YANG TERPENTING DARI DEBAT ADALAH PELAKSANAAN WACANANYA

Usai sudah perdebatan kelima yang menghadirkan isme-isme dari para calon presiden tentang kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia dan inklusi, dan bagiku yang terpenting dari debat adalah pelaksanaan wacananya. 

Aku pribadi memandang debat pada hari Minggu  04 Februari 2024 masih dirasa B aja, pasalnya keriuhan adu ismenya kurang garang di forum yang cerdas ini. Masalah gimmick lebih seru debat cawapres yang diselenggarakan sebelumnya, namun secara adu isme debat ini lebih apik, walaupun hasilnya pada sama-sama setuju. 

Pak Anies Baswedan, membuka debat dengan wacananya soal “Bangsa Indonesia masih memiliki persoalan tentang ketimpangan, ketidaksetaraan dan ketidakadilan antara Jawa dan luar Jawa, kaya dan miskin. Lainnya contoh segelintir orang menguasai kekayaan negeri kita, padahal para pendiri bangsa sudah mendirikan bangsa ini untuk kebersamaan bangsa dan negara.” 

Adapun penawaran aksi nyata yang dipilihnya yaitu tentang gagasannya membawa arah Republik Indonesia ke konsep awal, dengan cara lebih peduli serta dengan cara hidup sehat dan bila sakit segera menolong dengan cepat. Negara memberikan bansos untuk kepentingan yang diberi dan menjaga etika budaya masyarakatnya, melalui mewujudkan bangsa yang sehat, cerdas dan Bersatu. 

Sedangkan Pak Prabowo Subianto, dalam pembukaannya menawarkan ide serta gagasan “Diperlukan strategi transformasi bangsa untuk meningkatkan kemakmuran dan memperbaiki kualitas hidup manusia, caranya memberi makan bergizi termasuk yang ada di kandungan, untuk mengatasi angka kematian, stanting, menghilangkan kemiskinan extreme dan meningkatkan hasil pertanian.” 

BACA JUGA: GIMANA SIH, ATURAN PENGGUNAAN AI UNTUK KAMPANYE PILPRES?

Selanjutnya beliau juga berwacana membangun rumah sakit modern dan mempercepat menghadirkan dokter di Indonesia menambah fakultas kedokteran di Indonesia, melalui beasiswa untuk ke luar negeri dan beasiswa teknologi serta sains. 

Wacana lainnya soal membangun 1 juta rumah untuk desa, 1 juta rumah di pesisir dan 1 juta rumah di perkotaan, tentang Guru honorer wacana yang diambil cukup klasik yaitu menawarkan kenaikan gaji, begitu juga untuk ASN. 

Terakhir, isme-isme yang dibawa Pak Ganjar Pranowo yaitu, “Membangun Indonesia yang beradab melalui kebudayaan, kesehatan preventif lewat olahraga dan makan sehat, akses kesehatan mudah melalui, satu desa satu faskes dan nakes, sehingga lansia, masyarakat adat mendapatkan fasilitas yang sama.” 

Selanjutnya dalam wacana kesejahteraan sosial, beliau mengajak agar lebih memperhatikan kelompok terpinggirkan yaitu perempuan dan penyandang disabilitas untuk memperoleh hak dan nasib yang sama. 

Selain itu beliau menawarkan internet yang lebih cepat, untuk mendapatkan informasi yang cepat serta baik dan sebagai pemimpin harus memberikan contoh teladan yang baik, untuk membangun integritas yang baik, mendengarkan suara rakyat yang telah membuka unek-uneknya dan tuanku adalah rakyat, jabatan ini hanyalah mandate. 

Penyampaian wacana awal bagiku pantas dicatat dan dijadikan prestasi awal untuk menagihnya setelah terpilih nanti. Entah itu Pak Anis, Pak Prabowo maupun Pak Ganjar. Dengan tolak ukur pelaksanaan wacana di lapangan, apakah sesuai atau tidak. 

BACA JUGA: SEMENJAK JADI KPPS HIDUP JADI BERUBAH

Pada prinsipnya sebagai orang hukum pasti tahu tentang adagium actory in cumbit probatio (siapa yang menggugat dialah yang wajib membuktikan). Sehingga dalam konteks debat ini aku menafsirkan siapa berwacana dialah yang wajib membuktikan wacana itu, baru dia bisa disebut dengan negarawan yang bijak. 

Selain itu ada adagium yang menarik lagi, yaitu berbunyi Facta sunt potentiora verbis (perbuatan atau fakta lebih kuat dari kata-kata). Artinya mereka para calon presiden bakalan lulus dan dicintai rakyatnya ketika yang sudah diwacanakan dalam debat dipraktekkan melalui fakta ketika memimpin. 

Setelah momentum 14 Februari 2024 usai dan siapapun presiden yang terpilih, sebagai rakyat yang bijak haruslah menghormati produk politik hukum pemilu. Bagaimanapun aku beranggapan pemilu itu proses politik yang output penetapan presiden dan wakilnya adalah produk hukum. 

Dan sebagai warga yang bijak, harus menghormati keputusan tentang siapa presiden dan wakil presiden terpilih nanti dengan taat dan bijak seperti adagium yang berbunyi, Judicia posterior sunt in lege fortiora (keputusan terakhir ialah yang terkuat di mata hukum). 

Terakhir, sesuai dengan judul yang sudah aku sematkan di atas, semoga dialektika debat pamungkas ini merupakan bentuk isme-isme yang akan benar dan adil dilaksanakan, sehingga tercapailah apa yang disyairkan WS Renda “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” 

Mohsen Klasik
Mohsen Klasik
El Presidente

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id