TERIMAKASIH PAK, DOSBING YANG GOOD GOVERNANCE

Hai hai hai, kali ini aku mau cerita tentang dosen yaaang … hhhmmm, bisa dibilang dosen yang berkharisma. Sebelumnya aku akan mengklaim kalau aku adalah salah satu mahasiswa yang cukup beruntung di dunia ini, karena yang lain pada ngeluh soal dosen pembimbingnya yang sulit diajak kompromi alias killer, tapi itu tidak berlaku dikehidupanku brooo. 

Gimana nggak beruntung, sebagai mahasiswa Hukum Administrasi Negara, dosen pembimbing tesisku ini adalah salah satu pakar hukum administrasi negara favoritku sejak kuliah S-1 di FH UGM. Yaps, sekarang aku melanjutkan studi di pascasarjana FH UII tempat beliau mengajar, ini adalah salah satu alasanku kenapa melanjutkan kuliah di situ. (Demi apapun ini bukan promosi yaa, hahaha)

Siapapun yang mempelajari hukum administrasi negara, sudah bisa dipastikan mengenal beliau lewat karya atau bukunya. Buku karya beliau ini banyak banget, tapi menurutku buku yang paling berkesan dan paling sakti itu yang berjudul HUKUM ADMINISTRASI NEGARA. Karena buku ini menjadi referensi dosen-dosen mengajar, bahkan kata temenku yang berprofesi sebagai hakim, buku ini jadi buku saku para hakim PTUN. Ngeriiii kan? Mantep pokok e. Jadi buat yang lagi belajar hukum administrasi negara, fardhu ‘ain baca buku-buku beliau. 

Eeeh, malah belum menyebutkan nama dosennya yaa. Beliau adalah Bapak Dr.Ridwan, S.H., M.Hum. Di kalangan mahasiswa beliau dikenal sebagai dosen santuy dan nggak ribet. Beberapa kali beliau mengajar di kelas, aku semakin yakin menjadikan beliau sebagai dosen favorit, karena ternyata beliau ini mirip dengan Pak Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, hahahaha. Bukan itu maksudnya, tapi ternyata beliau ini juga mahir berbahasa Belanda. 

BACA JUGA: KISAH DARI MAHASISWA FH UII

Yang anak hukum pasti nggak asing kan denger Bahasa Belanda. Ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua. Waktu mengajar, beliau pernah cerita kalau tidak pernah kursus bahasa. Dulu semasa kuliah S2 di Unpad Universitas Pak Ahmad Dahlan Universitas Padjajaran, beliau sengaja nge-kos di tempat yang jauh dari keramaian biar tenang. Nah, diwaktu luangnya beliau membaca buku-buku hukum yang berbahasa Belanda, kemudian beliau menerjemahkan sendiri sampai akhirnya beliau mahir berbahasa Belanda. Sungguh menginspirasi bukan? 

Beda kan sama anak jaman sekarang ini, nyari kosnya di pusat kota yang penuh hingar bingar. Kalau ada waktu luang langsung deh, hangout dengan alasan me time-lah atau self-reward-lah. Halalalalah, mbok ya kebiasaannya Pak Ridwan itu lho dicontoh.

Karena dikenal sebagai dosen santuy, beliau ini menjadi rebutan para mahasiswa untuk jadi dosen pembimbing. Hal ini terbukti kalau kuota bimbingan beliau ini selalu full, makanya aku merasa jadi mahasiswa beruntung. Selama proses bimbingan tesis, beliau ini sangat sabar banget. Diajak diskusi ya hayuuuuk, peduli dan pengertian dengan mahasiswanya pula. 

Dan beliau nggak membatasi mahasiswanya untuk mengembangkan pendapatnya, tetapi tetap diarahkan biar nggak tersesat. Nih, ya kalau kita mengajukan pendapat terhadap suatu masalah, beliau biasanya menjawab “Yaaa, dicoba aja dulu, kalau seperti itu bisa nggak, bertentangan dengan aturan nggak.” Ibarat di dalam teori HAN, beliau ini memberikan kewenangan diskresi ke mahasiswanya. 

Diskresi yang dimaksud adalah keleluasaan berpikir, jadi ketika dihadapkan dengan permasalahan hukum ataupun drama tesis yang sekiranya menghambat proses penyelesaian tesis, mahasiswa menggunakan keleluasaan berpikir untuk menyelesaikannya.

Beliau ini juga terbuka ngasih informasi pada saat bimbingan, mau tanya apapun pasti dijawab. Jadi Pak Ridwan ini ternyata di dalam proses membimbing menerapkan salah satu prinsip Good Governance. Itu loh, keterbukaan informasi (ini salah satu materi kuliah yang diajarkan beliau, wehehe). 

Jadi, selama masa pandemi inikan bimbingan online, tapi beliau tetap fast respon setiap dihubungi. Ntah, via WA/SMS bahkan e-mail. Kalau denger dari cerita temen yang dapet pembimbing killer, boro-boro mau diskusi dan dapet informasi. Wong dihubungi hari ini bisa diresponnya bulan depan, mana kalau sekalinya ngerespon singkat-singkat lagi, hadeeeww. 

BACA JUGA: PEKERJAAN SIA-SIA MEMBUAT PEDOMAN INTERPRETASI UU ITE

Padahal kemudaham memperoleh informasi merupakan hak asasi yang diatur di dalam UUD NRI 1945 Pasal 27F kan. Pasal itu menjelaskan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Hahaha, nyambung nggak sih? Nyambunglah yaa, habisnya aku juga kesel kalau denger cerita tentang dosen killer pelit informasi. 

Tapi bagaimanapun tipe dosen pembimbingnya, kita tetap harus bersyukur. Dan aku bersyukur banget bisa dibimbing langsung sama pakar Hukum Administrasi Negara, Bapak Ridwan, S.H., M.Hum. 

Sebenernya masih banyak hal-hal menarik dari beliau ini, mungkin di lain artikel bisa aku ceritain lagi. Oh iya, lewat tulisan ini aku mau menyampaikan pesan terbuka untuk Pak Ridwan, “Suatu anugrah mendapatkan pembimbing seperti bapak (semoga bukan suatu musibah bagi bapak medapatkan anak bimbingan seperti saya, hehe bercanda ya pak). 

Terimakasih dan salam hormat karena telah memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran dan keterbukaan sampai tesis ini dapat terselesaikan dan akhirnya terselamatkan dari Drop Out. Semoga diberi kesehatan dan tetap menginspirasi untuk terus berkarya bagi pemuda-pemudi harapan bangsa. Aamiinn.”

Salam satu nusa, satu bangsa, satu bahasa~~~

One thought on “TERIMAKASIH PAK, DOSBING YANG GOOD GOVERNANCE

  1. Terimakasih Pak Ridwan yang sudah sangat sabar membimbing mahasiswa nya. Doa terbaik selalu buat bapak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik Hukum
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!