PNS TUH KERJANYA RAJIN GAK CUMA MAIN SOLITAIRES

Beberapa waktu lalu aku ketemu temen sekolahku, namanya Dila nama lengkapnya Dilakoni. Jadi ceritanya, Dila sekarang jadi pe en es di Saturnus. 

Sempet kaget banget sih, wajahnya yang glowing ditambah aroma parfum bakarat yang baunya kayak eksekutip di SCBD. 

To be honest aku insinyur insekyur, tapi nggak papalah, aku  tetep wangi kok, meskipun aroma parfum laundry. Mentok-mentok molto lavender. 

Pas denger ceritanya, aku makin bersemangat berjuang jadi pe en es. Yaa, meskipun aku udah empat kali ikut tes cpns dan nggak lulus. Tapi itu sama sekali nggak ngurangin semangatku. 

Kata orang-orang aku itu terlalu ambisius buat jadi PNS (Pegawai Negeri Saturnus). Katanya kalau jadi PNS, nanti nggak berkembang lah, jenjang karirnya lama lah, gajinya sedikit lah. 

Fix, yang masih ngomong gitu, pasti belum tau cerita si Dila. Dan kalau mau berkembang ya, luluran pake baking powder aja kaleee.

Jadi Dila cerita kalau memang gaji dia tuh, termasuk kecil. Tapi ada tunjangan kinerja, akomodasi, pendidikan, komunikasi, asuransi, suami, orang tua, anak, tunjangan empat pilar gizi seimbang, tunjangan minum kopi kekinian, tunjangan skin care, outfit, tunjangan healing manjah. Ah, banyak banget deh. 

Nah, siapa coba yang nggak mau jadi PNS di Saturnus kayak si Dila. Padahal Dila jadi PNS daerah loh, bukan PNS pusat. Bisa ngebayangin nggak tuh, kalau jadi PNS pusat di Saturnus.

Dila juga cerita a day in my life-nya. Dan sumpah ya, buat orang-orang yang punya jiwa iri dengki kayak aku gini, pasti jiwa irinya meronta-ronta. 

BACA JUGA: NASIB SARJANA PENDIDIKAN, TIDAK ADA CPNS GURU

Jadi si Dila berangkat ke kantor jam sembilan pagi, padahal jam masuk kerja itu jam delapan. 

Sampai kantor dia sarapan sambil cerita-cerita sama temen kantornya sampai jam 10. Setelah itu dia rapat yaa, kira-kira sampai jam 11. 

Sambil nunggu jam istirahat biasanya dia main zuma di komputer kantornya sampai jam makan siang. 

Nah, biasanya dia keluar makan siang pakai mobil kantor ke resto atau warung tongseng kambing sampai jam satuan. 

Setelah itu dia nyiapin berkas kerjaannya. Sebelum mulai ngerjain, biasanya scroll sosmed sekalian order goprut kopi kekinian gitu. Ya, kalau enggak, biasanya Dila pesen es kofimix di warung sebelah. Yaa, biar nggak ngantuk katanya. Hahaha. 

Lanjut ngerjain kerjaan sampai jam setengah empat. Trus, siap-siap pulang. 

Bener-bener kerjaan idaman banget nggak sih? Trus, kan aku penasaran ya, pernah nggak sih, dimarahin atau dinyinyirin atasan plus temen kantornya? 

Yaa, kayak cerita di negara antah berantah itu loh, yang biasanya nyinyir kalau temen sekantornya keliatan hidup enak. 

Ternyata eh, ternyata. Jawaban Dila bikin aku terkedjoet, “Enggak sih, kan orang-orang kantor juga keluargaku. Ada omku, tanteku, sepupu aku.” 

Mmhh, fix! Buat para crazy rich, pamer kok harta? Pamer tuh, privilege kalau pejabat di kantor itu keluargamu semua!

Lanjut cerita si Dila ya. Dia juga cerita meskipun di PNS daerah, tunjangan-tunjangan yang dia dapet itu nggak pernah terlambat. Proses pencairannya cepet dan nggak ribet. 

Enak banget nggak sih, gaes? Jadi pengen ke Saturnus aja deh.

Kalau di Indonesia, negara tetangga yang cakep tiada tara.  Setauku sih, emang ada tunjangan-tunjangan gitu. 

Ya, emang aku nggak tau sih, tunjangannya apa aja. Kan aku bukan pegawai negeri sipil, tapi aku hanya seorang nuna-nuna penikmat kopi dan senja. Hiks. 

Hhmm, Katanya sih, di Indonesia akhir-akhir ini lagi rame pembahasan tentang tunjangan PNS daerah. 

Jadi banyak yang ngeluh, karena TPP-nya nggak cair-cair. Fyi, TPP itu tambahan penghasilan pegawai. 

Jadi ketentuan Pasal 58 Ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah mengamanatkan Menteri (menteri dalam negeri) berwenang memberikan persetujuan terhadap tambahan penghasilan pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Daerah. 

BACA JUGA: UNBOXING “PASAL 3” PP MANAJEMEN PNS

Nah, untuk menindak lanjuti hal itu, maka Menteri Dalam Negeri menetapkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 900-4700 Tahun 2020 tentang Tata Cara Persetujuan Menteri Dalam Negeri Terhadap Tambahan Penghasilan Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Daerah. 

Loh, udah dapet tambahan penghasilan kok, masih ngeluh sih? 

Ya, menurutku sih, bukan karena nggak bersyukur ya. Tapi cara untuk mendapatkan tambahan penghasilannya itu ribet gitu loh dan lama. 

Katanya diserahin ke daerah. Tapi kok, harus ada persetujuan dari menteri? 

Dan ternyata TPP ini belum cair dari bulan-bulan yang lalu. TPP kan dibayarkan tiap bulan berdasarkan produktivitas dan kinerja pegawai. 

Hmmm, padahal kan untuk menilai produktivitas dan kinerja itu butuh waktu lama. Bayangin aja kalau satu pegawai butuh satu hari untuk penilaiannya, padahal ada ribuan pegawai. 

Yaaa, wajar aja sih, kalau ketunda gitu pencairan TPP-nya. Mungkin buat pak menteri, bisalah cari cara lain biar TPP ini cair tepat waktu. Tapi tetep harus memperhatikan kualitas pegawainya ya pak. Hehehe.

Lagian di Indonesia, PNS daerahnya tuh rajin-rajin kok. Kalaupun ada yang bilang PNS daerah itu kerjaannya main solitaire dan males, percayalah itu cuma hoax. 

Kelihatannya aja males-malesan, padahal kerjanya sat set sat set tanpa fa fi fu. Jadi tugasnya cepet selesai deh, nggak mungkin nunda-nunda kerjaan. Trus, ujung-ujungnya yang ngerjain bawahannya. Iya kan?

Ashfa Azkia
Ashfa Azkia
Si Bunga Desa & Pengangguran Profesional

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id