”Sebuah Eksepsi Terhadap Pernyataan Presiden RI”
Ketika dollar menyentuh Rp17.602,00, muncul pernyataan Presiden RI bahwa, “Masyarakat desa tidak pakai dollar kok.” Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menunjukkan cara pandang yang jauh dari kenyataan hidup rakyat kecil.
Memang benar, masyarakat desa tidak bertransaksi langsung menggunakan mata uang Amerika. Namun dampak kenaikan dollar tetap masuk sampai ke dapur mereka. Indonesia masih bergantung pada impor berbagai kebutuhan penting seperti gandum, kedelai, BBM, pupuk, obat-obatan dan bahan baku industri. Semua transaksi itu dibayar dengan dollar.
Saat nilai tukar rupiah melemah, biaya impor naik. Akibatnya harga barang ikut terdorong naik. Mie instan, tahu-tempe, pakan ternak, ongkos transportasi, hingga kebutuhan harian bisa menjadi lebih mahal. Yang paling merasakan dampaknya bukan investor besar, melainkan rakyat kecil dengan penghasilan pas-pasan.
Karena itu, mengatakan “Rakyat desa tidak pakai dollar” terasa menyakitkan. Seolah-olah persoalan kurs hanya urusan elite ekonomi di kota. Padahal ketika harga kebutuhan naik dan daya beli turun, masyarakat bawah adalah kelompok yang paling rentan.
Ekonomi bukan sekadar angka di layar. Ekonomi adalah soal apakah rakyat masih mampu membeli beras, minyak goreng dan susu untuk keluarganya.


