MATEMATIKA DALAM DUNIA HUKUM

Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang paling sulit buat aku. Entah, karena gak punya basic matematika yang bagus atau emang aku aja yang males belajar. Pokoknya nilai matematikaku jelek banget. Aku pikir dengan masuk di fakultas hukum, aku gak bakal nemu lagi materi hitung-hitungan.

Upss, ternyata aku salah gaes. Beberapa mata kuliah di fakultas hukum rupanya malah punya materi hitung-hitungan yang agak ribet.

Bukan cuma pas kuliah, ketika sudah jadi praktisi hukum, aku juga gak bisa ngelak dari materi hitung-hitungan. Serius deh, ada beberapa materi hukum yang perlu pake hitung-hitungan. Sepengalaman aku, setidaknya hitung-hitungan diperlukan dalam lima hal berikut ini. Cekidot yaaakkk. 

Menghitung Pajak

Well, zaman sekarang menghitung pajak jadi skill yang harus dimiliki oleh seorang sarjana hukum. Seingetku, pas jaman kuliah dulu mata kuliah hukum pajak adalah salah satu mata kuliah yang susyah pake banget. 

Di kelas hukum pajak, mahasiswa umumnya bakal diajari tentang peraturan-peraturan perpajakan, prosedur perpajakan, tata cara pemungutan pajak dan ketentuan tarif pajak, kewajiban perpajakan, hak dan kewajiban wajib pajak, tata cara perhitungan pajak penghasilan, PPN dan PPnBM, PBB, serta BPHTB.  Nah loh, pas bagian menghitung pajak, mau gak mau mahasiswa kudu bisa hitung-hitungan.

Menghitung Masa Tahanan, Remisi dan Pembebasan Bersyarat

Skill hitung menghitung juga diperlukan untuk menghitung masa tahanan, remisi dan pembebasan bersyarat. Jadi pas kuliah hukum acara pidana, biasanya mahasiswa diajarin buat ngehitung masa tahanan sesuai dengan aturan dalam KUHAP. Nah, biasanya pas lagi ujian, bakal keluar juga soal hitung-menghitung masa tahanan. 

Kalo di tataran implementasi hitung-hitungan juga dibutuhkan buat memperkirakan remisi dan waktu pengajuan pembebasan bersyarat. Pembebasan bersyarat adalah bebasnya narapidana setelah menjalani sekurang-kurangnya 2/3 masa pidananya dengan ketentuan 2/3 tersebut tidak kurang dari 9 (sembilan) bulan.

Nah, pembebasan bersyarat dapat diberikan kepada narapidana sepanjang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan. Sepengalaman aku, seorang advokat harus bisa hitung-menghitung perkiraan waktu untuk mengajukan pembebasan bersyarat. Yaa, kan kudu jaga-jaga kalo kliennya tanya-tanya.

Menghitung Warisan

Mahasiswa fakultas hukum yang ngambil mata kuliah hukum waris wajib bisa menghitung warisan. Kalo nilainya mau bagus, ya harus bisa hitung-menghitung. Di mata kuliah hukum waris, pas ujian pasti bakal ketemu dengan soal ‘menghitung bagian warisan.’

Menghitung waris emang agak ribet, karena di Indonesia ada tiga jenis hukum waris yang berlaku, yaitu hukum waris Islam, hukum waris perdata dan hukum waris adat. Beda jenisnya, beda juga hitungannya. 

Menghitung Pesangon 

Skill hitung-menghitung juga sangat diperlukan untuk menghitung pesangon dan biaya-biaya lain (seperti upah lembur) menurut UU Ketenagakerjaan.  Nah, sejak berlaku UU Cipta Kerja, menghitung pesangon dan biaya-biaya ketenagakerjaan diatur lebih detail di dalam PP No. 35 Tahun 2021 Tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat serta Pemutusan Hubungan Kerja.

Jadi rule dan cara menghitung pesangon, upah lembur dan biaya-biaya lain terkait ketenagakerjaan tinggal menyesuaikan dengan pasal-pasal yang mengaturnya.

Menghitung Nafkah anak dan Mutah Iddah

Menghitung nafkah anak dan mut’ah iddah mungkin gak bakal ditemukan pas lagi kuliah. Kemampuan menghitung nafkah anak dan mut’ah iddah justru dibutuhkan oleh seorang praktisi hukum seperti advokat. 

Nah, seorang advokat yang akan mengajukan gugatan cerai harus bisa menghitung dan memperkirakan berapa besaran biaya nafkah anak dan juga besaran mut’ah iddah untuk kliennya. 

Oh ya, selain menghitung besaran nafkah anak dan mut’ah iddah, seorang advokat  harus mampu menghitung besaran biaya ganti rugi. Dalam kasus perdata gak menutup kemungkinan klien meminta ganti kerugian dalam gugatannya. Nah, seorang advokat harus mampu memperkirakan besaran ganti rugi sesuai dengan nilai kerugian yang dialami oleh kliennya. 

Itulah lima skill yang dibutuhkan oleh seorang mahasiswa ataupun praktisi hukum. Jadi, hoax tuh, kalo ada yang bilang masuk di fakultas hukum gak bakal ketemu dengan matematika dan hitung-hitungan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum