NIAT CURHAT HARGA MAKANAN DI MALIOBORO, PENGGUNGGAH TERANCAM BUI

Sebelum heboh berita Mas Abdee Slank yang diangkat jadi Komisaris Telkom, medsos rame dengan video review mbak-mbak yang ‘ketuthuk’ harga saat makan pecel lele di kawasan Malioboro (katanya). Dalam VT-nya si mba nulis, makan pecel lele di Jogjakarta harganya gak masuk akal!!

Dalam video tersebut si mbak berjalan menyusuri jalan Malioboro sambil menyampaikan keluh kesahnya yang habis makan pecel lele di warung kaki lima, tapi harganya bintang lima. Sebagai wisatawan lokal, wajar aja kalo mbaknya sambat.

Viralnya video tersebut memancing komentar beragam dari netizen. Gak sedikit netizen yang punya pengalaman serupa dengan si mbaknya. Efeknya, lesehan di kawasan Malioboro auto dipandang mahal dan gak worth it untuk dikunjungi. 

Setelah diinvestigasi, ternyata teka-teki warung makan yang ‘nuthuk‘ harga seporsi pecel lele Rp37 ribu itu akhirnya terungkap. Jadi rupanya warung makanan tersebut gak berlokasi di Jalan Malioboro, melainkan di sebuah ruko rumah makan di Jalan Perwakilan, sisi timur Jalan Malioboro.

Nah, buntut viralnya video tersebut, membuat Paguyuban Lesehan Malam Malioboro akan menuntut jika si mbak yang membuat video tidak segera membuat klarifikasi. Yaaa, semacam ritual permintaan maaf ala netizen Indonesia, klarifikasi sama membuat pernyataan di atas meterai 10rb gitu. 

Dari kasus ini, kita bisa melihat cerminan kakunya hukum. Ketika ada salah satu pihak yang kurang berkenan, hukum digunakan sebagai senjata. Begini sederhananya. Setelah aku melihat video lengkap si mbak-nya, doi memang bilang saat itu berada di Jalan Malioboro. Doi juga bilang bahwa “Di pinggiran jalan ini banyak banget lesehan-lesehan yang harganya di luar nalar.”

Nah, ternyata lokasi warung pecel lele yang dimaksud si mbak-nya berada di Jalan Perwakilan atau sirip Malioboro. Penjual pecel lele tersebut berada di kawasan pertokoan selatan Kantor DPRD DIY. Kalo menurut Mantri Pamong Praja Kemantren Danurejan Bambang Endro Wibowo, lokasi tempat makan yang viral itu tidak termasuk sebagai pedagang kaki lima (PKL).

Di sini lah, aku bisa bilang mbak-nya kepleset dalam menyampaikan informasi. Terkait informasi lokasi yang ternyata tidak berada di kawasan Malioboro, seharusnya bisa dimaklumi. Yah, namanya juga wisatawan (yang emang bukan penduduk Jogja). Mana paham juga batas-batas wilayah secara detail, kan emang lokasinya di sekitaran Malioboro.

Jadi bisa dibilang bahwa video si mba mengandung misinformasi. Misinformasi itu maksudnya adalah informasi salah, tidak akurat dan biasanya tersebar luas ke orang lain meski tidak ada niat untuk mengelabui orang lain.

Selanjutnya kalo emang benar, tempat mbaknya makan pecel lele bukan di warung lesehan, melainkan di sebuah rumah makan atau restoran. Nahh, ini yang bikin blunder banget. 

Kenapa blunder? 

Ya, karena dalam videonya si mba bilang “Di pinggiran jalan ini (Malioboro) banyak banget lesehan yang harganya di luar nalar,” padahal pengalaman mbaknya ketuthuk harga pecel lele terjadi di sebuah rumah makan atau restoran yang tidak masuk dalam kategori lesehan atau pedagang kaki lima (PKL) dan lokasinya juga tidak berada di Jalan Malioboro.

Nah, inilah alasan yang secara legal formal bisa digunakan oleh Paguyuban Lesehan Malam Malioboro. Setidaknya Paguyuban Lesehan Malam Malioboro bisa menjerat si mbanya dengan Pasal 27 Ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2016 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. 

Pasal 27 Ayat (3) UU ITE bilang “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” 

Ancaman hukumnya juga lumayan gaes, pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Ampun, deehhhhhh.

Tapi apakah tindakan hukum perlu untuk kasus seperti ini? Apakah mbaknya perlu dibui karena sudah membuat video yang mengandung misinformasi? 

Inilah yang aku bilang bahwa kasus ini menjadi cerminan dari kakunya hukum. Pas aja si mbaknya apes, curhat terancam bui. Padahal sebagai warga Jogja, udah jadi rahasia umum kalo kawasan-kawasan tertentu di Jogja harga makanan emang lebih mahal. Yaaa, kita tau sama tau lah standar harga makanan di sekitar jalan Malioboro. Ya kan? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik Hukum
error: Maaf, tapi ga ada copas-copas!