homeJokpusLAUT BERCERITA: KETIKA SEJARAH DIHAPUS, SUBJEK HUKUM TERLUPA DAN...

LAUT BERCERITA: KETIKA SEJARAH DIHAPUS, SUBJEK HUKUM TERLUPA DAN SASTRA BERBICARA

Ada masa ketika kata-kata tidak lagi aman untuk diucapkan. Ketika suara yang jujur justru menjadi alasan untuk lenyap. 

Dalam Novel Laut Bercerita, sejarah tidak datang sebagai arsip yang rapi, melainkan sebagai bisik-bisik luka yang terus mengetuk kesadaran. Hal ini mengingatkan kita akan sastra yang tak punya pilihan selain harus berbicara.

Jujur, aku membaca buku ini dalam perasaan tidak siap. Tidak siap menerima kenyataan bahwa penderitaan bisa lahir hanya karena seseorang memilih untuk bersuara. 

Tidak siap menyadari bahwa kekuasaan yang kejam itu berdiri di atas keputusasaan. Sadar atau tidak, pernah kita biarkan tumbuh. 

Novel Laut Bercerita mengisahkan hilangnya hak paling mendasar manusia, rasa aman di rumahnya sendiri. Melalui karakter Biru Laut dan kawan-kawannya, kita diajak masuk ke sebuah masa ketika kejujuran dicatat sebagai ancaman dan kebenaran diperlakukan seperti barang selundupan. 

Hukum seharusnya menjadi rumah perlindungan, tetapi dalam novel ini digambarkan sebagai keadilan yang bukan lagi janji, melainkan sesuatu yang bisa ditawar, dihilangkan, bahkan disangkal keberadaannya.

BACA JUGA: PAK YUSRIL, KOK BISA-BISANYA ANDA BILANG TRAGEDI 1998 BUKAN PELANGGARAN HAM BERAT?

Setiap kisah penyiksaan yang dituturkan tidak hadir sebagai sensasi, melainkan sebagai kesaksian. Tubuh-tubuh yang disakiti dalam novel ini adalah arsip hidup pelanggaran kemanusiaan, dihilangkan paksa, perampasan kebebasan, penyiksaan yang mencederai martabat manusia. 

Pada hari penangkapan, mereka memperlakukan Laut dan kawan-kawannya sangat buruk. Dibangunkan oleh guyuran air es, hanya ditempatkan di ruangan yang tak layak untuk manusia, tongkat yang mengeluarkan lecutan listrik yang siap menghajar kepalanya, sebuah sepatu bergerigi yang siap menginjak mulutnya. 

Membayangkan bagaimana sosok Laut bisa bertahan dengan tubuh yang diselimuti luka, setumpuk darah kering pada bibir, wajah bengkak dan tulang hidung yang patah membuatnya sulit bernafas. Penyiksaan yang dialami Laut dan kawan-kawannya merupakan simbol tentang betapa rapuhnya masyarakat kecil di hadapan kekuasaan tak tercela.

Laut ditangkap tanpa diperbolehkan berbicara, bahkan tidak diperbolehkan untuk membela dirinya, sebagaimana hal itu menghilangkan asas praduga tak bersalah yang kita ketahui merupakan prinsip dasar bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan/atau dihadapkan ke pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap untuk menyatakan kesalahannya. 

BACA JUGA: 21 MEI 1998, SEJARAH, PERJUANGAN, KERINGAT DAN KENANGAN

Membaca Laut Bercerita adalah menelusuri lorong gelap hukum kita yang sering kali lebih menyerupai labirin tanpa ujung. 

Bagiku, Laut merupakan personifikasi dari ‘subjek hukum’ yang sengaja dihapus dari lembaran negara. Mereka adalah saksi hidup dan mati atas sebuah masa di saat hukum bukan menjadi pedoman, melainkan menjadi alat pukul untuk siapa saja yang berani menyalakan pelita nalar. 

Perjalanan dari tahun 1990 hingga hari ini terasa seperti sebuah antiklimaks yang getir. Kita memang telah membangun monumen demokrasi, namun sejarah mencatat bahwa pengakuan negara atas pelanggaran HAM berat masa lalu sering kali hanya berhenti di meja retorika, tanpa ada proses yudisial yang menyeret para dalang ke balik jeruji.

Hukum yang kita pelajari sebagai alat perlindungan, kini justru sering kali digunakan untuk memidana mereka yang kritis, menjadikan demokrasi kita seperti rumah yang tampak megah dari luar, namun pondasinya keropos oleh ketakutan yang terus diproduksi.

Tanpa suara-suara seperti Laut, hukum kita hanya akan menjadi tumpukan kertas kusam yang tak memiliki nyawa dan keadilan akan selamanya menjadi sajak yang antiklimaks. Menjanjikan fajar, namun selalu berakhir pada malam yang semakin kelam.

Dari Penulis

Terkaitrekomendasi
Artikel yang mirip-mirip

5 2 votes
Article Rating
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Dari Kategori

Klikhukum.id