MUSAFIR KEADILAN DI NEGERI “ADIL?”

Alkisah … 

Dia hidup di satu negara yang sangat cantik. Arendellee namanya. Negara yang luas yang terdiri dari banyak pulau.

Arendellee dalam konstitusinya menyatakan sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi keadilan. 

Tapi kenapa, rakyatnya masih menghujani pertanyaan, di mana keadilan? 

Padahal dia tidak buta, kenapa dia tidak bisa melihatnya dengan jelas? Apakah keadilan hanya mimpi atau halusinasi? 

Itulah pertanyaan bertubi-tubi dari seorang traveler keadilan. Dia seorang pengembara keadilan di negerinya sendiri. 

Sudah 76 tahun dia menjadi traveler dan belum juga menemukan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan yang menyiksa batinnya sejak lama. 

Saat dia mulai melangkahkan kakinya dari Papuaan, daerah kecil di ujung Arendellee, dia melihat sesosok penguasa yang kejam dan tamak. 

Dia sungguh penasaran siapa penguasa itu. Datang dari mana kah? Bisa-bisanya mengeruk habis hak-hak penduduk sekitar. 

Semua emas, intan, permata dan batu giok, dia rampas tanpa menghiraukan siapa sebenarnya pemilik emas dan semua kekayaan itu. 

BACA JUGA: REALITA PERADILAN SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN

Keheranan traveler itu semakin menjadi-jadi. Hingga pada akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya pada seorang perempuan lusuh. Perempuan itu kelihatan lesu sekali akibat menghadapi kerasnya kehidupan.

Ternyata perempuan lusuh itu bernama Leidy. Setelah dia menanyakan mengapa dan siapa biang kerok yang merampas kekayaan Papuaan. 

Mukanya langsung kemerahan seolah dia tidak sabar ingin mengusir orang itu. Akan tetapi dia tidak kuasa. 

Setelah dia tenang kembali, akhirnya perempuan itu menjawab siapa sebenarnya biang kerok dari semua ini. “Orang tersebut adalah orang yang kita percaya, menjadikan Papuaan ini semakin maju dan sejahtera. Namun, alih-alih sejahtera, keberanian kami saja sudah dihancurkan!”

Mendengar jawaban tadi, traveler keadilan semakin penasaran. Seperti apa orang itu? Kenapa bisa mempunyai sifat seperti iblis?!

Setelah beberapa bulan di Papuaan, dia belum juga menemukan keadilan. Traveler itu melanjutkan kembali perjalanannya. Kemudian dia berjalan ke barat dan sampailah di daerah yang kaya akan minyak dan garam. 

Yah, benar sekali, daerah itu adalah Madara. Daerahnya memang kecil, tapi jangan tanya soal kekayaan yang berupa garam. Di sanalah surganya. 

Traveler itu sedikit mengangkat bibirnya dengan wajah yang agak sinis. Bagaimana tidak? Katanya Madara kaya akan garam, tapi kenapa Arendellee masih mengimpor dua juta ton garam dari luar. 

Alasannya begitu simple, garam Madara sudah tidak asin lagi. 

Kemudian traveler itu menyimpulkan dia tidak menemukan keadilan di Madara. Lantas di mana keadilan itu sebenarnya? 

Akhirnya traveler itu sampai di Olympus Mons. Ibu Kota Negara Arendellee. Yaa, benar. Daerah ini penuh dengan hiruk pikuk kehidupan yang fana. 

Bisa dibilang, di sini lumbung para bedebah itu! Yang rela mengeksploitasi negerinya sendiri, demi hasrat yang ia punya. 

Mungkin secara kasat mata kota ini memang besar. Banyak gedung-gedung tinggi pencakar langit. Tapi masa bodoh dengan hal itu,  jika para tikus berdasi berkeliaran bebas di sini. 

Di daerah inilah traveler menemukan suatu fakta yang menyayat hati di antara dua kasus.

BACA JUGA: TIPS MENGGAGALKAN GUGATAN CERAI DI PENGADILAN

Kasus pertama terjadi pada mantan penguasa Olympus Mons, Queen Elleanor yang hanya dijatuhi hukuman penjara beku 4 (empat) tahun dan dengan denda 200 juta credits. Padahal dia terbukti telah menyuap mantan ketua mahkamah konstitusi di Arendellee. 

Queen Elleanor menyuap Lord Phoenix sebesar satu miliar credits agar bisa memenangkan gugatan yang ditujukan kepada Stacey dan Aletta. 

Kasus kedua, seorang nenek mencuri makanan karena kelaparan, lalu dijatuhi hukuman sebesar 2,5 tahun penjara beku. 

Traveler membandingkan kedua kasus ini, dia tahu dengan jelas bagaimana hukum di Arendellee tajam ke bawah tumpul ke atas. 

“Sungguh miris negeri ini! Bagaimana bisa seorang koruptor yang sudah merugikan negara hanya dihukum 4 (empat) tahun penjara dan denda 200 juta credits. “

“Sedangkan seorang nenek yang mencuri makanan hanya karena ingin nyawanya tetap hidup malah dihukum 2,5 tahun penjara beku.”

Begitulah, sambatan si traveler.

Merenungkan kasus ini, mata traveler itu meneteskan air mata sambil mengangkat tangannya ke atas, “God . . . God, give me help and guidance.”  

“Jika tidak, bagaimana nasib Arendellee? Bagaimana nasib para generasi dan penduduk miskin di negeri ini? ” 

Kemudian traveler itu berpesan kepada para pemuda sebagai penerus bangsa, agar menjaga Arendellee sekuat tenaga. Jangan sampai keadilan di negeri ini hanya sebatas ilusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.