homeJokpusIN THIS ECONOMY, WORTH IT NGGAK SIH, IKUT KEPANITIAAN...

IN THIS ECONOMY, WORTH IT NGGAK SIH, IKUT KEPANITIAAN KAMPUS?

Menimbang worth it atau tidaknya kepanitiaan kampus buat mahasiswa di tengah gempuran UKT dan pilihan magang.

“Fix ya, guys. Rapat malam ini jam sembilan, wajib on time!”

Notifikasi itu masuk pas aku baru rebahan setelah seharian ngampus. Katanya rapat cuma sejam, nyatanya baru kelar jam dua pagi. Bahas apa? Intinya perdebatan berbelit-belit tentang acara yang sebenarnya konsepnya sudah clear. Besoknya aku masuk kelas dengan mata setengah merem dan otak yang masih loading.

Dari situ aku paham kenapa belakangan makin banyak mahasiswa yang nanya, in this economy, worth it nggak sih, ikut kepanitiaan kampus? Wajar banget sih, pertanyaan itu muncul. Uang jajan mepet, UKT naik, waktu rasanya makin mahal, sementara yang ditawarin seringnya cuma sertifikat selembar dan kalimat sakti, “Buat pengalaman.”

Aku Pernah Nyicipin Banyak Hal di Kampus

Aku sendiri pernah ikut kepanitiaan beberapa kali, aktif di UKM, ikut lomba, magang, sampai kerja. Jadi aku nggak mau ikut-ikutan bilang kepanitiaan itu cuma buang-buang waktu. Nyatanya nggak seburuk itu kok. Cuma ya, nggak semua kepanitiaan layak kita perjuangkan sampai begadang. 

Alasan Kenapa Kepanitiaan Terasa Berat 

Jujur aja, yang sering bikin kepanitiaan nggak worth it tuh, bukan kerjaannya, tapi budayanya. Rapat molor sampai subuh padahal poin pentingnya bisa kelar dalam dua puluh menit. Iuran panitia yang bikin dompet meringis. Belum lagi drama khas anak FH, harus olah-olah di forum, adu argumen sampai panas, padahal yang diperdebatkan nggak ngaruh sama sekali ke jalannya acara. Energi habis, hasilnya nggak ke mana-mana.

BACA JUGA: TIPS MEMBAGI WAKTU KULIAH, ORGANISASI DAN KERJA ALA MAHASISWA HUKUM

Lomba, Kerja, dan Magang Emang Lebih Keliatan Hasilnya

Makanya aku ngerti banget kalau banyak teman akhirnya milih jalur lain. Di lomba, kita dipaksa baca berkas, nyusun legal opinion, dan latihan public speaking yang beneran kepake. Di magang, kita lihat langsung gimana satu kasus diurus dari meja klien sampai ruang sidang. Di kerja, minimal kita dapat uang sambil belajar tanggung jawab sama deadline orang lain, bukan cuma deadline sendiri. Semuanya jelas, terukur, dan nggak bikin kita ngerasa sia-sia.

Tapi, Kepanitiaan Juga Ngajarin Hal yang Nggak Diajarin Dosen

Meski begitu, bukan berarti kepanitiaan nol manfaat. Dari sana aku belajar nego sama vendor, ngadepin sponsor yang ghosting, sampai nenangin teman satu divisi yang nangis H-1 acara. Nggak ada mata kuliahnya, tapi kepake seumur hidup. Relasinya juga awet. Beberapa info tentang dunia perkuliahan dan tips-tipsnya justru datang dari teman panitia yang sudah kating, bukan dari pengumuman fakultas.

Dan jangan lupa, kuliah itu nggak melulu soal IPK dan isi CV. Ada masa-masa yang cuma bisa kita rasain sekali seumur hidup, kayak kejar-kejaran deadline proposal bareng teman sekelas, ketawa-ketawa pas gladi bersih berantakan, atau foto panitia yang bajunya kegedean semua. Selama kita menjalaninya dengan fun dan waktu kuliah nggak keganggu, kepanitiaan tetap jadi pengalaman yang asik buat dikenang.

BACA JUGA: MAU JADI MABA FH BERKELAS? INI DIA 5 SKILL YANG WAJIB DIKUASAI MAHASISWA BARU FAKULTAS HUKUM

Kuncinya, Tinggal Pilih-Pilih Aja Guys!

Jadi pertanyaannya bukan ikut atau nggak ikut, tapi ikut yang mana. Sebelum daftar, coba tanya tiga hal ke diri sendiri. Pertama, acaranya jalan berapa lama dan bentrok nggak sama jadwal kuliah atau musim ujian. Kedua, divisinya ngasih skill baru atau enggak. Ketiga, orang-orangnya bikin betah atau malah bikin pengen mundur di minggu pertama. Kalau minimal dua jawabannya aman, ya ambil. Kalau nggak, ya udah. Nggak usah maksa. Nolak ajakan jadi panitia bukan dosa besar kok!

Kalau sudah terlanjur masuk, berani-beranilah buat izin. Nggak semua rapat harus dihadirin sampai subuh dan nggak semua chat jam dua pagi harus dibalas detik itu juga. Kuliah tetap nomor satu, soalnya yang wisuda nanti kita, bukan kepanitiaannya.

Intinya, nggak selamanya kepanitiaan kampus itu seburuk yang sering diceritain orang-orang. Tinggal pilih-pilih dan pinter-pinter kita memanajemen waktu aja.

Dari Penulis

Terkaitrekomendasi
Artikel yang mirip-mirip

0 0 votes
Article Rating
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Dari Kategori