HARAPAN GEN-Z UNTUK PRESIDEN SELANJUTNYA

Hello, precious people!

Tak terasa kita hampir masuk ke pertengahan tahun 2023. Hmm, menjelang tahun 2024 akan banyak hal yang telah terjadi, terutama euforia pesta demokrasi terbesar di Indonesia yakni pemilihan umum alias pemilu.

Kita sudah melihat deklarasi bakal calon presiden dari berbagai partai politik, mulai dari Pak Prabowo Subianto, Anies Baswedan hingga Pakde Ganjar Pranowo. Berbagai koalisi oposisi juga sudah mulai terbentuk. Ya, bisa dipastikan kalau mereka ingin melawan pertahanan sekarang yang diisi oleh banteng merah.    

Entahlah, sebagai bocah kemarin sore, gua melihat fenomena ini sebagai ‘keniscayaan’ alias sesuatu yang mutlak akan terjadi. Pergantian pemimpin itu hal yang wajar di negara yang (katanya) berlandaskan hukum dan demokrasi.

Dasar hukumnya ada dalam Pasal 7 Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.”

BACA JUGA: HARAPAN DI PEMILU 2024, TETAP ADA SISTEM PROPORSIONAL TERBUKA

Jujurly, tahun 2024 akan menjadi pengalaman pertama para Gen-Z untuk memilih calon presiden di negeri ini. Tentunya banyak harapan kami untuk hal ini. 

Pertama kami ingin presiden yang bisa membuat kabinetnya nggak neko-neko. Muak pak, lihat menteri-menterimu itu korupsi. Sudah cukup juga melihat elitis pegawai kementerian yang malah nggak bayar pajak. Oke, presiden kita bersih, tapi untuk apa juga ‘tangan kanannya’ korup.

Yang masih anget nih, Pakde G Plate  ditetapkan tersangka oleh kejaksaan agung. Terlepas dari unsur politisnya, fenomena ini cukup membuat ‘makjleb’ buat anak kemarin sore ini pak-buk. Kemarin kek ‘ksatria’ banget negakin PP PSE. Taunya…. Ah,  sudahlah. Mungkin kebahagiaan beliau adalah maling uang kami.

Bahkan ada yang lebih aneh. Tuh, beliau yang duduk di Senayan. Masak iya, korupsi tipis-tipis kok, nggak jadi masalah. Hadeh, miris! Legislatif tapi pikirannya primitif gitu sih, pak.

Kedua, kami ingin presiden yang bisa membuat sistem yang menguntungkan orang berintegritas. Gua, sebagai orang yang belum punya titel sarjana kayak bapak-ibu pejabat, ingin menanyakan satu hal. “Mengapa integritas selalu bertemankan kesusahan dan kemelaratan bahkan kemiskinan?”

Bisa nggak, kita buat kondisi jika jujur malah dapet uang banyak.  Kalau patuh aturan dapat jabatan dan karir yang baik. Jika nurut sama atasan, eh, maksudnya nurut sama aturan akan dapat perlindungan. Keknya, masih butuh waktu 100 tahun lagi deh.

Fakta kalau orang jujur di negeri yang katanya menjunjung tinggi hukum ini, posisinya malah nggak aman, terancam, dikejar-kejar, bahkan dilenyapkan. Idealisnya kita mau nggak ada pungli serta korupsi lagi. Lah, giliran orang menolak disogok malah kalian ancam-ancam keluarganya dengan bekingan jenderal-jenderal. Sadar nggak sih, kalau itu yang membuat orang takut jujur?

BACA JUGA: SECERCAH HARAPAN PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA

Di negara lain, jujur itu bareminimum alias sesuatu minimal yang harusnya ada di diri manusia. Tapi di Indonesia, justru jujur itu ‘hebat!’ Saking susahnya orang buat jujur. Padahal kalau dari sudut pandang filsafat, slogan ‘jujur itu hebat’ terdengar sebagai suatu hinaan. Mengapa? Yah, karena itu hal dasar yang setiap manusia punya. Nggak mau terlalu gua bahas, terlalu dalem nantinya.

Ketiga, sejahterakanlah aparat penegak hukum kalian. Bisa dibilang nyogok jaksa, menyuap hakim, ngiming-ngimingi pengacara, itu kebiasaan di negeri ini. Entahlah pak, mungkin dari segi ekonomi mereka merasa kurang. Naikkan aja gajinya biar keinginan mereka itu hilang karena sudah terpenuhi kebutuhannya.

Okelah, nggak semua orang itu memang baik. Tapi jadilah maling yang bertanggung jawab. Sudah korup, terus minta hukuman diperingan lagi. Kan bajigur. Senyum-senyum pula di kamera. Hahaha.

Mungkin yang gua sampaikan itu masih sangat idealis ya. Maklum, gua masih anak ingusan yang mau menerawang gelapnya dunia orang-orang dewasa. Namun, itu dari lubuk hati yang paling dalam. Karena muak dengan kampanye anti korupsi tapi kalian sendiri yang blunder korupsi rame-rame.

Gua jadi ngeri anying. Mending lu, pada tobat dah. 

Well that’s all from me, see you in the next article! *kalo gua nggak didatengin akang bakso, artikel ini akan berlanjut.

MEDSOS

ARTIKEL TERKAIT

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DARI KATEGORI

Klikhukum.id