FAST FASHION, TREN PENGGANGGU KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Apa yang kalian pikirkan tentang fast fashion

Kalo bayangan sederhana saya sih, semacam trend fashion yang cepat banget gitu. 

Dari yang saya baca, fast fashion adalah metode desain, manufaktur dan pemasaran yang berfokus pada produksi pakaian dalam jumlah besar dengan cepat menggunakan bahan berkualitas buruk dan dijual dengan harga terjangkau. 

Konsep dari trend fast fashion ini adalah pakaian ready to wear yang mudah didapat dengan harga terjangkau. 

Pola perubahan trend yang terjadi di masyarakat cenderung lebih cepat khususnya di bidang fesyen akan mempengaruhi jumlah produksi industri fesyen menjadi berkali lipat lebih banyak. 

Itu bukan hal baik ya, karena malah bisa jadi malapetaka bagi lingkungan. Banyaknya pakaian yang tidak terpakai dari adanya fast fashion membuat pakaian bekas ini menjadi limbah bagi lingkungan. 

Selain itu, saya baca dari sumber fastcompany.com, industri pakaian menjadi industri kedua yang paling merusak lingkungan. 

Dampak yang terjadi dari adanya trend fast fashion ini telah banyak dirasakan oleh negara-negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. 

BACA JUGA: ATURAN THRIFTING, ORANG MISKIN DILARANG NGGAYA?

Banyak sekali kiriman baju bekas sisa fast fashion dari pasar Eropa dan Amerika masuk ke negara berkembang seperti Kenya, Ghana dan Tanzania dengan berkedok “Sumbangan amal.” 

Fast fashion banyak dipengaruhi oleh perilaku manusia itu sendiri, sebab fesyen sudah dianggap sebagai penanda status sosial saat ini. 

Masih gak percaya? 

Kalo gak percaya coba deh, perhatiin public figure kenamaan ibu kota. Mereka jarang terlihat  pake baju yang ‘sama’ kan. 

Karena apa? Ya, kalo mereka pake baju yang ‘sama,’ udah banyak netizen yang akan nyinyirin mereka. Wkwkwk. 

Balik ke pembahasan utama. Salah satu penyebab kerusakan lingkungan akibat industri fesyen adalah penggunaan bahan polyester. 

Bahkan ya, sejak adanya trend fast fashion ini penggunaan bahan polyester dua kali lipat lebih banyak. 

Emang, bahaya polyester apa? 

Gini, bahan polyester ini kan terbuat dari bahan bakar fosil ya guys, jadi penggunaan yang berlebihan bisa menyebabkan pemanasan global (suhu bumi meningkat). 

Dampak buruk lain dari fast fashion yang diproduksi secara massal adalah potensi limbah laut beracun yang tidak dapat diolah.

Limbah tekstil ini mengandung zat seperti timbal, merkuri dan arsenik yang sangat berbahaya bagi kehidupan perairan dan manusia.

Oh iya, pewarnaan tekstil konvensional juga melepaskan kandungan logam berat dan racun lainnya yang berdampak buruk bagi kesehatan biota air dan manusia.

Btw, dampak negatif dari industri fast fashion gak sampe situ aja. Ternyata industri fast fashion juga menggunakan air dengan jumlah yang besar. 

Yaaa, bayangkan saja untuk membuat satu buah kaos dan celana jeans membutuhkan air sebanyak 20.000 liter. 

Padahal kebutuhan akan air bersih saat krisis seperti ini sangat penting bagi manusia namun masyarakat harus rela bersaing dengan industri fesyen.

Banyak negara yang mengalami dampak buruk dari fast fashion, ambil contoh aja China. Sebagai produsen dan pasar produk tekstil terbesar di dunia, saat ini China sedang mengalami banyak banget masalah akibat adanya industri fast fashion

Mulai dari pencemaran limbah kimia, polusi udara dan pencemaran air minum di perumahan. Emang bener ya, kalo ada yang bilang “Trend Hari Ini adalah Sampah Kemudian Hari.” 

Ah, gak usah jauh-jauh deh. Buat kalian warganya Kang Emil, pasti tau kan yang namanya Sungai Citarum. 

Sungai Citarum sudah dilaporkan tercemar nih, sama limbah tekstil dari beberapa industri pakaian yang ada di sekitar Sungai Citarum sendiri. 

Miris sekali ya, melihat kesadaran dari pelaku industri yang masih kurang peduli dengan kebersihan Sungai Citarum. 

Sebenarnya Indonesia sudah punya Undang-undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009. 

UU ini udah mengatur bahwa industri yang sekiranya berpengaruh terhadap lingkungan wajib memiliki AMDAL. 

Hayo, pada tau nggak AMDAL itu apa? 

AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup) merupakan kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelanggaran usaha dan/atau kegiatan. 

Adanya aturan tentang perlindungan lingkungan ini dibuat sebagai upaya untuk menjaga kelestarian dari alam itu sendiri. 

Nah, sayangnya regulasi terkait kewajiban AMDAL ini gak dilakukan dengan baik oleh sebagian pelaku industri khususnya industri fesyen. 

BACA JUGA: KAMU PILIH BARANG ORI ATAU KW?

Dengan kata lain, penanganan limbah dari industri fesyen di Indonesia belum sepenuhnya berjalan sesuai aturan dalam UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Sebenernya yang salah siapa? Aturannya yang kurang pas atau emang para pelaku usahanya yang gak bener? 

Entahlah, urusan lingkungan hidup gini kayaknya emang susah-susah gampang diatur. 

Banyak banget kan, masalah dari adanya trend fast fashion ini. Belum lagi masalah yang kita hadapi dari trend-trend lainnya. 

Gak kebayang ngerinya, kalo hukum atau aturan yang berlaku nggak bisa ngasi kepastian kayak si doi. 

Kayaknya pemerintah perlu melakukan kajian lebih, terhadap aturan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup deh. 

Tapi gak cuma pemerintah aja sih,  masyarakat juga harus kerja keras buat menjaga kelestarian lingkungan dan isinya. 

Kita semua, masyarakat Indonesia, dituntut untuk lebih bertanggung jawab terhadap perilaku kita sendiri. 

Boleh-boleh aja kita ikutan trend, namanya juga anak muda. Tapi perlu diinget, ikutin tren yang sewajarnya. Yang sekiranya baik buat kesehatan lingkungan dan kesehatan dompet masing-masing. 
Sebaiknya kita juga nerapin gaya hidup slow fashion, selain kita mengurangi sampah fashion, kita juga bisa irit cuan. Lumayan kan, buat nongki atau bisa buat jalan-jalan sama doi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Klikhukum.id