PENTINGNYA SOCIAL DISTANCING

4 menit

Hari ini saya harus menyelesaikan misi membela hak-hak seorang terdakwa di Pengadilan Negeri Sleman. Sebuah amanat yang harus saya jalankan dalam kondisi apapun. Tidak peduli hujan, panas, apalagi corona. Bagi kami, hukum harus ditegakkan meskipun langit runtuh sebagaimana sumpah dan janji yang telah diucapkan di bawah kitab suci, di hadapan Tuhan Yang Maha Agung.

Sekitar pukul 10 pagi, saya sudah menginjakkan kaki saya di gedung PN Sleman. Sebelum masuk gedung, seperti biasa, saya selalu mengucapkan salam bersamaan dengan rapalan doa yang diucapkan dalam hati. Tapi, untuk hari ini rapalan doa saya tambahkan dengan kalimat,” Ya Allah dalam kondisi darurat corona ini, ijinkan hamba untuk menunaikan sumpah dan janji hamba sebagai penegak hukum sebagai seorang pembela.” Terus saya tutup dengan sholawat.

Begitu masuk gedung, saya menyaksikan pemandangan yang agak berbeda dari hari-hari biasanya. Saya lihat, di tiap-tiap meja pelayanan terdapat satu botol hand sanitizer. Kursi-kursinya pada disilangin pertanda nggak boleh didudukin.

Petugas cleaning service yang biasa kerja sebelum pengunjung datang, juga rutin ngelapin perkakas yang disentuh sama pengunjung, seperti kursi, meja, kamar mandi, dan yang paling sering banget dilap adalah gagang pintu. Ya wajarlah, setiap orang yang keluar masuk pasti megang gagang pintu. Ya kan.

BACA JUGA: SANKSI RS MENOLAK PASIEN CORONA

Securitynya juga patroli keliling. Mereka muter-muter buat ingetin orang-orang biar gak duduk dikursi yang sudah ditandai, ingetin buat rutin cuci tangan, sama membubarkan kerumanan orang-orang. Sayangnya, yang dibubarin pada ngerasa jagoan neon, mereka bubar tapi dengan gaya dan muka yang nyebelin.

Hais, gaya orang-orang ini bikin saya mangkel, jengkel, dan pengen banget misuh. Tapi, begitu teringat ocehannya dr. Tirta di instagram saya malah ketawa sendiri. Saya inget beliau bilang gini, “Cuman, warga Indonesia juga santuy. Kenapa nggak santuy? Karena corona masih bisa liburan. Bro corona bro, ah rilex, liburan dulu boskuh. Hebat, tapi campur goblok, Elu semua itu disuruh membatasi konektivitas, supaya corona itu nggak nyebar.”

Biarlah kemarahan saya diwakili langsung sama ahlinya, kalo saya kan disumpah jadi pengacara, kalo dr. Tirta disumpah jadi dokter. Kalo mau ngomongin virus corona pastinya saya makmum beliau. Namanya juga makmum, sudah pasti saya sepakat 100 % fatwa imam.

Bisa jadi orang-orang yang tadi dongkol ditegur sama pak security mempunyai anggapan, “emangnya elu dokter, pake ngatur-ngatur kita.” Bisa juga mereka ngerasa imunnya lebih kebal dari corona. Ya wes, anggaplah kon kebal ambek virus iku. Ning, kon yo kudune meker, anak bojomu iku kebal opo gak? Ojo muk peker awakmu dewe, pekerno keluargamu ndes.

Jadi, come on. Jangan egois mikirin diri sendirilah. Cuk, tenaga medis kita itu terbatas, nggak kayak kuba yang punya perbandingan tenaga medisnya 1:25. Asal loe tahu, informasi dari detik.com bilang kalo jumlah dokter Indonesia cuma ada 160-an ribu orang. Banyak? Iya kalo kamu bandingin sama Singapura. Lha ini Indonesia je, berpenduduk 250 juta orang. Tinggal kamu bagi aja 250.000.000/160.000, dengan angka segitu, punya perbandingannya 1 orang dokter menangani 1562 orang. Belum lagi kalo kita ngomongin tentang kapasitas rumah sakit, mblenger dab!

Saya sebagai penegak hukum mau bilang, kalo kamu nggak nurut sama kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial, itu sama aja kamu nggak nurut sama perintah konstitusi Pasal 28A UUD 1945 mengamanatkan bahwa “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.” Kelakuanmu itu, mengancam keselamatan orang lain tau!!

BACA JUGA: AKIBAT HUKUM MENINGGALNYA SESEORANG

Iya emang bener, kebebasanmu buat bersyarikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat juga diatur dalam konstitusi. Tapi inget, berkumpulnya kamu di tengah wabah virus corona ini merugikan orang banyak. Ada hak hidup orang yang mesti didahulukan. Marcus Tullius Cicero filsuf jaman romawi pernah bilang, keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi “Salus Populi Suprema Lex Esto.”

Kita juga mesti berfikir, virus corona ini nggak cuman sekedar peristiwa medis. Lebih dari itu, corona mengancam eksistensi Indonesia sebagai Negara yang berdaulat, itu artinya corona adalah ancaman serius buat kita semua. Kalo kita nggak bantu pemerintah, kita bakalan susah cari makan, orang di rumah bisa mati kelaparan.

Mungkin banyak yang belom tahu kalo suku Aztec dan Maya di Amerika itu hancur karena wabah cacar air yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster. Virus yang bersarang dalam tubuh seorang budak bernama Francisco De Eguia. Singkat cerita, hanya dalam waktu 9 bulan virus ini berhasil meluluhlantakkan populasi orang meksiko yang tadinya 22 juta jiwa menjadi 14 juta jiwa. Belum lagi kalo kita bicara tentang pes atau yang lebih dikenal dengan black death yang mewabah di Eropa, Asia, dan Afrika Utara.

Jadi tolong, ikuti permohonan pemerintah. Sekarang bukan waktunya buat pada kumpul-kumpul nggak jelas, ngemal, ngarisan, bikin pesta, etc lah. Kalo masih pada ngeyel, negara bisa saja mengambil tindakan tegas dengan berpegang pada prinsip kepentingan umum mengalahkan undang-undang, “Salus publica suprema lex.”

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!