KURSINYA PANAS GAES!

  • 1
    Share

Power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely (kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan dan kekuasaan mutlak pasti dipersalahgunakan). Begitulah Lord Acton berabad-abad silam telah mengatakan, yang hingga hari ini tidak ada satupun ahli tata negara membantah pernyataan Acton tersebut.

Apa yang dikatakan Acton tentang kekuasaan (power) merupakan gambaran nyata akan psikologi kekuasaan yang erat menjurus pada abuse of power. Ya, penyalahgunaan kekuasaan dari sang penguasa. And that’s true.

Penyalahgunaan kekuasaan merupakan bab lama dalam kajian politik dan hukum tata negara.  Para ahli telah lama mencari cara bagaimana mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Para sarjana hukum tata negara udah paham banget tentang satu teori pembatasan kekuasaan, yaitu checks and balances. Coba tanya kang Yono, pasti paham betul lah tentang teori itu.

Dalam satu diskusi saya bersama kang Yono dan para predator Rumah Hukum, sembari menunggu buka puasa, kang Yono menceritakan pengalamannya ketika mengikuti suatu seminar tentang pembatasan kekuasaan.

Kata kang Yono, ada seorang pembicara yang merupakan ahli tata negara menceritakan pengalamannya ketika melakukan penelitian untuk disertasinya. Beliau bercerita di depan peserta seminar, kalau mantan Presiden-presiden di Indonesia itu adalah orang-orang hebat dan sudah barang tentu orang-orang baik. Termasuk Soeharto yang 32 tahun berkuasa dan dijatuhkan oleh mahasiswa.

Kang Yono yang seorang mantan aktifis 98 jelas gak percaya dong. Apa lagi bicara Soeharto. Gile aja, reformasi berdarah-darah untuk menjatuhkan Soeharto, eh dengan santainya tuh pembicara bilang Soeharto orang hebat.

Ya sebenarnya hebat sih, 32 tahun berkuasa, apa gak hebat?

Sambil menahan rasa ingin interupsi karena perkataan si pembicara, kang Yono dengan sabar dan seksama mendengarkan lanjutan cerita si pembicara. Dalam benaknya, Kang Yono bertanya di mana letak Soeharto itu orang hebat?

Si pembicara melanjutkan ceritanya. Katanya, Soeharto itu jelas orang baik. Saya temukan itu dari SK pengangkatan pertama Soeharto. Ketika saya sedang melakukan penelitian untuk disertasi, saya menemukan fakta bahwa ketika Soekarno jatuh, elit politik baik dari sipil maupun tentara pada saat  itu meminta Soeharto untuk segera menjadi Presiden.  Tapi apa kata Soeharto? dengan tegas Soeharto menolak, dan mengatakan jika Soekarno itu mau berubah, maka dialah sebaik-baiknya Presiden Indonesia.     

Oleh karena desakan demi desakan terus dateng bertubi-tubi, dan tampuk tertinggi pemerintahan tidak boleh kosong, maka akhirnya Soeharto pun bersedia diangkat jadi presiden, tapi dengan satu catatan, yaitu Soeharto meminta kepada MPR kala itu, kalau SK pengangkatannya bukanlah sebagai presiden, tetapi sebagai pejabat presiden. Begitulah cerita si pembicara kepada seluruh peserta seminar.

Azan maghrib pun tiba, tanpa ada pertanyaan kepada kang Yono yang sudah bercerita cukup panjang, para predator langsung menyeruput teh anget dan menyantap gorengan. Gak lupa nyari korek dan ngembat rokok. Alhamdulillah, hilang sudah dahaga menahan lapar dan haus sejak subuh hingga maghrib. Celetuk salah seorang predator garis 2 piring.

Sembari menikmati hidangan buka puasa dan tentunya ngudud, kang Yono pun melanjutkan cerita.

Kekuasaan itu jahat katanya. Kenapa? karena kursinya teramat panas. Begitu kata Kang Yono membuka kembali diskusi.

Lihat SK pengangkatan Soeharto sebagai presiden, lanjut cerita kang Yono. Si pembicara menceritakan kalau Soeharto ternyata meminta kepada MPR untuk diangkat sebagai presiden sebelum dilaksanakannya Pemilu. Rentang waktunya sejak SK pengangkatan Soeharto sebagai pejabat presiden sampai dengan diangkat menjadi presiden oleh MPR adalah 1 tahun. Para hadirin silahkan cek TAP MPR pengangkatan Soeharto sebagai pejabat presiden. Dalam TAP MPR tersebut terdapat ketentuan yang berbunyi “Hingga dipilihnya presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilihan Umum”. Begitu kata Kang Yono menirukan si Pembicara.

Sontak para predator yang minim wawasan ini bengong sambil menggeleng-gelengkan kepala. Salah seorang predator yang kalau makan dengan porsi minta ampun langsung nyeletuk “Panas emang tuh barang”. Lalu, bagaimana dengan Soekarno? Kata sampean tadi kang, Soekarno itu juga orang baik, tapi kemudian jahat? Soekarno loh kang? Gak main-main, bisa kena pencemaran nama baik bilang Soekarno itu jahat. Founding Father loh itu.

Kang Yono sambil senyum dan menghisap ududnya, menjawab “Lek apik ki Soekarno ora menjarakan sahabat-sahabatnya sing ora sejalan pemikirannya”. Kang Yono kemudian melanjutkan ceritanya. Pasca Dekrit Presiden 5 juli 1959, Soekarno menjadi begitu a buse of power. Sutan Syahrir, Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer dipenjarakan semua oleh Soekarno hanya karena berbeda pandangan. Itulah fakta yang terjadi, apa bisa kita bilang bahwa Soekarno itu baik ketika memenjarakan sahabat-sahabatnya? Tanya Kang Yono.

Lalu bagaimana soal pembatasan kekuasaan itu  sendiri? Tanya seorang predator garis 2 piring.

Kang Yono yang mendalami tata negara tapi belum mau S2, dengan yakin menjelaskan, teori mengenai pembatasan kekuasaan sebenarnya sudah sejak lama digagas oleh para ahli. Simak saja bukunya si empunya demokrasi, Plato. Dalam bukunya yang ke 3, Plato sudah tidak lagi bercerita tentang demokrasi. Plato dalam bukunya tersebut mengatakan ‘Nomoi’. Hukum.

Hukum adalah pembatasan terhadap kekuasaan dalam paham demokrasi.  Itulah mengapa dalam kajian hukum tata negara, demokrasi dan hukum diibaratkan sebagai dua sisi mata uang. Demokrasi tanpa hukum adalah kekacauan, dan hukum tanpa demokrasi adalah otoriter.

Begitulah Kang Yono mengakhiri diskusi dengan mencecak rokoknya di asbak, dan mlengos pergi tanpa basa-basi.

Semprul, ini mah maksudnya gua disuruh lanjutin nguliahin para predator. Sompret!

Dan benar saja, salah seorang predator yang masih malu-malu bertanya, bagaimana sebenarnya konsep pembatasan kekuasaan itu dalam sistem presidensial seperti Indonesia?

Saya tidak langsung menjawab. Selama diskusi itu, saya hanya diam saja mendengarkan cerita kang Yono. Sambil senam jari, saya berpikir tentang satu hal mengenai arti pentingnya pembatasan kekuasaan. Setelah hampir sekitar 3 menit, saya dicolek oleh seorang predator, Mas, katanya.

Sontak saya menjawab, Seperti kata kang Yono, “Kursinya panas”.


  • 1
    Share