homeEventsFESTAYA VOL. IV: KETIKA BUDAYA NTT MELAWAN STEREOTIP DENGAN...

FESTAYA VOL. IV: KETIKA BUDAYA NTT MELAWAN STEREOTIP DENGAN CARA YANG ELEGAN

“Jangan menilai buku dari sampulnya.” 

Kalimat itu mungkin terdengar klise. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang yang justru menilai seseorang dari asal daerahnya.

Di Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai Kota Pelajar dan rumah bagi mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, keberagaman seharusnya menjadi kekuatan. Sayangnya, di tengah semangat kebhinekaan tersebut, stereotip terhadap kelompok tertentu masih kerap muncul. Salah satunya adalah stigma negatif yang sering dilekatkan kepada mahasiswa dan masyarakat asal Indonesia Timur.

Padahal, berbagai konflik atau gesekan sosial yang pernah terjadi tidak bisa begitu saja disederhanakan menjadi persoalan etnis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konflik sosial lahir dari persoalan yang jauh lebih kompleks, mulai dari kesalahpahaman budaya, stigma sosial, hingga faktor ekonomi dan lingkungan sosial.

Karena itulah, upaya membangun ruang dialog antar budaya menjadi semakin penting. Salah satu langkah nyata tersebut kembali dilakukan oleh Komunitas Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Universitas Atma Jaya Yogyakarta (Komantta UAJY) melalui penyelenggaraan Festival Budaya Nusa Tenggara Timur atau FESTAYA Volume IV.

Festival yang kini memasuki tahun penyelenggaraan keempat ini hadir dengan mengusung semangat persatuan, keberagaman dan apresiasi budaya 

FESTAYA bukan sekadar panggung hiburan. Festival ini menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk saling memahami dan menghargai perbedaan.

Melalui beragam penampilan seni tradisional, tarian daerah, musik khas Nusa Tenggara Timur, pameran budaya, hingga sajian kuliner tradisional, masyarakat diajak melihat Indonesia Timur dari perspektif yang berbeda. Bukan dari potongan video viral, bukan dari kabar konflik yang sesekali muncul di media sosial, melainkan langsung dari kekayaan budaya dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakatnya.

Ketua Panitia FESTAYA Volume IV, Charlos Badeng (20), mengatakan bahwa festival ini lahir dari keinginan untuk memperkenalkan budaya NTT sekaligus menghapus stigma yang selama ini masih melekat terhadap mahasiswa Indonesia Timur, khususnya di Yogyakarta.

“Seringkali orang hanya mengenal kelompok tertentu dari berita konflik atau stereotip yang beredar. Padahal di balik itu ada budaya, nilai kekeluargaan, solidaritas dan berbagai hal positif yang perlu diketahui bersama. Dari keresahan ini FESTAYA hadir sebagai bentuk implementasi nilai positif dan bermaksud mengubah stigma masyarakat kepada mahasiswa Timur,” ujarnya, Senin (1/6/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan melawan stereotip tidak selalu harus dilakukan melalui perdebatan. Kadang, memperlihatkan budaya, memperkenalkan tradisi dan membuka ruang perjumpaan justru menjadi cara yang lebih efektif untuk mengikis prasangka.

Dari perspektif hukum dan hak asasi manusia, setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum dan berhak memperoleh perlakuan yang setara tanpa diskriminasi. Prinsip tersebut tercermin dalam Pasal 28D Ayat (1) dan Pasal 28I Ayat (2) UUD 1945 yang menjamin perlindungan terhadap setiap warga negara dari perlakuan diskriminatif.

Karena itu, stereotip yang berkembang terhadap kelompok masyarakat tertentu sesungguhnya bertentangan dengan semangat konstitusi Indonesia yang menjunjung persatuan dalam keberagaman.

Di era media sosial saat ini, prasangka sering kali menyebar lebih cepat daripada fakta. Satu video berdurasi beberapa detik bisa membentuk opini terhadap satu kelompok masyarakat yang jumlahnya jutaan orang. Padahal, tidak adil menilai seluruh komunitas berdasarkan tindakan segelintir individu.

FESTAYA hadir untuk mengingatkan bahwa keberagaman bukan ancaman. Justru keberagaman adalah kekayaan yang membuat Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang besar.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan kampus, tetapi juga sebagai agen budaya yang aktif memperkenalkan nilai-nilai persaudaraan, solidaritas dan kebersamaan kepada masyarakat luas.

Pada akhirnya, tujuan terbesar dari FESTAYA bukan hanya membuat pengunjung menikmati tarian atau mencicipi makanan khas NTT. Lebih dari itu, festival ini mengajak kita untuk melihat sesama manusia tanpa kacamata prasangka.

Sebab ketika kita mulai mengenal satu sama lain, stereotip perlahan kehilangan tempatnya. Dan ketika budaya menjadi jembatan, perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami.

Untuk informasi selengkapnya dapat diakses di Instagram festayakomantta yah! 

Dari Penulis

Terkaitrekomendasi
Artikel yang mirip-mirip

4.5 4 votes
Article Rating
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Dari Kategori

Klikhukum.id