pekerja tersebut dapat mengambil cuti karena alasan penting. Kalo pekerja mengambil cuti karena alasan penting, maka pengusaha tetap wajib untuk membayar upahnya. 

Cuti karena alasan penting antara lain karena pekerja menikah, menikahkan anaknya,  mengkhitankan anaknya, membaptiskan anaknya, istri pekerja melahirkan atau mengalami keguguran kandungan, suami atau istri, orang tua atau mertua, anak atau menantu pekerja meninggal dunia atau ada anggota keluarga dalam satu rumah pekerja yang meninggal dunia.

Gimana, udah jelas kan? Ada banyak jenis cuti yang menjadi hak pekerja. Jadi kalo pekerja cuti itu, HRD, bos atau atasan gak boleh ribet. Kalo emang udah jatah dan waktunya, ya pekerja harus dikasih hak buat cuti. 

Oh ya, kalo lagi cuti, kantor jangan telepon-telepon terussssss. Bete tau!!!!

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id