“Masuk hukum aja deh, peluang kerjanya luas.”
Kalimat ini mungkin salah satu alasan populer yang mengantarkan ribuan mahasiswa ke fakultas hukum setiap tahunnya. Ketika ada yang sudah mantap pilih kedokteran, teknik atau psikologi, ada juga sebagian yang masih bengong sambil bertanya dalam hati, “Sebenernya aku ini mau jadi apa ya?”
Karena nggak menemukan jawaban, akhirnya pilihan jatuh pada hukum. Bukan karena punya cita-cita menjadi advokat, notaris, hakim atau pakar hukum tata negara. Tapi karena jurusan hukum dianggap cukup aman. Nggak terlalu banyak hitung-hitungan, terdengar bergengsi dan katanya sih, “Lulusannya bisa kerja di mana saja atau prospek kerjanya luas.”
Kalimat terakhir itu emang nggak sepenuhnya salah sih. Masalahnya, banyak orang hanya mendengar bagian, “Bisa kerja di mana saja,” tapi lupa bertanya, “Sebenarnya mau kerja sebagai apa?” Di sinilah awal mula persoalannya.
Ketika Fakultas Hukum Menjadi Tempat Pelarian
Nggak semua mahasiswa hukum masuk karena passion. Faktanya, cukup banyak yang masuk karena alasan-alasan yang terdengar familiar.
Ada yang karena mengikuti pilihan orang tua, gagal masuk jurusan impian, ikut teman, bahkan ada juga yang karena bingung menentukan masa depan.
Kalau dipikir-pikir, fakultas hukum sering dianggap sebagai jawaban paling aman ketika nggak tahu harus milih apa.
Padahal, memilih jurusan hanya karena bingung sama saja seperti naik bus tapi nggak lihat tujuan akhirnya. Emang sih, busnya jalan, tetapi belum tentu kan tujuannya ke tempat yang pengen kamu datangi?
BACA JUGA: TIPS MELAMAR KERJA: 5 HAL YANG WAJIB DIHINDARI FRESH GRADUATE
Ekspektasi Vs Realita
Salah satu masalah terbesar adalah kesenjangan antara ekspektasi dan realita.
Banyak mahasiswa membayangkan dunia hukum itu kayak yang di film atau drakor. Pengacara yang berdebat di ruang sidang, hakim yang disegani atau profesi dengan penghasilan yang menjanjikan. Realitanya jauh lebih kompleks.
Kalau mau jadi pengacara nggak cukup dengan modal gelar sarjana hukum doang. Jadi notaris pun juga harus melanjutkan pendidikan lagi. Mau jadi hakim atau jaksa? Ya, harus lewat proses seleksi yang ketat. Bahkan untuk jadi legal officer perusahaan pun dibutuhkan skill tambahan yang tidak selalu diajarkan di ruang kuliah atau bermodalkan IPK.
Ibaratnya, gelar SH itu kayak entry ticket ke realita kehidupan. Tapi sayangnya, banyak mahasiswa yang sadar hal itu ketika masa kuliah hampir selesai.
Ketika Wisuda Nggak Menjawab Pertanyaan
Wisuda sering dianggap sebagai momen keberhasilan. Tapi bagi sebagian lulusan hukum, wisuda justru jadi awal dari sebuah kebingungan.
Hal ini terjadi karena mereka berhasil menyelesaikan studi, tetapi belum memahami profesi mana yang ingin ditekuni. Mereka mengenal berbagai cabang ilmu hukum, tapi belum menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan minat dan kemampuannya. Bukan karena mereka malas atau nggak pintar. Tapi karena sejak awal mereka memang memilih jurusan tanpa memahami profesi hukum yang ingin dituju.
Akibatnya, banyak lulusan hukum yang punya gelar, tapi belum punya peta karir yang jelas.
BACA JUGA: MAU CEPET LULUS? INI 2 METODE PENELITIAN HUKUM YANG WAJIB KAMU KUASAI!
Salah Jurusan dan Fenomena Pengangguran Terdidik
Tentu saja nggak adil kalau semua pengangguran sarjana hukum disebut sebagai korban salah jurusan. Kondisi ekonomi, lapangan pekerjaan dan persaingan dunia kerja juga punya pengaruh terhadap hal ini. Tapi sulit dipungkiri kalau salah jurusan bisa memperbesar risiko tersebut.
Fenomena ini nggak bisa dianggap remeh, data BPS yang dipublish pada Januari 2026 menunjukkan bahwa dari 7,24 juta pengangguran terbuka di Indonesia 9,70 % Tingkat Pengangguran Terbuka didominasi oleh lulusan Diploma (D I, D II, D III) dan Universitas (D IV, S1, S2, Dr). Lebih lanjut dilansir dari kompas disebutkan bahwa berdasarkan laporan Federal Reserve Bank of New York pada tahun 2025 menunjukkan jurusan hukum termasuk 10 besar jurusan penyebab pengangguran paling tinggi di dunia dengan jumlah 5,5%.
Meskipun penyebabnya beragam, ketidaksesuaian antara pendidikan, minat dan arah karir menjadi salah satu faktor yang sering dibahas dalam berbagai penelitian.
Ketika seseorang belajar di bidang yang sebenarnya nggak diminati, biasanya motivasi untuk mengembangkan diri juga ikut menurun. Mereka kuliah sekadar mengejar kelulusan, bukan membangun kompetensi yang relevan dengan profesi tertentu.
Akibatnya, setelah wisuda mereka harus menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu mencari pekerjaan dan mencari jati diri. Faktanya, dunia kerja lebih menyukai kandidat yang memiliki arah karir yang jelas dibanding mereka yang masih bingung menentukan tujuan.
BACA JUGA: 5 HAL YANG HARUS KAMU LAKUKAN SETELAH MENGAMBIL JURUSAN HUKUM
Mengenal Profesi Hukum Sejak Awal Itu Penting
Karena itu, sebelum memilih fakultas hukum, calon mahasiswa sebaiknya tidak hanya bertanya:
“Apakah jurusan ini punya prospek kerja yang bagus?”
Tetapi juga:
“Profesi hukum apa yang ingin saya jalani?”
Mengenal profesi advokat, hakim, jaksa, notaris, mediator, legal officer, akademisi, hingga konsultan hukum sejak awal akan membantu mahasiswa memahami tujuan yang ingin dicapai.
Nggak sedikit sarjana hukum yang akhirnya melamar pekerjaan tanpa benar-benar memahami posisi yang dilamar. Bukan karena mereka tidak kompeten, tapi karena selama kuliah mereka nggak pernah membangun arah profesi yang jelas. Akibatnya, gelar diperoleh, tapi identitas profesional belum terbentuk.
Ketika tujuan karir sudah jelas, proses kuliah bukan lagi sekedar mengejar nilai atau gelar. Tapi menjadi sarana untuk mempersiapkan diri menuju profesi yang memang diinginkan.
Pada akhirnya, salah jurusan bukan cuma membuat kuliah terasa membosankan. Tapi juga bisa membuat seseorang lulus tanpa memahami arah profesi yang diinginkan. Gelar memang tetap diperoleh, tapi arah masa depan masih belum jelas karena nggak mempersiapkan dari awal.
Dan dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, kebingungan semacam itu seringkali jauh lebih mahal daripada biaya kuliah yang sudah dikeluarkan selama kurang lebih empat tahun.
Nah buat kamu yang masih bingung dengan arah karir, better buat kenali diri dulu, biar enak nentuin tujuan kariernya mau kemana. Supaya lebih mudah, main ke website Jenjang dulu yuk, siapa tau dapet jawabannya.


